Teknologi Digital Andal Menjaga Ketahanan Migas Nasional

Pertamina menggunakan teknologi untuk mengidentifikasi kebocoran pipa minyak. Jika terjadi sesuatu anomali pada jaringan pipa, sistem yang terhubung langsung itu akan memberi sinyal.

oleh Gresi PlasmantoDiterbitkan 29 Oktober 2025, 21:11 WIB
Petugas mengecek jaringan pipa milik Pertamina

Liputan6.com, Jakarta Sebuah plang setinggi dua meter berisi pemberitahuan “Berbahaya” tegak tertancap di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Jambi-Palembang di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Plang berkelir merah dan hitam itu memberi berbagai larangan dan tanda bahwa di daerah tersebut merupakan kawasan objek vital nasional.

Di bawah plang itu terpendam jaringan pipa minyak bumi milik Pertamina. Hanya sepelemparan batu dari plang, terlihat separuh badan pipa menyembul ke permukaan tanah di antara semak belukar.

“Sejak kapan jaringan pipa minyak bumi itu ada di sini,” tanya saya kepada seorang bapak penjual toko kelontong di pinggir jalan Desa Tempino, Rabu (22/10/2025).

Tak jauh dari plang tadi, sang bapak menjawab singkat dan meyakinkan. “Sejak saya masih kecil, pipa minyak itu sudah ada di situ,” ujarnya seraya menambahkan, dia tak mengetahui pasti kapan jaringan pipa itu dibangun.

Yang diketahuinya dari cerita yang dia dapat bahwa dahulu desanya pernah berjaya dalam industri minyak.

Memang benar, beberapa daerah di Provinsi Jambi seperti Tempino dan Kenali Asam menjadi daerah sumber minyak. Melalui jaringan pipa tersebut, minyak bumi dari ladang-ladang minyak Jambi dialirkan ke Kilang Plaju, Palembang, Sumatera Selatan. Jika kita melewati Jalinsum bagian timur ini akan jamak menjumpai plang peringatan di pinggir jalan.

Senarai kisah, jaringan pipa minyak bumi yang terpendam di sepanjang Jalinsum Jambi-Palembang memiliki sejarah panjang. Dalam dokumen foto digital Universitas Leiden seksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde (KITLV) menggambarkan pembangunan jaringan pipa tersebut beriringan dengan pembangunan Jalinsum.

 

Plang peringatan jaringan pipa minyak bumi PT Pertamina di Jalinsum Jambi-Palembang

Sejarawan Dedi Arman dalam penelitiannya menyatakan, jaringan pipa tersebut dibangun pada tahun 1935 oleh Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij (NIAM), perusahaan minyak pada masa pemerintahan Hindia Belanda. NIAM membangun pipa sepanjang 275 kilometer dengan biaya pembangunan pipa minyak ketika itu menelan ongkos 3,5 juta gulden.

“Minyak dari Jambi disalurkan melalui pipa ke Kilang Plaju,” kata Dedi Arman dalam penelitiannya yang berjudul Eksploitasi Minyak di Jambi tahun 1922-1948.

Jaringan pipa dengan sejarah panjang dalam industri hulu migas tersebut sampai sekarang masih berkontribusi dalam industri minyak di Sumatera. Pun jaringannya yang rumit dan panjang melewati hutan yang sulit diakses membuat keberadaan pipa jadi sangat rawan.

Kondisi ini berdampak pada kebocoran produksi minyak, baik itu akibat korosi atau aksi pencurian minyak atau illegal tapping. Meski diawasi terus oleh tim patroli, nyatanya aksi penyambungan ilegal itu masih menjadi momok.

Tak patah arang. Kini guna mengatasi momok tersebut, Pertamina EP (PEP) Field Jambi, bagian Pertamina Hulu Rokan Zona 1 terus berinovasi. Dalam satu terakhir, Pertamina EP Field Jambi memasang perangkat teknologi untuk mengamankan produksi.

Teknologi itu bernama Finding Oil Losses (FOL): sistem deteksi kebocoran. Teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan Machine Learning itu mampu mendeteksi kebocoran minyak secara cepat. Melalui teknologi ini juga mampu mengidentifikasi titik lokasi kebocoran.

Teknologi ini dipasang pada titik tertentu. Jika terjadi sesuatu anomali pada jaringan pipa, sistem yang terhubung langsung itu akan memberi sinyal telah terjadi kebocoran. Sehingga kemudian akan memudahkan tim dalam mengambil tindakan cepat dan tepat.

Syahdan, berkat pemasangan teknologi FOL ini, Pertamina EP Field Jambi berhasil mengungkap aksi penyambungan ilegal. Pada Rabu (24/9/2025), Tim Security Obvitnas Pertamina bersama aparat berhasil menggagalkan aksi pencurian minyak di Kilometer 12, Desa Pondok Meja, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi.

Dalam kasus tersebut, petugas menangkap lima orang tersangka. Dari lima tersangka tersebut, dua di antaranya merupakan polisi. Selain menangkap tersangka, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian.

Barang bukti yang diamankan antara lain selang berdiameter 1 inci sepanjang 50 meter, satu perangkat kran pada titik sambungan, sebuah kendaraan, serta barang pribadi milik pelaku. Selanjutnya, para tersangka beserta barang bukti telah diserahkan kepada Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Mestong untuk ditindaklanjuti sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Pertamina EP Field Jambi, bagian Pertamina Hulu Rokan Zona 1 yang beroperasi di wilayah Jambi, menyatakan terus berkomitmen untuk menjaga serta meningkatkan produksi energi nasional. Selain patroli lapangan, pengamanan produksi energi juga diperkuat dengan pemanfaatan teknologi Finding Oil Losses (FOL).

Dalam keterangan resminya melalui siaran pers General Manager Zona 1 Hari Widodo, menegaskan komitmen Pertamina EP Field Jambi dalam menjaga pasokan energi nasional.

“Kami berkomitmen memastikan kelancaran proses produksi. Setiap persoalan, termasuk praktik illegal tapping, kami tangani secara cepat dan terukur demi menjaga keamanan aset negara serta keberlangsungan pasokan energi bagi masyarakat,” ujar Hari.

Menurut Hari Widodo, aksi illegal tapping bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak serius bagi keselamatan bersama. Selain merugikan negara, praktik ini dapat mencemari dan merusak lingkungan, bahkan memicu insiden berbahaya seperti ledakan dan kebakaran.

“Kami senantiasa mengutamakan aspek keamanan dalam setiap operasional perusahaan yang dilakukan melalui sinergi dengan aparat penegak hukum. Kemudian pemanfaatan teknologi inovatif, yang dikombinasikan dengan pengawasan rutin di lapangan guna mencegah potensi gangguan terhadap proses produksi,” ujar Hari.

Menekan Kerugian Minyak

Tak hanya sukses diterapkan di Jambi Field, sistem ini juga direplikasi oleh Pertamina EP Rantau Field dan PHE Jambi Merang. Hal ini menunjukan bukti keberhasilan dan skalabilitas inovasinya dari FOL tersebut.

Dengan tingkat akurasi mendeteksi kebocoran minyak hingga 98 persen, teknologi FOL mampu jadi solusi digital yang andal dalam menjaga keamanan produksi migas nasional. Pertamina EP Rantau yang mengimplementasikan teknologi ini menyatakan, FOL terbukti efektif mendeteksi kebocoran minyak secara real-time.

“Berkat teknologi FOL, kerugian minyak (oil losses) yang pernah mencapai 6 persen kini bisa ditekan hingga di bawah 0,5 persen,” kata Manager Pertamina EP Field Rantau Tomi Wahyu Alimsyah dalam keterangan resminya.

Menurut dia, jalur pipa yang melewati hutan, bukit, dan perkebunan sawit, kerap menyulitkan tim dalam mendeteksi kebocoran. Namun, sejak kuartal tiga 2024, pemasangan teknologi FOL di titik-titik strategis jalur pipa itu mampu memberikan peringatan dini sekaligus perkiraan lokasi kebocoran.

Sebelumnya, pihak Pertamina EP Rantau hanya bisa mendeteksi gangguan aliran minyak dari tekanan pipa, namun tidak tahu titik lokasi kebocoran. Dengan pemasangan teknologi FOL, peringatan muncul bersamaan dengan lokasi perkiraan kebocoran.

Implementasi FOL terbukti ampuh. Buah pemasangan teknologi ini, dua kasus penangkapan besar pelaku pencurian minyak berhasil diungkap.

Kasus tersebut diungkap pada Oktober 2024 di Dusun Kebun Ubi, Desa Mekar Jaya, Aceh Tamiang. Kemudian pada kasus penyambungan ilegal berhasil diungkap pada Februari 2025 di Dusun Alur Meranti, Desa Bukit Mas, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Kepala Divisi Produksi dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas, Bambang Prayoga, dalam surat resmi kepada General Manager Pertamina Zona 1 turut mengapresiasi langkah penerapan teknologi FOL.

“Kami mengapresiasi upaya inovatif pengembangan FOL yang terbukti menurunkan angka losses dalam penyaluran minyak produksi. Kami berharap implementasi ini diperluas ke KKKS lain yang mengalami masalah serupa,” bunyi surat resmi tersebut kepada General Manager Pertamina Zona 1.

Sementara itu, di wilayah kerja Pertamina EP Field Jambi, FOL ini berhasil menurunkan angka angka kerugian minyak dari 0,83 persen pada 2023 menjadi 0,07 persen dalam kurun waktu Maret-Oktober 2024.

Penghargaan Digital Hackathon

Inovasi digital tak hanya membawa dampak kemajuan terhadap industri teknologi informasi. Kehadiran inovasi unggulan bernama Finding Oil Losses yang ditelurkan Pertamina EP Field Jambi menjadi saksi bahwa terobosan berbasis digital memberi kontribusi positif terhadap industri hulu minyak dan gas bumi yang penuh dengan tantangan.

Melalui inovasinya yang diberi nama Finding Oil Losses, Pertamina EP Field Jambi berhasil menyabet prestasi di tingkat nasional. Tim inovator Pertamina EP Field Jambi yang dinamakan UWAK PO keluar meraih juara 1 dalam ajang kompetisi Digital Hackathon SKK Migas 2025.

Tim UWAK PO itu mengalahkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) lainnya se-Indonesia. Sehingga mereka berhak atas penghargaan dan diterima langsung pada seleksi final yang diselenggarakan di Wisma Mulia Jakarta 4 Juni 2025.

Inovasi FOL ini merupakan sistem deteksi kebocoran pipa berbasis IoT & Machine Learning. Dalam keterangan resminya, Manager PEP Jambi Field Kurniawan Triyo Widodo mengapresiasi keberhasilan tim inovator UWAK PO.

"FOL terbukti efektif dalam mempercepat penanganan kebocoran, mencegah oil losses akibat illegal tapping maupun korosi, serta meningkatkan efisiensi operasional jalur pipa. Inovasi ini juga telah direplikasi di beberapa field lain seperti di PEP Rantau dan PHE Jambi Merang," ujar Kurniawan Triyo Widodo.

Pria yang akrab disapa Triyo itu menjelaskan, sistem FOL dirancang untuk memantau tekanan pipa secara real-time, menganalisis anomali delta pressure menggunakan model machine learning, serta memprediksi lokasi kebocoran dengan akurasi hingga 98 persen.

Sistem ini juga dilengkapi dengan visualisasi peta interaktif, fitur playback tekanan historis, dan integrasi koordinat lokasi secara otomatis. Berbagai keunggulan system FOL ini mampu membawa kemenangan bagi PEP Field Jambi dengan mengalahkan KKKS lainnya dalam kategori Implementasi.

Adapun Kompetisi Digital Hackathon ini merupakan kali pertama diadakan oleh SKK Migas dalam penerapan Artificial Intelligence (AI) atau Machine Learning (ML) untuk pelaksanaan operasional KKKS. Penerapan AI/ML yang telah dilakukan di KKKS, tercatat bisa menghasilkan nilai tambah dan penghematan biaya hingga Rp900 miliar per tahun.

Efisien

Setiap tetes minyak yang digunakan ada teknologi canggih dan orang-orang terampil yang bekerja. Sebab dalam era tuntutan zaman industrialisasi dan perkembangan teknologi menjadi bagian yang tak bisa dihindari.

Kini dalam industri migas, peran teknologi harus jadi bagian penting dan satu kesatuan. Industri migas secara rantai pasok terbagi menjadi tiga bagian; hulu, tengah, dan hilir. Tiga bagian ini menjadi satu kesatuan dalam menopang ketahanan energi nasional.

Khusus untuk industri hulu migas, menurut Direktur Eksekutif Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) Ali Ahmudi memiliki dua karakter utama. Selain itu, industri hulu migas mempunyai kebanggan tersendiri karena sumber kekayaan utamanya ada di hulu.

“Industri hulu itu jadi sumber kekayaan utama, di hulu karakternya dua. Yakni padat modal dan padat teknologi. Dua hal ini harus dipenuhi,” kata Ali Ahmudi ketika dihubungi Liputan6.com dari Jambi.

Ali Ahmudi menjelaskan, dalam era sekarang teknologi mempunyai peran yang amat vital. Sehingga keberadaan industri hulu migas tak bisa lepaskan dari penggunaan teknologi, meski peran manusia tetap dibutuhkan. Teknologi lanjutnya, akan membantu kerja industri hulu migas baik untuk mencari cadangan minyak, pengeboran, hingga alur perpipaan.

“Hasilnya lebih efisien karena tidak terlalu mengandalkan manusia, dan hasilnya lebih optimal mampu meningkatkan produksi serta dalam skala keekonomian terjadi efisiensi dan penghematan,” katanya menjelaskan.

Dalam penerapan teknologi tersebut juga membutuhkan modal. Sehingga, kata Ali, Pertamina sebagai perusahaan negara harus berani berinvestasi atau mengeluarkan modal untuk teknologi yang semakin berkembang.

“Kalau tidak ditopang dengan teknologi canggih maka industri hulu migas kita akan semakin ketinggalan,” ujar Ali.

Pertamina, perusahaan plat merah yang bergerak di bidang energi menegaskan komitmennya dalam memperkuat kedaulatan energi melalui pemanfaatan teknologi digital di seluruh lini bisnisnya. Teknologi digital menjadi bagian penting untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan keandalan distribusi energi nasional.

“Semua pergerakan energi di darat, laut, dan udara kami kendalikan secara real-time dari pusat komando digital Pertamina. Teknologi ini memastikan energi tersalurkan tepat waktu dan akurat ke seluruh pelosok negeri,” ujar Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita dalam ajang Indonesia Digital Conference (IDC) 2025 yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Dalam forum tersebut, Arya mengungkapkan, transformasi digital membantu Pertamina mengelola pasokan energi dari hulu ke hilir, sekaligus memperkuat hubungan dengan publik melalui komunikasi yang adaptif. Pemanfaatan teknologi tersebut tidak hanya berdampak untuk efisiensi operasional dan biaya, namun mendukung Pertamina dalam menghadapi perubahan lanskap komunikasi di era digital.

“Pertamina menjaga energi tidak hanya di kota besar, tapi juga di daerah paling ujung Indonesia. Digitalisasi teknologi membuat Pertamina mampu melayani masyarakat lebih cepat, transparan, dan tangguh,” demikian Arya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya