Liputan6.com, Jakarta Setelah membintangi Sewu Dino yang mendulang 4,8 jutaan penonton, Rio Dewanto kembali dalam Janur Ireng karya sineas Kimo Stamboel. Film rilisan MD Pictures ini dijadwalkan menghantui bioskop Indonesia mulai 24 Desember 2025.
Janur Ireng diusung dari buku karya SimpleMan. Rio Dewanto memerankan Sugik. Suami Atiqah Hasiholan ini rupanya tak pernah membaca karya-karya SimpleMan. Rio Dewanto bukan pembaca thread atau utas kreator KKN di Desa Penari.
Advertisement
Saat lolos audisi untuk membintangi Sewu Dino dan Janur Ireng, barulah aktor kelahiran Jakarta, 28 Agustus 1987, ini mulai mengasup tulisan SimpleMan. Kali pertama membaca karya SimpleMan, Rio Dewanto terkesima.
“Saya bukan pembaca thread atau buku horor. Ketika terlibat, mau enggak mau saya harus baca itu. Saya coba membaca, saya menyimak di YouTube,” katanya. “Sudah gitu saya coba cari podcast di Spotify-nya juga ada,” Rio Dewanto menambahkan.
Mencekam Dan Seram
Kepada Showbiz Liputan6.com di Jakarta Selatan baru-baru ini, membaca membuat sudut pandang dan wawasan Rio Dewanto terbuka. Bintang film Gundala dan 13 Bom di Jakarta mulai memahami universe yang dibangun SimpleMan
“Pengalaman saya ketika membaca itu memang, ‘Oh, ternyata segini mencekam dan seram, ya.’ Tulisan SimpleMan enak banget dibaca. Ketika terlibat di sini dengan pendekatan Kimo sebagai sutradara yang mumpuni di Indonesia, saya happy,” ujarnya.
Penyesuaian Penampilan Rio Dewanto
Kimo Stamboel melakukan banyak penyesuaian cerita berdasarkan supervisi dari SimpleMan. Kolaborasi Kimo Stamboel, SimpleMan, dan Manoj Punjabi digadang-gadang menghasilkan karya sinematik yang lebih gore alias brutal ketimbang Sewu Dino.
Rio Dewanto mempersiapkan diri dengan saksama demi peran Sugik. “Ada beberapa penyesuaian secara look. (Saya) sama tim makeup cari jalan tengah untuk membuat ini menjadi believable,” beri tahu Rio Dewanto, menyinggung transformasi fisik tokoh Sugik.
Perang Antar Keluarga
Senada dengan Rio Dewanto, Givina Lukita optimistis Janur Ireng lebih mencekam. Film ini titik awal dari semua malapetaka yang terjadi. Janur Ireng fondasi yang menjelaskan mengapa perang gaib antar tujuh keluarga Trah Pitu di tanah Jawa bisa meletus.
“Ternyata santet Janur Ireng itu awal mula kenapa perang antara keluarga trah di tanah Jawa ada," Givina Lukita memaparkan. “Kalau Sewu Dino fokusnya di tiga ART. Kalau di sini antar keluarga. Apa yang terjadi sama dua keluarga ini besar dan kompleks,” ucapnya.