Liputan6.com, Jakarta Duel antara Manchester City dan Liverpool di Etihad Stadium pada Minggu malam menjadi lebih dari sekadar pertandingan besar. Ini adalah laga yang bisa mengubah arah perburuan gelar Premier League musim 2025/26.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, dua raksasa ini datang bukan sebagai pemimpin klasemen, melainkan sebagai pemburu Arsenal yang kini bertengger di puncak.
Advertisement
Delapan gelar terakhir Premier League hanya berputar di tangan dua klub ini, enam untuk City, dua untuk Liverpool. Namun, dominasi itu kini ditantang oleh pasukan muda Mikel Arteta yang tampil stabil sejak awal musim.
Arsenal bahkan bisa unggul sembilan dan sepuluh poin dari City serta Liverpool jika tidak kehilangan kemenangan di menit akhir saat ditahan Sunderland 2-2.
Gol penyeimbang Brian Brobbey di detik akhir membuka kembali pintu persaingan. Kini, duel di Etihad menjadi ajang menentukan, apakah City dan Liverpool mampu memperkecil jarak, atau Arsenal akan tetap tak tergoyahkan di puncak?
Pep Guardiola dan Arne Slot: Dua Pelatih, Dua Jalan Menuju Kesempurnaan
Pep Guardiola menyebut pertemuan ini sebagai “takdir alam semesta”, sebuah simbol dari rivalitas panjang antara dirinya dan Liverpool. Dalam delapan tahun terakhir, nama mereka selalu mendominasi puncak klasemen. Namun kali ini, situasinya berbeda. City dan Liverpool sama-sama mengejar, bukan dikejar.
“Tidak ada yang memenangkan gelar di awal November,” ujar Guardiola. “Anda bisa kehilangannya, tapi tidak memenangkannya. Kami hanya bisa terus menang dan berharap mereka (Arsenal) kehilangan poin.”
Guardiola tahu, Arsenal kini bukan sekadar pesaing baru, melainkan ancaman nyata. Ia melihat refleksi timnya sendiri pada Arsenal yang sedang berada di puncak performa. “Apa yang mereka lakukan dalam dua atau tiga tahun terakhir luar biasa. Mereka sudah sampai di level tertinggi,” tambahnya.
Sementara itu, Arne Slot memilih fokus pada timnya sendiri. “Ini bukan tentang melihat klasemen, tapi tentang menjaga konsistensi dan terus berkembang,” katanya.
Slot yang berhasil membawa Liverpool juara musim lalu, tahu betul bahwa menghadapi City di Etihad adalah ujian paling berat di Inggris. “Pertandingan seperti ini adalah alasan mengapa kita mencintai sepak bola,” ujarnya tenang.