Liputan6.com, Jakarta - Tidak semata berdaya, para perempuan juga bisa memimpin industri perhotelan di Indonesia. Kepercayaan itu diimplementasikan Accor Group melalui RiiSE, program global untuk mempromosikan kesetaraan gender, melawan diskriminasi, dan memberdayakan pekerja mereka, khususnya perempuan-perempuan muda.
"Pekerja-pekerja muda ini dipersiapkan jadi leader," kata General Manager ibis Jakarta Raden Saleh, Irma Riesan, pada Lifestyle Liputan6.com di sela acara perayaan ke-7 RiiSE di Jakarta, Jumat, 24 Oktober 2025. "Dari 140 hotel kami di Indonesia, 21 di antaranya dipimpin GM perempuan."
Advertisement
RiiSE, yang diterapkan dalam program pengembangan individu, mengumpulkan para pekerja perempuan yang dianggap berpotensi jadi pemimpin. Kurasinya dilakukan secara cermat oleh masing-masing hotel sebelum akhirnya mereka menjalani program pengembangan individu selama setahun.
"Tahun ini, ada sekitar 50 mentees terpilih dari 43 hotel (Accor) di Jakarta dan sekitarnya," sebutnya. "Selama menjalani program, para mentees akan di-mentoring langsung oleh GM."
Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah mentees yang terpilih pada 2025 sengaja dikurangi supaya proses bimbingan berjalan lebih mulus. "Kalau satu GM pegang lima mentees kayak tahun-tahun lalu, takut keteteran. Jadi tahun ini, satu GM pegang satu sampai dua mentees," Irma berbagi.
Masing-masing mentee mengajukan proyek yang akan jadi fokus mereka dalam program pengembangan individu. "Ini self-motivated learning, jadi mentee harus berani minta waktu GM, bikin janji temu untuk melakukan sesi mentoring," ucapnya.
Rangkaian Program RiiSE
Irma mengatakan bahwa mentee dalam program RiiSE belum tentu mendapat GM dari hotel tempat mereka bekerja. "Misalnya, mentee-nya dari Mövenpick, tapi mentornya dari Fairmont," ia mencontohkan.
"Mereka harus cross exposure ke hotel (Accor) lain, jadi mereka tidak hanya pintar di hotelnya sendiri, tapi melihat best practice di hotel lain seperti apa, karena setiap hotel pasti ada bedanya. Areanya pun tidak selalu sama dengan pekerjaan mereka."
"Kalau mereka kerjanya di front office, mereka bisa belajar housekeeping, bisa belajar accounting di hotel lain. Mereka juga harus mengikuti online training dari Accor Academy, dan yang terakhir, mereka harus membuat final project yang akan dipresentasikan di depan panel juri Desember mendatang," bebernya.
Komunitas Para Perempuan Pekerja
Proyeknya, kata Irma, bukan sembarang proyek, bukan gagasan angan-angan, karena itu berpotensi diimplementasikan secara konkret. "(Berkaca) dari tahun-tahun sebelumnya, ada proyek untuk menaikkan ranking hotel di TripAdvisor," ujarnya.
"Ada juga yang tadinya personal assistant terus dia mengusulkan sustainability program supaya dia bisa jadi quality manager," ia menambahkan. Ya, program pengembangan individu RiiSE merupakan salah satu kesempatan mendapat promosi.
"Tahun lalu," kata Irma. "Ada 17 orang yang berhasil mendapat promosi (jabatan)."
RiiSE juga jadi wadah dalam memetakan tantangan-tantangan sektor perhotelan ke depannya. "Ini sekaligus jadi komunitas untuk menguatkan satu sama lain, karena jujur, tidak mudah jadi pekerja perempuan. Dalam hidupnya, perempuan punya banyak sekali peranan," ungkap dia.
Bekerja Jadi Bagian dari Hidup
Mengimbangi waktu untuk menjalani peran-peran itu pun dibahas, dan di antara narasi menarik, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang hadir di kesempatan tersebut, mengaku tidak sepakat pada gagasan work life balance.
"Kalau begitu jadi seolah-oleh kita memisahkan bekerja dari kehidupan, padahal bekerja juga bagian dari kehidupan. Hidup itu work, play, and rest," tuturnya.
Baginya, dukungan pasangan dan keluarga untuk menjalani peran-peran tersebut sangat penting. "Pas cape bekerja, suami dan keluarga itu kayak power bank (pengisi energi)," ia berbagi.
Menjaga keseimbangan itu, Director of Learning and Development Accor Academy Asia, Utari Triandani, menyarankan untuk menghindari toxic hustle dalam bekerja. "Karena bekerja adalah bagian dari hidup, kita harus bekerja secara cerdas," ungkapnya di kesempatan yang sama.