Model AI 'Kimi K2 Thinking' dari China Disebut Lebih Pintar Ketimbang GPT-5 dan Sonnet 4.5

Kimi K2 Thinking buatan perusahaan asal China, MoonShot AI, diklaim mampu menyaingi dan melampaui performa kecerdasan buatan lainnya. Dengan biaya yang lebih murah diyakini dapat mengguncang pasar bisnis AI global.

oleh Nariza Riskantia HayaDiterbitkan 13 November 2025, 06:30 WIB
Kimi K2 Thinking buatan MoonShot AI asal China hadir dengan klaim mampu saingi GPT-5 dan Calude Sonnet 4.5. (Doc. Kimi.com)

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah model kecerdasan buatan (AI) baru dari China dilaporkan berhasil melampaui performa dua platform AI besar Amerika Serikat (AS), yaitu GPT-5 dari OpenAI dan Claude Sonnet 4.5 dari Anthropic.

Kimi K2 Thinking menunjukkan kemampuan pengkodean yang lebih cerdas GPT-5 dan Sonnet 4.5, tetapi tidak jauh lebih mengesankan.

Kimi K2 Thinking adalah model Mixture of Experts yang memadukan perencanaan jangka panjang, penalaran adaptif, dan penggunaan perangkat daring yang terus menerus menghasilkan serta menyempurnakan hipotesis memverifikasi bukti, bernalar, dan membangun jawaban yang koheren.

Mengutip laman Moonshot AI, Kamis (13/11/2025), Kimi K2 Thinking dapat menjalankan hingga 200-300 panggilan secara berurutan tanpa campur tangan manusia, bernalar secara koheren dalam ratusan langkah untuk memecahkan masalah kompleks.

K2 Thinking menunjukkan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. Pada Humanity’s Last Exam (HLE), K2 Thinking mencapai skor state of the art sebesar 44,9 persen dengan alat pencarian python, dan penelusuran web yang mencetak rekor baru dalam kinerja penalaran tingkat multi domain.

Moonshot AI menyebut bahwa Kimi K2 Thinking dirancang untuk "berpikir sebelum berbicara".

K2 Thinking menjalankan siklus dinamis berpikir, mencari, menggunakan peramban, berpikir, membuat kode, terus menerus menghasilkan dan menyempurnakan hipotesis, memverifikasi bukti, bernalar, serta menyusun jawaban yang koheren.

Penalaran yang saling terkait ini memungkinkan K2 Thinking untuk menguraikan masalah yang ambigu dan terbuka, menjadi sub tugas yang jelas dan dapat ditindaklanjuti.

Model AI China Lebih Murah

Sejak kemunculan ChatGPT, para pemilik bisnis dibombardir dengan tekanan untuk menggunakan perangkat AI baru, terutama agen, yang dipasarkan oleh pengembang teknologi sebagai pendorong produktivitas dan asisten virtual. Kemudian muncul tawaran paket bisnis seperti ChatGPT for Enterprise dari OpenAI.

Dilansir ZDnet, mirip dengan DeepSeek R1, kehadiran model AI baru dari MoonShot lantas mempertanyakan promosi penjualan platfrom AI tersebut.

Paket bisnis diklaim memiliki model AI gratis yang lebih baik dalam menjalankan tugas-tugas agensi penting dibandingkan model-model lain yang tersedia.

Namun faktanya beberapa perusahaan AS seperti Airbnb kini lebih memilih menggunakan perangkai AI dari perusahaan China dibanding perusahaan AS, dengan alasan kinerja yang lebih baik dalam beberapa tugas penting dan biayanya lebih rendah.

Sayangnya, ada kekhawatiran keamanan yang muncul terkait model AI berkonsep open source dari China, sehingga beberapa negara melarang penggunaan model sejenis sebelumnya seperti DeepSeek.

K2 Thinking Geser Prioritas Investor

Peluncuran perdana model Kimi K2 milik Moonshot merupakan pencapaian terbesar dan paling signifikan. Ini menunjukkan bahwa China telah mencapai level tinggi dan kompetitif dalam perlombaan AI global.

Meskipun ada framing ideologis yang membedakan AI Barat dan China, daya tarik finansial dari mode AI China yang murah berpotensi mengungguli model Barat yang mahal.

Kemungkinan besar akan menjadi pertimbangan investor, menggeser fokus dari kekhawatiran ideologis ke masalah ekonomi dan keuntungan. Serta akan membuat investor teknologi berpikir untuk memilih perusahaan yang mana.

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Infografis 4 Rekomendasi Chatbot AI Terbaik. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya