Liputan6.com, Jakarta - Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova membeberkan sumber mikroplastik yang mengkontaminasi air hujan. Hal ini disampaikan sebagai penjelasan bahwa bukan air hujan yang turun mengandung mikroplastik, melaikan air hujan yang sudah turunlah yang terkontaminasi pelbagai benda padat dan cair sehingga hasil riset menunjukkan ada kandungan mikroplastik di dalamnya.
"Air hujan itu aslinya bersih, kemudian membersihkan berbagai macam polutan. Lalu sumbernya dari mana saja mikro plastik? Pertama dari pakaian pakaian yang kita gunakan sebagian besar sekarang adalah polyester atau nylon atau polimer yang sintetis bukan katun yang memang tidak natural fiber," kata Reza saat media briefing terkaif isu mikroplastik dalam air hujan di Kantor Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).
Advertisement
Reza melanjutkan, sumber kedua adalah dari penggunaan plastik sekali pakai.
Kemudian yang ketiga adalah pengelolaan sampah di luar Jakarta. Ia mengatakan, Jakarta waste management atau pengelolaan sampah sudah baik, karena lebih dari 95% sampah itu dijemput dari sumber, dari perumahan, perkantoran, dan lain-lain.
"Jadi (sumber) masalah adalah di wilayah yang ada di sekitar Jakarta seperti di Bodetabbek dan kemudian ada yang di Banten sampai bahkan sampai Purwakarta itu waste collection ratenya masih sangat rendah, bahkan banyak yang di bawah 50%," ungkap Reza.
Pengelolaan Sampah
Reza mencatat buruknya pengelolaan sampah di luar Jakarta menyebabkan praktik buang sampah di sembarang tempat terjadi, bahkan dilakukan pembakaran sampah di tempat terbuka terjadi dimana-mana.
"Ketika pembakaran secara terbuka itu dilakukan dan masif hampir setiap hari, maka mikroplastik itu akan lebih cepat kemungkinan terbang ke udara! bahkan yang ada di sana tidak hanya mikroplastik karena kita saat kita membakar plastik akan menyebabkan Dioksin furan yang bisa berkorelasi (dengan mikroplastik) dan menyebabkan kanker!" pungkas dia.
Mengenai Mikroplastik
Sebagai informasi, mikroplastik adalah partikel halus yang memiliki sifat yang unik seperti sponge cuci piring. Jika sponge cuci piring menyerap air, kalau mikroplastik bisa menjadi tempat senyawa lain atau menjadi tempat penyimpanan polutan lain yang sudah tersebar di udara.
Termasuk Dioksin furan yang merupakan senyawa organik persisten yang beracun, terbentuk sebagai produk sampingan dari pembakaran yang tidak sempurna, termasuk pada proses industri, pembakaran sampah, dan kebakaran hutan.