Liputan6.com, Jakarta- Menteri Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyambangi SMAN 72 Jakarta. Dia memastikan aktivitas di sekolah tersebut segera kembali normal usai ledakan yang menyebabkan puluhan siswa luka-luka.
"Ya, kita tadi berdiskusi dengan beberapa teman-teman untuk mempersiapkan hari Senin besok sekolah," kata Arifah kepada wartawan di SMAN 72 Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, Sabtu (8/11/2025).
Advertisement
Arifah mengatakan, kegiatan belajar mengajar tak boleh berhenti di SMAN 72 Jakarta. Namun, sebelum sekolah kembali aktif, berbagai pihak akan menggelar pertemuan pada Minggu (9/11/2025) besok.
"Karena sekolah tidak boleh berhenti tetapi sistemnya seperti apa, metodenya bagaimana ini sedang akan kita bicarakan," ujarnya.
Arifah menyebut, saat ini siswa masih mengalami trauma karena ledakan di beberapa titik hingga membuat puluhan anak luka-luka.
"Iya, masih trauma (anak-anak). Saya aja mungkin kemarin posisi saya di Aceh begitu mendengar ya mengganggu sekali gitu ya," ucapnya.
"Membayangkan kok bisa terus ini anak-anak gitu ya membayangkan kalau itu terjadi pada anak kita itu yang membuat kita apa yang bisa kita lakukan," tambahnya.
Berikan Pendampingan ke Terduga Pelaku
Arifah memastikan, pihaknya akan memberikan perlindungan terhadap terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta. Sebab, terduga pelaku masih berstatus sebagai pelajar dan masih di bawah umur.
"Oh iya pasti, pasti kita lakukan pendampingan baik untuk terduga pelaku gitu ya maupun buat anak-anak. Kita akan bagi tugas dengan berbagai pihak yang tadi kita ajak di sisi bersama," tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga akan melakukan assessment terhadap terduga pelaku. Kendati demikian, dia lebih dulu memastikan kondisi korban yang mengalami luka dan trauma.
"Oh iya, kalau itu (assessment) pasti. Sekarang kan yang penting anak-anak itu pemulihan sehat dulu. Kita enggak bisa paksakan dalam kondisi seperti itu menanya dan macam-macam. Biarkan sehat dulu. Kemudian pasti ada tahapan-tahapannya yang harus dilakukan," pungkasnya.
Kronologi Ledakan Versi Guru SMAN 72 Jakarta
Ledakan terjadi di SMA Negeri 72 Jakarta, Jalan Prihatin, Kelurahan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, pada Jumat (7/11/2025). Insiden itu terjadi saat khotbah Jumat tengah berlangsung.
Hal itu diungkap Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, Mohamad Yohan berdasar keterangan salah satu guru Matematika SMA 72 Jakarta. Dia mengatakan, ratusan siswa dan guru saat itu sedang mengikuti khotbah Jumat di aula sekolah.
"Ketika khotbah Jumat sedang berlangsung, tiba-tiba terdengar suara ledakan cukup keras dari arah belakang aula," kata Yohan dalam keterangannya, Jumat (7/11/2025).
Saksi mata, Totong menceritakan, ledakan terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, siswa dan guru SMA Negeri 72 sedang melaksanakan salat Jumat di masjid.
"Saya kan lagi salat Jumat, di saf paling depan, ya langsung meledak. Pas ledakan langsung bubar, langsung pada keluar semua karena takut," cerita Totong, Jumat (7/11/2025).
Totong mengaku mendengar suara ledakan keras dari tiga arah berbeda, baik di dalam maupun luar area sekolah. Menurutnya, ledakan itu terjadi secara berurutan, bukan dalam satu waktu bersamaan.
"Ledakan tidak barengan. Setelah di satu titik, satu lagi. Jarak suaranya nggak lama," ujarnya.
Setelah ledakan di tiga titik terjadi, Totong menyebut jemaah langsung menghubungi ambulans dan aparat penegak hukum. Tak lama, ambulans tiba di lokasi.
Dia melihat puluhan orang mengalami luka-luka akibat ledakan tersebut. Mereka langsung dibawa ke Rumah Sakit Islam Cempaka Putih.
"Korban dibawa ke RS Islam Cempaka Putih," ucapnya.
Muncul Isu Terduga Pelaku Korban Bullying
Siswa kelas XI SMAN 72 Jakarta berinisial S mengungkap dugaan adanya perundungan yang mungkin berkaitan dengan insiden ledakan saat salat Jumat di sekolah.
“Saya dapat info katanya pelakunya terindikasi siswa. Mungkin karena dia tuh korban bully jadi ingin balas dendam,” tutur S di lingkungan SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11/2025).
Dengan pakaian masih berlumuran darah teman-temannya, S menceritakan ledakan terjadi di tengah masjid saat salat Jumat hendak dimulai. Para siswa langsung panik dan berhamburan keluar.
“Kronologi sebelum salat Jumat lagi mau khutbah selesai, lagi mau iqomah, tiba-tiba ada ledakan. Dari tengah masjid. Ada ledakan kita kabur, nyelamatin teman-teman, setelah nyelametin teman-teman ada ledakan lagi kedua kali,” jelas dia.
Ledakan kedua terdengar di belakang sekolah. Sementara terduga pelaku diketahui merupakan seniornya yakni kelas XII.
“Tadi benar-benar panik banget saya gendongin satu-satu bantu ngobatin korbannya. Untung saya belajar dari online cara ngobatin pasien jadi Alhamdulillah bisa ngobatin sampai dibawa ke Rumah Sakit Islam,” ungkapnya.
S mengaku sempat melihat percikan api. Saat peristiwa, telinganya turut berdengung hingga tidak dapat mendengar apapun.
“Lagi ramai banget, penuh (masjid), tapi di atas lagi tidak ada orang,” S menandaskan.