Liputan6.com, Tokyo: Tidak salah memang kalau banyak orang mengatakan bahwa keramik yang bagus berasal dari Cina. Tapi bukan berarti negeri lain tak memiliki seni mengolah keramik. Tengok saja Arita, sebuah kawasan di Jepang yang telah menjadi penghasil keramik terkenal sejak empat abad silam. Dan budaya membuat keramik ini diturunkan dari generasi ke generasi hingga sekarang. Untuk mendukung industri keramik ini, pemerintah setempat menggelar pameran keramik terbesar di Tokyo, Jepang, baru-baru ini. Dalam pameran ini, stan-stan penjual barang-barang keramik ini terbentang sejauh lima kilometer dan selalu ramai pengunjung.
Di pusat keramik Negeri Matahari Terbit ini terdapat 170 studio--pembuat keramik. Praktis sebagian besar warga Kota Arita yang berjumlah 14 ribu jiwa bekerja di bidang pembuatan keramik. Pada awal perkembangannya, keramik buatan Arita hanya mengunakan warna biru. Baru pada 1650, Kakiemon--seorang pengrajin keramik setempat--menemukan warna merah untuk keramik yang sekaligus membuka babak baru dalam pembuatan keramik Arita.
Ragam warna ini semakin bervariasi sejak diperkenalkannya warna emas pada penghujung abad ke-17. Keramik-keramik buatan Arita dikenal juga dengan sebutan keramik Imari. Nama itu diambil dari nama pelabuhan tempat keramik itu diangkut untuk diperdagangkan ke seluruh wilayah Jepang maupun dunia. Meski didirikan berabad-abad silam, para pengrajin di Arita tetap tidak lepas dari pengaruh asing. Dari segi desain maupun warna banyak yang terkena aliran budaya asing.
Tradisi pembuatan keramik di Arita terus diturunkan ke generasi berikutnya. Para generasi penerus diharuskan belajar, mulai dari mencampur bahan-bahan keramik, membentuk, mewarnai hingga membakarnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai produk baru juga telah dihasilkan mulai dari gendang keramik hingga boneka yang dapat digerakkan.(DEN/Nurul Larasati)
Di pusat keramik Negeri Matahari Terbit ini terdapat 170 studio--pembuat keramik. Praktis sebagian besar warga Kota Arita yang berjumlah 14 ribu jiwa bekerja di bidang pembuatan keramik. Pada awal perkembangannya, keramik buatan Arita hanya mengunakan warna biru. Baru pada 1650, Kakiemon--seorang pengrajin keramik setempat--menemukan warna merah untuk keramik yang sekaligus membuka babak baru dalam pembuatan keramik Arita.
Ragam warna ini semakin bervariasi sejak diperkenalkannya warna emas pada penghujung abad ke-17. Keramik-keramik buatan Arita dikenal juga dengan sebutan keramik Imari. Nama itu diambil dari nama pelabuhan tempat keramik itu diangkut untuk diperdagangkan ke seluruh wilayah Jepang maupun dunia. Meski didirikan berabad-abad silam, para pengrajin di Arita tetap tidak lepas dari pengaruh asing. Dari segi desain maupun warna banyak yang terkena aliran budaya asing.
Tradisi pembuatan keramik di Arita terus diturunkan ke generasi berikutnya. Para generasi penerus diharuskan belajar, mulai dari mencampur bahan-bahan keramik, membentuk, mewarnai hingga membakarnya. Seiring dengan perkembangan teknologi, berbagai produk baru juga telah dihasilkan mulai dari gendang keramik hingga boneka yang dapat digerakkan.(DEN/Nurul Larasati)