Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus membahas soal teknologi pencitraan medis terkini yang disebut Photon-Counting CT Scan (PCCT) Naeotom Alpha Pro.
Menurutnya, teknologi ini dapat membantu deteksi penyakit lebih cepat dan presisi dengan efek radiasi 60 persen lebih rendah dari pencitraan konvensional.
Advertisement
“Ini merupakan teknologi pertama yang ada di Asia, dimulai dari Jakarta di RS PIK (Pantai Indah Kapuk). Alat ini benar-benar revolusioner dengan kemampuan menghitung photon sinar-X secara langsung. PCCT menghasilkan gambar yang jauh lebih jernih dan detail tapi dengan efek radiasi 60 persen lebih rendah,” kata wamenkes yang akrab disapa Benny dalam Grand Launching Photon Counting CT-Scan Naeotom Alpha Pro di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk (RSPIK), Kamis (6/11/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama RS Pantai Indah Kapuk, dr. Silvanus Chakra Puspita, MARS, menyampaikan, teknologi ini diharapkan dapat mengubah paradigma diagnostik klinis di Indonesia. Dengan memungkinkan deteksi penyakit secara lebih dini, cepat, dan presisi tinggi terutama pada kasus stroke, penyakit jantung, onkologi, serta kondisi kritis lainnya termasuk pada orang dewasa maupun anak.
Permintaan akan pencitraan medis berpresisi tinggi terus meningkat seiring dengan melonjaknya prevalensi penyakit tidak menular di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu secara global dengan hampir 18 juta jiwa setiap tahun. Di Indonesia, stroke menjadi penyebab kematian tertinggi, menyumbang 19 persen lebih dari total kematian nasional seperti tercantum dalam Riskesdas 2018.
Karena itu, deteksi dini dan pencitraan akurat menjadi kunci dalam meningkatkan efektivitas pengobatan dan menurunkan angka kematian.
Pendekatan Baru dalam Deteksi Sinar-X
Teknologi PCCT Naeotom Alpha Pro memperkenalkan pendekatan baru dalam deteksi sinar-X dengan mengonversi langsung photon (pembawa radiasi elektromagnetik) menjadi sinyal digital. Menghasilkan resolusi spasial yang lebih tinggi, karakterisasi jaringan yang lebih detail, serta dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan CT-scan konvensional.
Bagi tenaga medis, kehadiran alat ini memberikan lompatan signifikan dalam ketepatan diagnosis. Dalam kasus stroke, sistem ini menampilkan citra ultra-tinggi dengan kontras yang lebih tajam, membantu mendeteksi perubahan dini dan mempercepat intervensi saat setiap detik berarti.
Dalam kardiologi, teknologi ini memperjelas visualisasi pembuluh darah koroner, meminimalkan distorsi di sekitar stent (ring jantung), dan menghadirkan citra sumbatan yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan klinis yang lebih percaya diri.
Deteksi Kelainan Organ dengan Lebih Tajam
Sementara pada onkologi dan bidang spesialisasi lainnya, kemampuan kuantisasi dan pencitraan spektral Naeotom Alpha Pro mendukung deteksi kelainan organ tubuh secara lebih tajam. Sehingga perencanaan terapi jadi lebih personal.
"Kami percaya bahwa inovasi bukan sekadar soal teknologi tetapi tentang bagaimana teknologi mengubah perjalanan pasien menjadi lebih manusiawi, aman, dan efektif,” kata Chakra.
“Kami memandang teknologi bukan sebagai tren, tetapi sebagai tanggung jawab moral untuk memberikan perawatan terbaik bersama tim medis yang kami miliki. Ini lebih dari sekadar inovasi—ini adalah komitmen kami untuk mendefinisikan ulang presisi, meningkatkan perawatan pasien, dan membentuk masa depan layanan kesehatan di Indonesia,” tambahnya.
Diprediksi Gantikan Teknologi Pencitraan Lama dalam 5 Tahun
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Siemens Healthineers Indonesia, Alfred Fahringer menyampaikan bahwa teknologi PCCT Naeotom Alpha Pro pertama kali diluncurkan di Jerman pada akhir tahun 2023.
“Teknologi PCCT pertama kali diluncurkan akhir tahun 2023, artinya sudah dua tahun yang lalu dan sudah digunakan di Jerman, Amerika Serikat dan sekitar 10 negara lainnya.”
Ia memprediksi, dalam lima tahun ke depan, teknologi pencitraan lama akan berangsur diganti oleh teknologi baru yakni PCCT.
“Kami prediksikan dengan jangka waktu mungkin lima tahun ke depan, teknologi lama akan diganti semua dengan teknologi baru ini. Artinya akan replace teknologi yang lama,” ucapnya.