Liputan6.com, Jakarta - Istri yang memasuki masa perimenopause kerap memiliki konflik dengan anak yang tengah melangkah ke masa pubertas.
“Di kedua fase itu, keduanya dalam kondisi sama-sama sensitif, karena perubahan mood yang tidak stabil,” kata Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji dalam webinar pada Kamis, 16 Oktober 2025.
Advertisement
Menurut Wihaji, pria sebagai ayah dan suami perlu mengenali dan memahami kedua situasi ini, baik secara biologis maupun psikologis. Ayah akan menjadi penyeimbang bagi keduanya dan hadir dengan empati dan pengertian.
“Itu penting dipelajari tidak hanya untuk kita, karena mempengaruhi masa depan keluarga,” ujar Wihaji.
Sayangnya, Survei Sosial Ekonomi Nasional (BPS 2022) masih menunjukkan bahwa peran pengasuhan masih didominasi oleh ibu, sedangkan ayah cenderung lebih fokus pada peran ekonomi.
Salah satu ayah sekaligus suami yang menghadapi situasi ini adalah figure publik, Yosi Mokalu. Menurutnya, tantangan bagi ayah sekaligus suami adalah siap berperan di setiap musim.
“Challenge-nya adalah apakah kita bisa berperan di setiap musim, bagaimana dengan musim menopause? Harus diobservasi, tidak bisa sembarangan, saya juga punya anak remaja yang pasti butuh penanganan khusus,” kata Yosi.
Pentingnya Pahami Perubahan Hormon Perempuan
Dalam kesempatan itu, Pakar Kesehatan Reproduksi, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, MD, FRANZCOG, GDRM, MMIS, Sp.OD menekankan pentingnya memahami perubahan hormon pada perempuan.
Terutama saat mendekati menopause atau yang disebut dengan perimenopause. Ini biasanya dimulai pada usia 40-an tetapi bisa bervariasi dari pertengahan 30-an hingga awal 50-an.
Sebagai obgyn, Ivan pun memaparkan secara luas mengenai sistem reproduksi dan perubahan hormon di setiap fase. Masa transisi menopause melibatkan kegagalan aktivitas siklus ovarium yang merupakan sumber utama estrogen pada wanita sebelum menopause.
“Penurunan hormon estrogen dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, serta menimbulkan berbagai gejala yang perlu diatasi dengan komunikasi yang baik antara pasangan,” ujar Dekan FK IPB University itu.
Pentingnya Dukungan Pasangan dan Lingkungan
Pada masa transisi, menopause dapat disertai dengan ketidakteraturan menstruasi. Namun, kata Ivan, banyak wanita yang tidak mengalami masalah apa pun.
Sedangkan pada fase pasca menopause, wanita dengan kekurangan estrogen tampak mengalami percepatan timbulnya osteoporosis, penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, serta penyakit alzheimer.
“Dukungan pasangan dan lingkungan sangat penting untuk menjaga kesehatan keluarga,” ucap Ivan.
Sementara, pakar psikologi keluarga, Dr. Irfan Aulia, M.Si, Psikolog, membahas lebih dalam aspek psikologis dan pentingnya komunikasi dalam keluarga. Ia menekankan bahwa laki-laki harus memahami kebutuhan emosional perempuan dan memberikan rasa aman.
Irfan juga menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam kehidupan anak perempuan dan bagaimana komunikasi yang baik dapat mencegah konflik dalam rumah tangga.
Perhatian kecil yang konstan dan komunikasi yang terbuka adalah kunci untuk menjaga hubungan yang sehat.
"Seringkali yang dibutuhkan perempuan adalah hanya didengarkan ketika curhat, namun laki-laki cenderung fokus mencari solusi. Inilah yang juga sering menimbulkan konflik,” jelasnya.
Selain itu, keterlibatan ayah dalam pengasuhan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kecerdasan moral remaja, kematangan emosi, serta kemandirian.
“Semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin tinggi kemandirian remaja,” tutup Irfan.