Pria Jepang Tipu Aplikasi Makanan, Pesan 1.000 Hidangan Gratis dengan 124 Akun Palsu

Pria pengangguran asal Jepang menipu aplikasi pengiriman makanan untuk hidup gratis selama dua tahun.

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 24 Oktober 2025, 18:35 WIB
Model menunjukkan menu pada aplikasi berbasis mobile yang menawarkan inovasi konsep restoran digital pertama di Indonesia saat Soft Launching Aplikasi MeeberLite dan Meeberian di Jakarta, Selasa (31/7). (Liputan6.com)

Liputan6.com, Tokyo - Melalui platform digital pengiriman makanan, Takuya Higashimoto, menipu aplikasi Demae-can untuk mendapatkan 1.000 makanan gratis dengan menggunakan 124 akun palsu di Jepang.

Pria pengangguran ini berusia 38 tahun, dari Nagoya, Prefektur Aichi, dan memanfaatkan kebijakan pembatalan pesanan dengan menggunakan nama dan alamat palsu, dilansir dari Oddity Central, Jumat (24/10/2025).

Dengan cara ini, ia berhasil menggunakan 124 akun palsu di aplikasi pengiriman Demae-can, yang membuatnya dapat makan tanpa membayar sepeser pun.

Modusnya ini sangat sulit untuk mendeteksi dan menghentikan operasinya, yang mengakibatkan kerugian lebih dari 3,7 juta yen (24 ribu dolar AS) pada aplikasi Demae-can.

Trik Licik Melalui Kartu Prabayar

Demi menghilangkan jejak bukti, ia menggunakan kartu prabayar yang dapat diakses berkali-kali dengan akun palsu.

Setiap kali memesan makanan, ia memilih layanan antar tanpa kontak atau melakukan pembatalan keanggotanya beberapa hari kemudian.

Setelah makanan tiba, ia akan mengklaim bahwa makanan tidak pernah diterima dan meminta pengembalian uang.

Contohnya pada 30 Juli, ia berhasil menerima sebesar 16.000 yen (10.000 dolar AS), setelah mengklaim bahwa pesanan es krim, bento, dan steak ayam tidak diantar.

Ketika polisi melakukan penyelidikan, ia mengatakan tindakannya membuat kecanduan setelah awalnya hanya coba-coba.

Namun, tindakanya membuat kerugian di berbagai platform pengiriman makanan.

Akhirnya kasus ini mendorong Demae-can untuk memperkuat sistem keamanan guna mendeteksi aktivitas mencurigakan, yang mencegah penipuan serupa tidak terulang.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya