Liputan6.com, Jakarta Di tengah deretan bangunan bersejarah dan hiruk-pikuk wisatawan yang hilir mudik, kawasan Kota Tua Jakarta bersiap menatap wajah baru. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah menyiapkan reaktivasi dan pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) di Kota Tua. Langkah ini untuk mempercepat revitalisasi Kota Tua menjadi ruang hidup bagi budaya, seni, dan ekonomi kreatif.
Rencana Pemprov DKI ini pun disambut antusias oleh warga. Namun di balik semangat pengembangan itu, ada harapan agar pembenahan tak berhenti pada keindahan fisik semata.
Advertisement
“Rencana Pemprov reaktivasi dan pengembangan kawasan TOD itu bagus karena Kota Tua ini strategis banget buat didatangi banyak keluarga dan wisatawan,” ujar Fajar, warga Mangga Besar, saat ditemui Liputan6.com. “Tapi jangan cuma tampilan luar yang diperbaiki. Fasilitas publik juga harus ditingkatkan.”
Tiga fasilitas publik yang dinilai perlu mendapatkan perhatian serius, menurut Fajar adalah area UMKM, toilet dan ruang istirahat tertutup bagi pengunjung. Fajar berharap penataan ulang area UMKM agar lebih tertib dan nyaman, baik bagi pedagang maupun pengunjung.
“UMKM perlu dikasih wilayah khusus biar bisa jualan dengan nyaman dan tertata. Sekarang tempat berjualan agak sempit-sempitan dan panas,” ujarnya.
Senada, Zarin, warga Jakarta Barat, mengharapkan pengembangan kawasan Kota Tua juga perlu mempertimbangkan kenyamanan pengunjung di tengah cuaca yang kian ekstrem.
“Kawasan Kota Tua kalau siang bisa terasa sangat panas, apalagi sekarang panasnya udah nggak wajar. Jadi mungkin perlu lebih banyak ruang tertutup, bukan cuma outdoor,” katanya.
Selain perbaikan fasilitas, warga berharap revitalisasi Kota Tua tidak menghilangkan nilai sejarah kawasan ini.
“Di sini banyak museum yang nyimpen sejarah penting. Nah, biar hidup, Pemprov bisa bikin event bertema sejarah, pameran, atau festival,” usul Fajar. “Selain mengenalkan sejarah, kegiatan kayak gitu juga bisa mendorong ekonomi warga sekitar.”
Wacana Pemindahan IKJ Perkuat Posisi Kota Tua Sebagai Pusat Seni dan Budaya
Rencana Pemprov DKI Jakarta untuk memindahkan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ke kawasan Kota Tua juga menjadi perbincangan warga dan mahasiswa. Menurut Fajar, kehadiran kampus seni di Kota Tua itu bisa memberi warna baru.
“Kalau IKJ pindah ke sini, pasti bakal mendorong kawasan ini jadi lebih hidup. Mahasiswa kan kreatif, bisa bikin acara, pameran, bikin Kota Tua makin rame,” ujarnya.
Di sisi lain, mahasiswi IKJ Nurul, menilai pengembangan Kota Tua sebagai pusat seni bisa dilakukan tanpa perlu memindahkan kampus.
“Menurut aku nggak harus mindahin kampusnya juga. Museum dan seni itu beda konteks. Tapi bisa kolaborasi aja. misalnya mahasiswa bikin event atau pameran seni di Kota Tua,” ujarnya.
“Jadi Pemprov dan kampus sama-sama diuntungkan, Kota Tua jadi rame, mahasiswa juga punya ruang pamer tambahan.”
Nurul juga mengusulkan agar sejarah di Kota Tua dikemas dengan cara yang lebih modern agar tetap relevan bagi generasi muda.
Harapan untuk Kota Tua yang Lebih Hidup
Bagi warga, revitalisasi Kota Tua bukan sekadar proyek pembangunan, tapi peluang untuk menghidupkan kembali denyut sejarah dan ekonomi lokal.
“Harapan saya, fasilitas yang belum maksimal bisa lebih diperbaiki lagi. Seni dan sejarah juga harus dikemas menarik biar makin banyak warga yang datang,” kata Fajar.
Sementara, Zarin berharap revitalisasi ini bisa membuat seni dan budaya lebih dekat dengan masyarakat.
“Saya berharap dengan Kota Tua yang diramaikan oleh banyaknya seni dan budaya, kita bisa lebih paham kalau Indonesia punya banyak sejarah dan potensi besar,” ujarnya.
Pemprov DKI Fokus Perbaikan Sarana dan Prasarana Dasar
Pemprov DKI Jakarta bersama pemerintah pusat menyiapkan Task Force khusus, gabungan dari unsur pemerintah pusat, daerah, BUMN, BUMD, dan swasta. Tim ini akan memperjelas pembagian peran dalam proses reaktivasi kawasan, mulai dari pembangunan infrastruktur dasar hingga pengembangan fungsi ekonomi dan sosialnya.
“Task Force ini akan memetakan secara rinci tanggung jawab masing-masing pihak, baik Pemprov DKI, pemerintah pusat, maupun peluang keterlibatan sektor swasta,” ungkap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pada tahap awal 2026, Pemprov DKI akan fokus memperbaiki sarana dan prasarana dasar, seperti jalan, sungai, dan jalur pedestrian. Langkah tersebut menjadi pondasi penting sebelum memasuki tahap pembangunan lanjutan dan penataan fungsi ruang.
Gubernur Pramono menargetkan kesiapan penuh kawasan Kota Tua untuk menyambut dua momentum penting, yaitu perayaan 500 Tahun Jakarta pada 2027 dan selesainya jalur MRT ke Kota Tua pada 2029.
“Pada 2027 pembangunan di atas tanah diharapkan rampung, lalu fokus beralih ke konstruksi bawah tanah. Dengan selesainya MRT pada 2029, Kota Tua akan siap menjadi hub baru Jakarta yang menarik wisatawan dari berbagai negara,” tuturnya.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengapresiasi langkah cepat Pemprov DKI dan memastikan dukungan penuh pemerintah pusat.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif Pak Gubernur Pramono Anung untuk menghidupkan kembali Kota Tua sebagai ikon baru Jakarta. Banyak gedung di kawasan ini milik BUMN seperti Bank Mandiri, PT Pos, dan PT KAI, sehingga koordinasi lintas sektor menjadi kunci,” ujar Menteri Rosan.
Rosan menegaskan pihaknya akan berkoordinasi dengan BUMN pemilik aset di kawasan tersebut untuk memastikan perawatan dan revitalisasi gedung berjalan sesuai ketentuan cagar budaya.
“Kami pastikan revitalisasi dilakukan tanpa menghilangkan nilai heritage-nya. Ini kerja kolektif yang memerlukan sinergi besar antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pelaku ekonomi kreatif," ujarnya.
(*)