Manufaktur Indonesia Tembus Ekspansi 3 Bulan Berturut-turut

Manufaktur merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia yang berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 04 November 2025, 17:15 WIB
Indeks ini adalah yang tertinggi sejak Oktober 2021 atau dalam 29 bulan terakhir. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, berdasarkan laporan terbaru S&P Global, PMI manufaktur Indonesia meningkat ke level 51,2 pada Oktober 2025, naik dari posisi 50,4 pada bulan sebelumnya.

Angka di atas level 50 menunjukkan ekspansi aktivitas manufaktur oleh survei S&P Global. Capaian tersebut menegaskan keberlanjutan momentum ekspansi sektor manufaktur selama 3 bulan berturut-turut sejak Agustus.

"Tren positif ini mencerminkan bahwa industri pengolahan nasional telah mengalami pemulihan dan kembali meningkat menjelang akhir tahun," kata Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto di Jakarta, Selasa (4/11/2025).

Peningkatan kinerja manufaktur utamanya didorong oleh menguatnya permintaan domestik. Stabilnya konsumsi rumah tangga, kebijakan stimulus fiskal, serta pelaksanaan pengadaan barang dan jasa Pemerintah yang berorientasi pada produk dalam negeri turut menopang pertumbuhan pesanan baru selama tiga bulan terakhir.

Ia menyebut, sektor manufaktur merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia yang berperan besar dalam penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, serta penguatan rantai pasok industri nasional.

Kinerja sektor ini menjadi indikator vital bagi arah pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, terutama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi di tengah dinamika global yang tidak menentu.

 

PMI Tolok Ukur Utama

Permintaan yang diterima perusahaan pada Maret 2024 menjadi yang tertinggi sejak Agustus 2024. (merdeka.com/Arie Basuki)

Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sendiri telah menjadi salah satu tolok ukur utama untuk menilai kekuatan aktivitas produksi dan permintaan di sektor ini dari waktu ke waktu.

“Tren ekspansi manufaktur yang konsisten menjadi sinyal bahwa perekonomian nasional berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat. Ke depan, kami percaya peningkatan permintaan domestik dan kestabilan harga akan menjadi fondasi berharga untuk mempertahankan momentum pertumbuhan," ujarnya.

Lebih lanjut, kondisi pasar tenaga kerja juga menunjukkan perbaikan pada bulan Oktober. Peningkatan aktivitas industri mendorong kebutuhan tenaga kerja baru yang meningkat. Perkembangan ini menjadi indikasi bahwa pelaku usaha mulai meningkatkan kapasitas produksinya guna mengantisipasi kenaikan permintaan di Kuartal IV-2025.

 

Tantangan

Pekerja menyelesaikan produksi suku cadang otomotif dan elektronika di pabrik industri manufaktur stamping dan assembling di Tangerang, Banten, Selasa (18/6/2024). (merdeka.com/Arie Basuki)

Meskipun tren ekspansi terjaga, Indonesia tetap mewaspadai sejumlah tantangan guna menjaga keberlanjutan sektor manufaktur. Peningkatan biaya input akibat kenaikan harga bahan baku masih menjadi perhatian, namun sebagian besar pelaku usaha mampu beradaptasi di tengah kondisi tersebut.

Sementara itu, keterbatasan kapasitas produksi mulai direspons melalui peningkatan investasi dan perluasan fasilitas untuk menjaga kelancaran pemenuhan pesanan yang terus meningkat.

"Penyesuaian harga produk juga dilakukan secara terukur untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya