Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta Ingatkan Pemimpin Harus Dihormati, Bukan Dibenci

Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Rabiah Khairani Hasibuan menilai, setiap pemimpin bangsa memiliki jasa dan peran masing-masing dalam perjalanan sejarah Indonesia.

oleh Tim NewsDiterbitkan 08 November 2025, 23:35 WIB
Soeharto didampingi wakilnya, BJ Habibie, membacakan pidato pengunduran dirinya sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998. Soeharto yang telah telah menjadi presiden Indonesia selama 32 tahun mundur setelah runtuhnya dukungan untuk dirinya. (AGUS LOLONG/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Akademisi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Rabiah Khairani Hasibuan atau yang akrab disapa dr. Ani Hasibuan menanggapi perdebatan publik mengenai wacana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden kedua RI Soeharto.

Ia menilai, rakyat seharusnya menanggapi isu tersebut dengan kepala dingin dan hati lapang, bukan dengan kebencian terhadap tokoh mana pun. Rabiah menilai, setiap pemimpin bangsa memiliki jasa dan peran masing-masing dalam perjalanan sejarah Indonesia.

"Wah, saya nggak paham politik, Mas. Tapi saya mencintai Pak Harto karena dia pernah memimpin Indonesia selama sekian tahun. Bagaimanapun juga, dia sudah memberikan karya untuk negeri ini," ujar Ani kepada wartawan ,Sabtu (8/11/2025).

"Demikian juga Ibu Mega, dia juga sudah berkarya untuk negeri ini. Demikian juga Pak Soekarno, Pak SBY, Pak Habibie, Pak Gus Dur, Pak Jokowi, dan tentunya Pak Prabowo," sambung dia.

Menurut Ani, setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ia menilai, sebagai rakyat seharusnya masyarakat tidak diajarkan untuk membenci atau mencari-cari kesalahan orang lain.

"Setiap pemimpin itu punya lebih dan kurang, dan kita tidak diajarkan untuk membenci dan mengorek-ngorek kekurangan orang lain," ucap dia.

Ani lalu mencontohkan bagaimana masyarakat di negara lain menunjukkan rasa hormat kepada pemimpinnya.

"Di Mekkah dan Madinah, saban salat mereka mendoakan raja mereka agar diampuni dosa-dosanya dan ditunjuki menjadi pemimpin yang adil dan amanah. Di Thailand, rakyatnya selalu mencintai raja dan permaisurinya tanpa mempersoalkan bagaimana raja dan permaisuri itu," ucap Ani.

 

Nilai Bukan Hal Besar

Ani menegaskan, sebagai rakyat, tidak perlu memelihara prasangka buruk terhadap para pemimpin bangsa.

"Saya rasa sebagai rakyat, kita tidak perlu memelihara prasangka buruk terhadap pemimpin. Salah dan dosa mereka akan dihisab oleh Yang Maha Kuasa, jadi bukan urusan kita," terang dia.

Terkait polemik pemberian gelar pahlawan nasional, Ani menganggap hal tersebut bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan secara berlebihan.

"Soal gelar pahlawan bukan hal besar, apalagi orangnya pun sudah meninggal. Kita akan terlihat bermartabat kalau kita berani menerima kebaikan orang lain dengan hati lapang," kata dia.

"Tak ada salahnya memberi gelar baik bagi para pemimpin, karena bagaimanapun mereka punya kebaikan. Soal kesalahan, biar Tuhan yang urus, kita nggak usah ikut-ikutan," sambung Ani.

Ia mengingatkan, bangsa Indonesia seharusnya lebih fokus pada agenda besar untuk memajukan negeri, terutama setelah terpukul pandemi COVID-19.

"Saya rasa bangsa ini juga tidak fokus soal Pak Harto. Agenda kita adalah mengejar ketertinggalan kita setelah dilanda Covid. Kita harus bekerja keras, cerdas, dan ikhlas untuk kemajuan bangsa ini, bersama-sama. Hal-hal remeh tinggalkan saja. Salam sejahtera," pungkas Ani.

Infografis Soeharto Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya