Blak-Blakan Ahli soal Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, Bahayanya Masuk Tubuh Manusia

Fenomena hujan yang terkontaminasi mikroplastik menjadi perhatian publik setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya partikel plastik pada air hujan di Jakarta.

oleh Tim NewsDiterbitkan 31 Oktober 2025, 11:15 WIB
Pejalan kaki yang menggunakan payung saat hujan deras menyeberang jalan di kawasan Thamrin, Jakarta, Rabu (23/11/2022). Sejak Oktober, DKI Jakarta mulai memasuki musim penghujan yang sudah masuk ke dalam tahap ekstrem. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena hujan yang terkontaminasi mikroplastik menjadi perhatian publik setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap adanya partikel plastik pada air hujan di Jakarta.

Menanggapi hal tersebut, Awaluddin Hidayat Ramli Inaku, Ahli Kesehatan dan Ilmu Lingkungan menjelaskan, kontaminasi ini terjadi karena mikroplastik sudah lebih dulu ada di udara sebelum hujan turun.

“Proses ini sebenarnya setelah proses alamiah sebenarnya. Jadi hujan itu kan terjadi secara proses alamiah. Kemudian turunlah hujan itu, hujan itulah yang akhirnya terkontaminasi oleh mikroplastik yang ada di udara,” ujarnya saat dihubungi oleh Liputan6.com, Kamis (30/10/2025).

Menurutnya, partikel mikroplastik tersebut sudah ada di udara, namun kondisi tersebut diperparah ketika hujan turun dan menyebabkan air hujan ikut terkontaminasi.

Awaluddin juga menyebut bahwa pada awalnya air hujan merupakan air yang bersih tanpa ada kandungan mikroplastik di dalamnya.

“Mikroplastik itu memang sebelumnya sudah ada di udara, namun diperparah ketika hujan itu turun. Sehingga hujan ini dan mikroplastik yang sebelumnya sudah ada di udara ini akan menyatu. Jadi akhirnya terkontaminasi lah si air hujan ini, yang mungkin sebelumnya air hujan ini memang tidak ada kandungan mikroplastik,” kata awal.

Kondisi yang sedang terjadi ini menimbulkan risiko bagi manusia karena mikroplastik dapat masuk ke tubuh manusia dari berbagai jalur.

Mikroplastik, jelasnya, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui inhalasi yaitu lewat pernafasan, juga dapat masuk melalui sistem pencernaan lewat mulut dan juga bisa masuk melalui kulit.

Ia menambahkan, paparan mikroplastik dari air hujan dapat masuk ke tubuh manusia terutama melalui mulut dan kulit, terutama saat seseorang kehujanan.

“Kalau bentuknya sudah menjadi air karena dia menyatu dengan air hujan, maka yang dikhawatirkan adalah bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui sistem pencernaan atau masuk melalui oral atau bahkan hujan itu masuk melalui porsel kulit misalnya,” paparnya.

 

Ginjal dan Hati

Aktivitas warga saat hujan deras di kawasan Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (9/12/2022). Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menyebut pihaknya akan mengkaji penerapan bekerja dari rumah atau work from home (WFH), hal ini berkaitan dengan arahan dari Presiden Joko Widodo atau Jokowi tentang potensi cuaca ekstrem pada penghujung 2022. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Lebih lanjut, Dosen Magister Ilmu Lingkungan UPN Veteran Jawa Timur itu mengungkapkan, bahwa penelitian yang dilakukannya menunjukkan mikroplastik berdampak negatif terhadap organ tubuh, khususnya ginjal dan hati berdasarkan dengan uji coba pada hewan.

“Jadi kalau di hewan coba baik yang akut itu walaupun LD50 atau kematian populasi tikus 50% tidak terpenuhi tapi ditemukan pengaruhnya atau kerusakannya terhadap organ ginjal dan organ hati dari tikus itu. Juga kalau untuk yang subkronis, yang dosis bertingkat tadi yang kita berikan ke tikus, dalam jangka waktu yang lebih lama, dampaknya itu juga sama, ada terjadi kematian tikus bertahap, dan juga terjadi kerusakan organ ginjal dan hati,” jelasnya

Seterusnya, Awaluddin menyampaikan bahwa paparan mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh manusia akan berdampak buruk terhadap organ vital manusia itu sendiri.

“Jadi, kalau ditanya tentang dampaknya, tentu sangat berbahaya, baik itu masuk ke dalam tubuh manusia dalam jumlah kecil, ataupun dalam jumlah besar, dalam waktu yang singkat, maupun jangka panjang. Semuanya itu sangat berdampak bagi kesehatan masyarakat,” paparnya.

Tidak hanya menjelaskan dampak jangka panjang dari paparan air hujan yang terkontaminasi dengan mikroplastik, Awaluddin juga mengimbau kepada masyarakat untuk melindungi diri dari paparan partikel berbahaya tersebut.

Ia mengajak masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Ia menilai cemaran mikroplastik lebih banyak terjadi ketika masyarakat berada di luar ruangan atau ruang bebas. Selain itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) juga penting untuk mencegah mikroplastik masuk ke dalam tubuh.

“Jadi, yang pertama adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan. Yang kedua adalah ketika kita berbicara bahwa mikroplastik itu masuk melalui tubuh, melalui inhalasi atau pernapasan udara, maka ya kita harus mencoba untuk menggunakan apa itu, alat pelindung diri. Alat pelindung diri pun itu disesuaikan dengan camarannya,” tuturnya

Kemudian, untuk mencegah mikroplastik masuk melalui jalur pencernaan dan kulit, ia menyarankan agar masyarakat menghindari paparan langsung air hujan. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak tertelan air hujan dengan tidak sengaja dalam beraktifitas di bawah hujan.

Reporter Magang: Fatimah Azzahra

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya