Menyulap Limbah Jadi Bahan Bakar Gas Terbarukan

BioCNG bukan hanya solusi energi bersih, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi baru dari pengelolaan

oleh Septian DenyDiterbitkan 01 November 2025, 13:30 WIB
Program subtitusi batubara dengan biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) atau cofiring membuka lapangan kerja yang masif. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu meninggalkan kampung halamannya. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyulap limbah menjadi bahan bakar gas terbarukan atau BioCNG (Bio Compressed Natural Gas). Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) 2060 serta peningkatan bauran energi terbarukan nasional.

Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir mengatakan, pengembangan BioCNG bukan hanya solusi energi bersih, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi baru dari pengelolaan limbah.

“Indonesia memiliki sumber biomassa yang luar biasa besar dari limbah pertanian, perkebunan, hingga peternakan. Tantangannya adalah bagaimana mengonversi potensi itu menjadi energi yang bernilai ekonomi tinggi," kata Hokkop, Sabtu (1/11/2025).

Dalam menjalankan Inisiatif ini, PLN EPI menggandeng PT KIS Biofuels Indonesia untuk pengembangan dan pemanfaatan energi berbasis limbah menjadi bahan bakar gas terbarukan. Menurut Hokkop, kerja sama ini menandai transformasi penting PLN EPI dari penyedia energi primer menuju penggerak ekosistem bioenergi nasional.

"Melalui kolaborasi ini, kami ingin membangun rantai pasok BioCNG yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir,” ujar Hokkop.

Hokkop menambahkan, sinergi dengan KIS Biofuels membuka peluang pengembangan waste-to-energy hub di berbagai wilayah operasi PLN Group, khususnya pembangkit listrik berbasis gas (PLTG, PLTGU, PLTMG).

“Langkah ini bukan sekadar penjajakan teknologi, melainkan komitmen bersama untuk membangun ekonomi sirkular. Kami ingin mengubah limbah menjadi sumber energi masa depan,” ujarnya.

 

 

 

 

 

Momentum Penting bagi Sektor Energi Terbarukan

PLN berhasil melakukan uji coba penggunaan 75 persen biomassa Woodchips (kepingan kayu) untuk bahan bakar pengganti batu bara (cofiring) di PLTU Bolok dengan kapasitas 2x16,5 Megawatt (MW) di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). (Dok PLN)

Sementara itu, Komisaris PT KIS Biofuels, Indonesia Yasmine Surachman menilai kerja sama ini merupakan momentum penting bagi sektor energi terbarukan di Indonesia. Ia menegaskan, investasi dan teknologi yang dikembangkan KIS Biofuels akan difokuskan untuk memperkuat rantai nilai energi hijau di dalam negeri.

“Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana kemitraan strategis antara BUMN dan sektor swasta dapat mempercepat inovasi energi bersih. Kami membawa pengalaman global KIS dalam produksi BioCNG dan biogas untuk mendukung transisi energi Indonesia yang inklusif,” tutur Yasmin.

Menurut Yasmin, KIS Biofuels siap mendukung pembangunan fasilitas produksi BioCNG, penelitian dan pilot project, hingga transfer teknologi di bidang pengolahan limbah menjadi energi. “Kami percaya bahwa energi hijau bukan hanya isu lingkungan, tapi juga peluang ekonomi yang bisa menguntungkan masyarakat,” tambahnya.

 

Pilar Utama Dekarbonisasi

PT PLN (Persero) sukses menerapkan implementasi biomassa sebesar 6 persen untuk bahan bakar PLTU Paiton unit 1 dan 2. (Dok PLN)

Kerja sama ini akan berlangsung selama dua tahun dan meliputi berbagai inisiatif, mulai dari studi kelayakan, peningkatan kapasitas, riset dan proyek percontohan, hingga pengembangan model bisnis BioCNG berbasis limbah pertanian, perkebunan, dan peternakan.

PLN EPI melalui Direktorat Biomassa menargetkan BioCNG menjadi salah satu pilar utama dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan. Inisiatif ini juga sejalan dengan strategi “Beyond kWh” PLN Group yang menekankan inovasi, efisiensi, dan nilai tambah dalam bisnis energi bersih.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya