Haloka Bhagya, Debut Single IP Literasi Budaya Spiritual Nusantara Kuna

“Haloka Bhagya” bisa jadi merupakan awal dari sebuah perjalanan baru dalam literasi budaya spiritual Nusantara kuna.

oleh Tim ShowbizDiterbitkan 23 Oktober 2025, 19:30 WIB
Artwork “Haloka Bhagya” merupakan single debut dari IP (Intellectual Property) Haloka Bhagya. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - “Haloka Bhagya” bisa jadi merupakan awal dari sebuah perjalanan baru dalam literasi budaya spiritual Nusantara kuna. “Haloka Bhagya” merupakan single debut dari IP (Intellectual Property) Haloka Bhagya — bagian dari gerakan literasi budaya spiritual Nusantara kuna yang menggabungkan ilmu pengetahuan, seni, dan kesadaran batin dalam satu ekosistem kreatif.

“Haloka Bhagya” bermakna “Alam Bahagia” atau “Semesta dalam Cahaya Kebahagiaan”. Lagu ini hadir bukan sekadar karya musik yang bercerita tentang cinta kasih antara laki-laki dan perempuan, melainkan mantra dan panggilan jiwa — mengajak pendengarnya untuk kembali pada kesadaran Diri Sejati.

“Haloka Bhagya” adalah karya spiritual-cinematic dari Geibby Sri Ningrum, yang menelusuri perjalanan dua jiwa menemukan cahaya. Aransemen musiknya menggabungkan nuansa ambient etnik Nusantara dengan vokal lembut dan puitis, menghadirkan suasana yang sekaligus menenangkan dan emosional.

Melalui lirik yang sarat makna — tentang cinta, kesetiaan, dan penerimaan takdir — lagu ini menjadi doa musikal bagi siapa pun yang sedang mencari kedamaian batin.

Perpaduan Etnik, Modern, dan Puitis

“Haloka Bhagya ditulis sebagai undangan untuk kembali mengingat cinta yang murni,keseimbangan dalam diri, dan harmoni yang bisa kita bagikan kepada dunia. Cinta dalam lagu ini bukan kisah dua insan semata, tetapi juga cermin perjalanan manusia menuju kebahagiaan sejati,” ujar Geibby Sri Ningrum, penyanyi sekaligus penulis lirik lagu ini dalam rilis yang diterima Liputan6.com.

Melalui aransemen yang memadukan melodi modern dan napas etnik Nusantara, dengan music director Edmon Kemur dan pengisi instrumen tradisional Sekar & Gita (Memayu), “Haloka Bhagya” menciptakan atmosfer reflektif dan meditatif.

Di lagu “Haloka Bhagya”, dengan eksekutif produser Sumaryaly (Paguyuban Jawa Kawedar) & HNJ Musik (HanyakaNata Jalma) ini, lirik mengalir lembut, seperti doa dan cinta yang menuntun pendengarnya menelusuri perjalanan spiritual tentang pertemuan antara dua energi — maskulin dan feminin — dalam diri pribadi, sesama makhluk hidup, dan alam semesta yang saling melengkapi dan menyalakan cahaya kehidupan.


Makna dan Filosofi di Balik Lagu

Geibby Sri Ningrum, penyanyi sekaligus penulis lirik lagu Haloka Bhagya. (Dok. Istimewa)  

Di permukaannya, lirik lagu Haloka Bhagya tampak seperti kisah cinta dua insan yang tak lekang oleh waktu — namun sejatinya, lirik ini berbicara tentang perjalanan kesadaran manusia menuju pertemuan dengan dirinya sendiri. Ia adalah dialog antara diri luar (yang berjalan di dunia fana) dan diri sejati yang abadi, yang selalu menunggu untuk diingat kembali.

Lanjut Baca:

Sementara lirik pembuka lagu ini adalah bagian bait dari tembang Asmaradana, sebuah tembang Jawa yang mengingatkan kita agar tidak melihat sesuatu atau seseorang dengan rupa dan harta bendanya melainkan hatinya. Makna lirik tersebut mengajak kita untuk melihat dan merasakan lebih dalam daripada yang terlihat mata. Dalam setiap barisnya, lagu ini menuturkan perjalanan batin seseorang yang perlahan menyadari bahwa di balik semua perpisahan, keraguan, luka, danperubahan, ada satu sosok yang tak pernah benar-benar pergi — dirinya sendiri. “Kau dan aku berjumpa, takdir berputar” bukan hanya kisah dua jiwa yang bertemu, melainkan simbol dari jiwa manusia yang akhirnya bersua kembali dengan kesadarannya. Pertemuan ini adalah momen kebangkitan — ketika seseorang menatap cahaya di dalam dirinya dan mengenali bahwa dari sanalah segala harapan bermula. Lirik “Dari gelap hingga terang, kita selalu satu” melambangkan transformasi batin dari ketidaktahuan menuju kesadaran, dari duka menuju penerimaan, dari keterpisahan menuju persatuan dengan sumber daya. Di sini, cinta bukan hanya emosi antar manusia, melainkan frekuensi kesadaran tertinggi — daya universal yang menyatukan segala sesuatu di alam semesta.  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya