Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melonjak pada Senin, 27 Oktober 2025 waktu setempat. Wall street melesat setelah pejabat AS dan China meredakan ketegangan terkait hubungan dagang pada pekan lalu.
Hal ini mendorong harapan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping untuk mencapai kesepakatan perdagangan pada pekan ini.
Advertisement
Mengutip CNBC, Selasa (28/10/2025), indeks S&P 500 naik 1,23% menjadi 6.875,16, penutupan pertama di atas level 6.800. Sedangkan indeks Nasdaq reli 1,86% menjadi 23.637,46 didorong kenaikan saham Nvidia dan saham chip lainnya. Indeks Dow Jones bertambah 0,71% atau 337,47 poin ke posisi 47.544,59.
Tiga indeks saham acuan kompak menguat ke rekor tertinggi. Demikian juga dengan indeks acuan Russell 2000 yang berisi saham-saham kapitalisasi kecil.
"Saya pikir kita memiliki kerangka kerja yang sangat sukses untuk dibahas para pemimpin pada Kamis," kata Menteri Keuangan Scott Bessent dari KTT ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kerangka kerja tersebut berpotensi mencakup penundaan pembatasan ekspor tanah jarang China yang menyebabkan gejolak perdagangan terbaru, pencabutan tarif 100% yang diancam Trump terhadap China yang akan dimulai pada 1 November, dan dimulainya kembali pembelian kedelai Amerika Serikat oleh China.
Perjanjian tersebut juga dapat mencakup penyelesaian sengketa TikTok, dengan AS mendapatkan kesepakatan untuk versi domestik aplikasi video sosial tersebut.
"Saya sangat menghormati Presiden Xi, dan kami akan mencapai kesepakatan ini," kata Trump pada Senin dari Air Force One.
Saham Produsen Chip Melesat
Produsen cip, sektor yang paling dirugikan akibat ketegangan dengan China, mendukung reli pada Senin. Nvidia serta perusahaan lain seperti Broadcom naik lebih dari 2%. Tesla melonjak 4,3%.
Saham Qualcomm naik 11% dan mencapai rekor tertinggi baru di awal hari perdagangan setelah perusahaan mengumumkan cip kecerdasan buatan baru, sebuah langkah yang menempatkannya dalam persaingan dengan Nvidia dan AMD.
"Jika kita mencapai semacam perjanjian perdagangan yang menguntungkan antara AS dan China, maka kedua mitra dagang terbesar ini akan kembali bekerja sama. Itu juga akan menjadi pertanda yang sangat positif," ujar kepala strategi investasi di CFRA Research, Sam Stovall kepada CNBC.
"Banyak proyeksi untuk sektor teknologi tidak melibatkan Tiongkok, jadi setelah China kembali diperhitungkan, proyeksi tersebut mungkin akan cukup optimistis bagi pasar."
Menanti Laporan Keuangan
Laporan pendapatan perusahaan-perusahaan teknologi besar akan segera dirilis, dengan beberapa saham "Magnificent Seven", termasuk Alphabet, Amazon, Apple, Meta Platforms, dan Microsoft, akan merilis hasil kuartal ketiga mereka minggu ini.
Investor juga memperkirakan Federal Reserve (the Fed) menurunkan suku bunga acuannya pada Rabu, terutama setelah Biro Statistik Tenaga Kerja merilis data inflasi yang sedikit lebih rendah dari perkiraan minggu lalu.
"Saham berkapitalisasi kecil dan menengah diperdagangkan dengan diskon yang sangat tajam dibandingkan saham berkapitalisasi besar, dan jika kita melanjutkan pemangkasan suku bunga dan prospek tidak adanya resesi, kinerja mereka juga akan sangat baik," Stovall menambahkan.
Saham baru saja melewati minggu yang bullish, dengan ketiga indeks utama mencapai rekor tertinggi Jumat lalu.