Diplomat hingga Akademisi Serukan Reformasi Sistem Perdamaian Dunia

Dalam menghadapi tantangan dunia, penting dilakukan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas dunia.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 13 November 2025, 18:35 WIB
Dalam menghadapi tantangan dunia, penting dilakukan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas dunia. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Nasional (UNAS) menggelar International Conference on Global Issues (ICGI) 2025 di Auditorium UNAS, Jakarta, Rabu 12 November 2025.

Forum internasional ini mempertemukan akademisi, diplomat, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk membahas dinamika geopolitik global serta mencari solusi kolaboratif demi mewujudkan perdamaian dunia.

BACA JUGA: Paus Leo XIV ke Afrika, Mulai Misi Damai di Tengah Ancaman Trump

Mengusung tema 'Future of World: Making Peace Against All Odds', konferensi menghadirkan beragam diskusi lintas bidang, mulai dari keamanan global, diplomasi internasional, hingga inovasi pembangunan perdamaian.

Menurut Ketua Pelaksana ICGI 2025 Robi Nurhadi, dalam menghadapi tantangan dunia, penting dilakukan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas dunia.

"Saat ini banyak tantangan dan ketegangan politik yang berpotensi memicu konflik besar di masa depan. Melalui forum ini, kita berupaya membangun kembali semangat perdamaian dengan melibatkan para pemimpin, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat global," ujar Robi seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (13/11/2025).

Ia menambahkan, perdamaian bukan hanya tanggung jawab pemimpin negara. Termasuk juga UNAS yang berkomitmen menjadi jembatan dialog lintas budaya untuk dunia yang lebih damai.

"Perdamaian dunia juga menjadi tanggung jawab kita semua, akademisi, pelajar, media, dan masyarakat sipil," seru Robi.

Sementara itu, Guru Besar UNAS Yuddy Chrisnandi menegaskan pentingnya membangun perdamaian global melalui kolaborasi politik yang etis dan realistis.

"Dunia modern membutuhkan kolaborasi politik yang etis tanpa kehilangan identitas dan kedaulatan nasional," ucap Yuddy.

 

Dorong Reformasi Dewan Keamanan PBB

Penghalangan akses dan birokrasi ini jelas menghambat proses pemulihan dan memperpanjang penderitaan warga sipil Gaza. Tampak dalam foto, pengungsi Palestina berjalan di antara reruntuhan bangunan yang hancur di Khan Younis, Jalur Gaza, Sabtu 8 November 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Yuddy pun mendorong reformasi Dewan Keamanan PBB dan perlucutan senjata nuklir sebagai langkah konkret menuju perdamaian.

"Reformasi keanggotaan Dewan Keamanan PBB harus mencerminkan realitas global saat ini, bukan hanya dikuasai lima negara tetap," minta dia.

Sementara itu, Duta Besar Malaysia, Dato' Syed Hasrin menilai, perdamaian tidak akan tercapai tanpa keadilan dan kemanusiaan.

"Dunia menghadapi ancaman besar mulai dari perubahan iklim hingga senjata pemusnah massal. Namun, perdamaian masih mungkin dicapai jika kita berani memperjuangkannya," kata Dato.

Ia menyoroti kontribusi Malaysia dalam berbagai misi perdamaian dunia, termasuk di Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Dia mencatat, selama delapan dekade, Palestina menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak akan pernah lahir tanpa keadilan.

 

Keprihatinan Konflik Global

Meski demikian, sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober hingga 3 November 2025, PBB dan mitra-mitranya telah berhasil mengumpulkan lebih dari 37.000 ton bantuan dari pos-pos perlintasan Gaza. Tampak dalam foto, warga Palestina berbondong-bondong menuju truk yang mengangkut bantuan dari Program Pangan Dunia (WFP) saat truk-truk tersebut melintasi Deir al-Balah di Gaza Tengah, Sabtu, 8 November 2025. (AP Photo/Abdel Kareem Hana)

Sementara itu, Duta Besar Turki, Talip Küçükçan, mengungkapkan keprihatinan atas meningkatnya konflik global yang kini mencapai lebih dari 110 titik di dunia.

"Ketidakadilan, kemiskinan, dan hilangnya harapan adalah akar dari berbagai konflik global. Perdamaian tidak akan terwujud melalui perpecahan, tetapi lewat kerja sama antarperadaban," ucap Talip.

Ia juga menegaskan, perlunya reformasi sistem internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, agar lebih representatif terhadap realitas dunia modern.

"Turki percaya bahwa dunia lebih besar dari lima. Sudah saatnya PBB menjalankan reformasi yang nyata," tutur Talip.

Di penghujung acara, para pembicara sepakat bahwa perdamaian global hanya dapat terwujud melalui kolaborasi, dialog lintas budaya, dan komitmen bersama.

Sebagai informasi, melaluo ICGI 2025, UNAS ingin menunjukkan bahwa perdamaian bukan sekadar harapan, tetapi tanggung jawab kolektif yang harus diperjuangkan bersama.

Infografis Kecaman Pemimpin Dunia untuk Bom Bandara Kabul Afghanistan (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya