Liputan6.com, Berlin - Pekerjaan pada malam hari selalu membuat suasana hati menjadi sensitif karena tubuh yang lelah setelah bekerja sepanjang siang.
Untuk menghindari repotnya shift malam tersebut, tindakan yang dilakukan seorang perawat di Jerman justru membuatnya menjadi tersangka pembunuhan terhadap pasiennya.
Advertisement
Pada umumnya, seorang tenaga medis memberikan kenyamanan dan dorongan bagi pasien untuk sembuh. Namun, ia justru menyuntikkan obat penenang untuk meringankan beban kerja malamnya dan menewaskan setidaknya 10 orang, dilansir dari Oddity Central, Minggu (9/11/2025).
Ia berusia 44 tahun dan menjadi perawat di salah satu rumah sakit di Wuerselen, Jerman Barat. Bahkan telah bekerja sejak 2020, tetapi fakta mengejutkan mengatakan bahwa ia tidak sesuai dengan profesinya yang seharusnya memberikan pelayanan dengan baik.
Di dalam pengadilan, jaksa menuduh perawat tersebut tidak menjalankan tugasnya dengan motivasi maupun antusiasme. Selain itu, laporan tambahan menemukan bahwa pasien yang paling membutuhkan perawatan justru sering membuatnya kesal.
Menurut jaksa penuntut, bukti yang didapatkan mengungkap bahwa sebagian besar pasiennya adalah lanjut usia, dan ia memberikan obat pereda nyeri dalam dosis tinggi, seperti morfin dan midazolam.
Motif dari Penyuntikan
Pembelaan yang diberikannya mengatakan bahwa ia hanya mencoba menidurkan pasien, dengan alasan "tidur adalah obat terbaik," dan ia tidak menyangka bahwa obat yang digunakannya begitu mematikan.
Pengadilan di Aachen baru-baru ini menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat bagi perawat tersebut.
Bukan hanya membunuh setidaknya 10 pasien, tetapi ada percobaan pembunuhan terhadap 27 orang lainnya antara Desember 2023 dan Mei 2024.
Meski identitas terdakwa belum dipublikasikan, penyidik masih menyelidiki sejumlah kasus mencurigakan lain sepanjang karier medisnya setelah menyadari pola tindakannya terjadi kembali.