Liputan6.com, Jakarta Warna baru dalam film Indonesia disajikan film Keadilan: The Verdict yang mempertemukan Reza Rahadian, Rio Dewanto, Niken Anjani hingga Elang El Gibran. Dalam film ini, Elang El Gibran memang bukan tokoh utama namun jadi “sumbu ledak” film Keadilan.
Ini kali pertama Elang El Gibran berkolaborasi dengan sineas Yusron Fuadi dan Lee Chang Hee. Lee Chang Hee adalah sineas Korea. Namanya melambung bersama A Killer Paradox yang fenomenal.
Advertisement
“Waktu baca skripnya, mungkin aku enggak terlalu dalam (memahami) soal politik tapi aku enggak buta juga. Waktu itu, aku dekat sama isu-isu yang hampir mirip dengan film Keadilan ini,” kata Elang El Gibran ditemui di Epicentrum XXI Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Laporan khas Showbiz Liputan6.com kali ini merangkum 6 fakta film Keadilan: The Verdict. Diproduksi MD Pictures, JNC Media Grup, bareng Innikor Pictures, film ini siap menggedor bioskop Indonesia mulai 20 November 2025.
1. Tak Punya Alasan Menolak Naskah
Kali pertama membaca naskah film Keadilan hingga tuntas, Elang El Gibran menilai ini genre baru untuknya. Bahkan, film macam ini belum banyak diproduksi di Indonesia. Ia menyebut Keadilan bergenre courtroom thriller.
“Enggak banyak courtroom thriller (di Indonesia). Ini sangat fresh,” ujar Elang El Gibran. “Akhirnya, aku berpikir, enggak punya alasan untuk bilang enggak untuk film ini,” bintang film Guna-Guna Istri Muda menyambung.
2. Mendalami Kasus Kriminal Demi Dika
Dalam Keadilan, Elang El Gibran memerankan Dika anak orang kaya yang bersinggungan dengan kejahatan, sistem hukum yang dikorupsi, dan uang. Memerankan tokoh menyebalkan, Elang El Gibran tak diminta mengubah penampilan fisik. Namun, ada tugas lain.
“Saya diminta mencari referensi karakter secara bebas. Tidak ada permintaan khusus terkait look. Nonton film tertentu juga enggak, tapi mendalami beberapa kasus di Indonesia dan luar. Saya tidak menyorot detail kasus tapi mempelajari personality orang yang terlibat,” urainya.
3. Set Ruang Sidang 1:1
Syuting film Keadilan: The Verdict seluruhnya berada di Jakarta selama sekitar 30 hari. Bagian paling menantang justru saat syuting di ruang sidang itu sendiri. Elang El Gibran mengaku, ada banyak aspek yang bikin akting itu terasa begitu nyata.