Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melakukan kunjungan kerja ke Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya, Jawa Timur untuk meninjau langsung pelaksanaan tugas dan layanan yang diberikan Bea Cukai di salah satu simpul penting dalam arus perdagangan nasional.
Menkeu Purbaya mengamati secara saksama proses pemeriksaan fisik barang ekspor impor yang terjadi di longroom tempat pemeriksaan fisik barang ekspor impor di Pelabuhan Petikemas.
Advertisement
Selanjutnya, Menkeu mengunjungi Control Room Bea Cukai Tanjung Perak yang kini dilengkapi dengan alat pemindai kontainer berteknologi tinggi.
"Dengan teknologi ini, pemindaian kontainer dapat dilakukan lebih cepat dan akurat sehingga memperlancar arus logistik," tulis Purbaya dikutip dari instagram @menkeuri, Selasa (11/11/2025).
Menkeu juga meninjau Balai Laboratorium Bea dan Cukai Kelas II Surabaya, yang berperan penting dalam mengidentifikasi barang mengandung bahan kimia melalui pengujian laboratorium. Akurasi identifikasi ini menjadi kunci dalam memastikan pungutan negara dilakukan secara tepat sesuai ketentuan.
Adapun dalam kunjungan kerja ke Pelabuhan Tanjung Perak ini, Menkeu Purbaya didampingi oleh Direktur Jenderal Bea Cukai Djaka Budi Utama, dan jajarannya. Sidak ke Pelabuhan Tanjung Priok
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Posko Bea Cukai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Senin, 13 Oktober 2025 guna memastikan kinerja dan pengawasan petugas berjalan optimal di salah satu pintu utama arus barang impor-ekspor Indonesia.
Sidak dilakukan untuk memastikan kesesuaian data dokumen dengan isi fisik barang impor yang masuk ke Indonesia. Purbaya tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB dan langsung meninjau salah satu kontainer dari China. Dalam kesempatan itu, ia mendatangi petugas Bea Cukai yang sedang bertugas untuk melakukan pengecekan secara acak.
"Kita mau lihat random yang disini, dalemnya sama gak sama yang di dokumennya,” kata Purbaya di Posko Bea Cukai, Jakarta Utara, Senin, 13 Oktober 2025.
Akan Dilakukan Lebih Rutin
Ketika ditanya mengenai frekuensi sidak serupa pada masa mendatang, Purbaya menyebutkan, kegiatan pengawasan langsung ini akan dilakukan lebih sering.
“Kalau lagi enggak ada kerjaan. Tapi saya akan lebih rutin,” ujar Purbaya.
Sidak di Tanjung Priok ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Keuangan untuk memastikan tata kelola ekspor-impor berjalan sesuai ketentuan, sekaligus memperkuat sistem pengawasan di lapangan.
Menkeu Purbaya Mau Pasang AI Canggih di Bea Cukai, Ini Tujuannya
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencegah kebocoran di Bea Cukai. Tahap awal ditargetkan bisa selesai dalam 3 bulan, tetapi secara terintegrasi butuh waktu sekitar satu tahun.
Hal tersebut diungkap Purbaya usai menyambangi kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Fokusnya memeriksa kecanggihan sistem untuk mendeteksi praktik under-invoicing yang jadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.
"Enggak ada kendala, cuma saya pengen lihat seberapa canggih punya Bea Cukai. Bisa enggak saya optimalkan untuk tadi mengurangi yang dikritik Pak Presiden, under-invoicing," ungkap Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Under-invoicing merujuk pada praktik memasukkan nilai lebih rendah dari harga asli untuk mengurangi beban bea masuk ataupun pajak. Purbaya menyebut, sistem di Bea Cukai akan disempurnakan lagi dengan bantuan AI.
"Di situ sebenernya sudah cukup bagus tapi belum ke level di mana saya bisa secara online di situ aja monitor kapalnya under-invoicing, kapalnya under-invoicing, belum sampai sana karena AI-nya belum dikembangkan. Dalam 3 bulan ke depan kita akan kembangkan sistem AI yang lebih siap di Bea Cukai," ujarnya.
"Nanti ke depannya dari command center saya harapnya bisa lihat kapal di pelabuhan lagi ngapain, isinya apa, ini apa. Jadi akan kita buat sistem yang terkoneksi betul di sana nanti," Purbaya menambahkan.
Pemantauan Terintegrasi
Purbaya melanjutkan, secara sederhana, penguatan sistem AI di Bea Cukai bisa dikebut dalam 3 bulan. Namun, untuk ekosistem lebih lengkap membutuhkan waktu lebih lama lagi.
"Kalau sampai AI bisa mulai menganalisa 3 bulan ke depan, sudah. Tapi kalau sampai sistem yang betul-betul terintegrasi, di situ saya bisa lihat kapal di pelabuhan langsung, sebetulnya perlu panjang lagi, saya targetkan setahun," tuturnya.
"Tapi yang jelas dalam beberapa bulan ke depan harusnya penerimaan Bea Cukai akan lebih efisien dibanding sekarang," tambah Bendahara Negara ini.