Liputan6.com, Jakarta Mantan kapten Manchester United, Steve Bruce, ikut angkat bicara soal perbandingan antara Matheus Cunha dan legenda Setan Merah, Eric Cantona. Bruce, yang pernah satu ruang ganti dengan Cantona di era keemasan awal 1990-an, mengakui bahwa perbandingan tersebut merupakan pujian besar, namun tetap sulit untuk disetarakan.
Sebelum Cunha menendang bola pertamanya untuk United, CEO klub Omar Berrada sudah lebih dulu memicu perdebatan dengan menyamakan gaya bermain dan aura pemain asal Brasil itu dengan Cantona. Kini, setelah performa Cunha terus menanjak di bawah arahan Ruben Amorim, komentar itu mulai terdengar masuk akal.
Advertisement
Cantona bukan hanya dikenal karena gol dan assist, melainkan karena dampak luar biasa yang ia bawa ke ruang ganti United. Karismanya mengubah mentalitas tim muda yang kala itu belum banyak mencicipi gelar juara.
Dalam konteks ini, Cunha juga mulai memperlihatkan pengaruh serupa, meski awalnya belum mencetak banyak gol, gaya bermain penuh semangatnya membuatnya cepat menjadi favorit fans.
Penilaian Steve Bruce
Bruce yang mengenal Cantona dengan baik menilai, meski Cunha punya semangat dan pengaruh besar di tim, ia belum mencapai level “ikon” seperti Cantona. “Cunha bukan sosok ‘bad boy’ seperti Eric,” ujar Bruce kepada The Mirror.
“Saya belum pernah, dan mungkin tidak akan pernah lagi, melihat pemain yang bisa masuk ke ruang ganti, menaikkan kerahnya, lalu bermain dengan aura seperti Eric. Ia benar-benar unik.”
Meski begitu, Bruce tetap menilai perbandingan tersebut sebagai bentuk apresiasi besar bagi Cunha. “Untuk disandingkan dengan Cantona saja sudah luar biasa. Eric adalah sosok istimewa, kombinasi antara talenta, keberanian, dan kepribadian yang membuatnya dicintai semua orang di klub,” tambahnya.
Cunha Motor Serangan MU
Cunha sendiri kini dianggap sebagai motor semangat baru di Old Trafford. Namun, sebagaimana Cantona membangun status legendarisnya lewat trofi dan kemenangan besar, Bruce mengingatkan bahwa warisan sejati seorang pemain United diukur dari seberapa banyak gelar yang ia menangkan.
Contohnya bisa dilihat pada Bruno Fernandes, gelandang kreatif yang menjadi andalan sejak 2020, namun masih mendapat kritik karena minim trofi besar. Cunha, kata Bruce, tampaknya memahami hal itu. Ia rela bekerja keras tanpa pamrih, berlari tanpa henti demi kemenangan tim, bukan sekadar statistik pribadi.
Jika konsistensi itu berbuah gelar, bukan tak mungkin nama Matheus Cunha suatu hari nanti akan disebut dalam satu napas dengan sang legenda, Eric Cantona, bukan hanya karena gaya bermainnya, tetapi juga karena warisan yang ditinggalkannya di Old Trafford.
Sumber: Mirror