Liputan6.com, Jakarta Real Madrid kembali pulang dari Anfield dengan rasa kecewa. Hampir setahun setelah kekalahan mereka musim lalu di stadion yang sama, hasil serupa terulang. Liverpool menaklukkan Madrid (1-0) dengan intensitas tinggi, menyisakan refleksi mendalam bagi tim tamu.
Xabi Alonso datang dengan modal tren positif, termasuk kemenangan penting atas Barcelona dalam El Clasico. Namun, pertandingan ini menunjukkan bahwa performa bagus tidak selalu berlanjut tanpa kendala saat menghadapi lawan yang mampu menekan tanpa henti. Kesalahan kecil dan kurangnya eksekusi menjadi pembeda.
Advertisement
Meskipun Alonso menegaskan bahwa timnya sudah berjuang dan memberikan segalanya, kenyataan di lapangan menunjukkan ada masalah yang perlu diperbaiki. Intensitas memang ada, tetapi efektivitas tidak. Madrid menutup laga dengan hanya dua tembakan tepat sasaran.
Bintang yang Tidak Mampu Menentukan Hasil
Real Madrid datang dengan ekspektasi besar pada lini serang mereka. Kylian Mbappe memimpin daftar pencetak gol Eropa, sementara Vinicius Junior biasanya menjadi sumber penetrasi utama di sisi kiri. Namun keduanya gagal memberi ancaman berarti.
Mbappe berulang kali terperangkap jauh dari kotak penalti. Setiap kali ia menerima bola, Ibrahima Konate dan Virgil van Dijk sudah berada dalam posisi optimal. Bahkan ketika ia sempat masuk area berbahaya, duel udara menghentikannya, sesuatu yang memang bukan keunggulan utamanya.
Di sisi lain, Vinicius kembali kesulitan menghadapi Conor Bradley, sama seperti musim lalu. Ia gagal melewati lawan, tidak menghasilkan satu tembakan pun, dan efektifitas dribelnya merosot. Pola permainan Madrid yang banyak bertumpu pada sisi kiri tidak membuahkan perubahan.
Alonso mengakui kesulitan timnya menembus area akhir. “Kami kesulitan mencapai garis terakhir,” ujarnya. Struktur dan penempatan masih belum mendukung kreativitas alami para pemain depan.
Minimnya Pengalaman dalam Situasi Kritis
Anfield memberikan suasana yang menuntut ketenangan. Madrid memiliki intensitas, bahkan memenangkan 50 recovery bola, tetapi tidak memiliki kendali ketika ritme pertandingan berubah. Di sinilah pengalaman memainkan peran penting.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak figur senior meninggalkan Madrid: Karim Benzema, Toni Kroos, Nacho, Luka Modric, hingga Lucas Vazquez. Mereka digantikan pemain muda seperti Alvaro Carreras, Dean Huijsen, dan Franco Mastantuono. Transisi ini membawa energi baru, tetapi juga kehilangan ketegasan dalam momen penting.