Liputan6.com, Jakarta - Arab Saudi berambisi besar untuk menjadi kekuatan global di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Dengan dukungan energi murah dan pasokan gas alam yang melimpah, Arab Saudi menargetkan diri sebagai pemain utama dalam infrastruktur pusat data global.
CEO Saudi Aramco, Amin Nasser menuturkan, ketersediaan energi terbarukan dan gas alam berbiaya rendah akan menjadi kunci bagi transformasi Arab Saudi menuju ekonomi berbasis teknologi tinggi. Hal tersebut ia ungkapkan dalam wawancara dengan CNBC
Advertisement
"Di sini, jika Anda menginginkan energi terbarukan, Anda akan menemukannya dengan biaya terendah. Jika Anda menginginkan gas, kami juga memiliki pasokan dengan harga terendah,” ujar Nasser seperti dikutip dari CNBC.
“Energi dan lahan yang dibutuhkan untuk membangun pusat data dalam skala besar tersedia di sini.”
Dari Minyak ke Kecerdasan Buatan
Langkah ini menjadi bagian dari strategi variasi ekonomi Arab Saudi yang sejalan dengan visi Saudi Vision 2030, yaitu mengurangi ketergantungan pada minyak dan mengembangkan sektor teknologi tinggi.
Pada akhir Oktober, Aramco perusahaan minyak terbesar di dunia mengumumkan rencana akuisisi saham minoritas signifikan di perusahaan kecerdasan buatan nasional baru bernama Humain.
Perusahaan AI tersebut didirikan pada Mei 2025 dan mayoritas sahamnya dimiliki oleh Public Investment Fund (PIF), dana kekayaan negara Arab Saudi. PIF sendiri aktif mendorong investasi strategis di sektor teknologi global, termasuk dalam proyek AI, robotika, dan energi bersih.
CEO Humain, Tareq Amin, menyebut bahwa Arab Saudi menargetkan posisi sebagai pemain AI terbesar ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Tiongkok.
Investasi Besar untuk Infrastruktur Energi dan AI
Untuk mendukung ambisi tersebut, Aramco mengalokasikan belanja modal antara USD 52 miliar-USD 58 miliar pada tahun ini. Jumlah itu setara Rp 866,68 triliun-Rp 966,68 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.667)
Sebagian besar investasi itu difokuskan pada peningkatan produksi gas alam lebih dari 60% hingga 2030, guna memenuhi kebutuhan energi yang meningkat, termasuk untuk proyek-proyek AI.
Pusat data AI dikenal membutuhkan listrik dalam jumlah besar, terutama untuk melatih dan mengoperasikan model kecerdasan buatan. Nasser memperkirakan fasilitas tersebut akan mengonsumsi listrik hampir empat kali lipat dari seluruh armada kendaraan listrik global pada 2030.
“Sebagian besar energi yang digunakan untuk pusat data akan berasal dari gas, tetapi energi terbarukan juga akan menjadi bagian penting dari sistem tersebut,” kata Nasser.
Optimisme Terhadap Permintaan Energi Dunia
Aramco tetap optimistis terhadap masa depan industri minyak dan gas. Menurut Nasser, permintaan energi global diperkirakan masih akan meningkat selama beberapa dekade ke depan, terutama di pasar berkembang seperti Asia.
"Permintaan akan tumbuh sekitar 1,1 juta hingga 1,3 juta barel per hari tahun ini, dan kemungkinan hampir sama pada 2026," ujar dia.
“Ada potensi pertumbuhan yang sangat besar di negara-negara berkembang.”
Langkah strategis Aramco dan Humain ini menunjukkan transformasi besar Arab Saudi dari ekonomi berbasis minyak menuju pusat kekuatan digital global. Dengan kombinasi energi murah, investasi masif, dan dukungan pemerintah yang kuat, kerajaan tersebut menyiapkan fondasi untuk menjadi pusat data dan AI terbesar di Timur Tengah bahkan dunia.