Liputan6.com, Jakarta Puluhan ibu Desa Sukawana, Curug, Kota Serang, Banten, memenuhi pekarangan depan rumah Ketua RT setempat, sejak pagi hari. Bukan sekadar bersantai. Mereka sedang menanti kedatangan 'warung' keliling membawa sembako dengan harga miring.
Tak berselang lama, mobil pikap putih tiba. Bagian belakangnya sudah dimodifikasi. Ditambahkan jerjak besi dengan tinggi kira-kira satu meter dan ditutupi terpal kuning.
Advertisement
Wajah kaum ibu mendadak semringah. Mereka segera beranjak dari tempat duduknya dan mendekati arah mobil berhenti. Antusias para ibu membuat sopir buru-buru turun dan membuka terpal. Di dalamnya, sudah tersusun lengkap sembako berbagai jenis. Antara lain, minyak, gula, telur ayam negeri. Semuanya dibandrol dengan harga murah.
"Diborong-borong, murah-murah," teriak sopir lewat pengeras suara
Suasana mendadak riuh. Ibu-ibu bergerak cepat mengelilingi mobil. Mereka sibuk memilih bahan pangan akan dibeli. Sesekali terdengar celutukan agar barang tak diborong satu orang. Setelah puas berbelanja, ibu-ibu kemudian membayarkan pada seorang wanita yang bertindak sebagai kasir. Rupanya, ini kali kedua mobil bak putih membawa sembako masuk ke kampung mereka.
Kegiatan sembako keliling ini rupanya digagas Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sukawana, Curug, Kota Serang, Banten. Selain menawarkan sembako murah dengan cara menjemput bola, KKMP Sukawana juga sering mengadakan bazar murah keluar masuk perkampungan warga.
"Macam-macam, untuk harga paket yang jelas sangat jauh dengan harga di warung, Minyak Kita saja kita jual untuk anggota cuma Rp 15.700. Beras SPHP yang 5kg, kita jual Rp 60.000, telur ayam sekilo nya itu Rp 26.000," ujar Ketua KKMP Sukawana Curug, Saeful, saat berbincang dengan Liputan6.com melalui pesan elektroniknya, Kamis, (16/10/2025).
Biasanya, mobil bak putih membawa sembako akan mendatangi perkampungan warga setiap hari Minggu. Sebelumnya, pihak koperasi akan menginformasikan ke pihak RT dan RW. Baru kemudian diteruskan ke warga. Pembentukan KKMP Sukawana Curug diinisiasi dari program Koperasi Merah Putih yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Sesuai Instruksi Presiden (Inpres) nomor 09 tahun 2025, koperasi ini bertujuan memperkuat perekonomian kerakyatan dan ketahanan pangan di lingkungan masyarakat kelurahan maupun pedesaan.
Kick off program ini dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Juli 2025 lalu. Di momen itu, Prabowo meluncurkan kelembagaan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih. Mengutip data https://merahputih.kop.id/ per tanggal 17 Oktober 2025, di fase I ini, ada 82.066 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang sudah berbadan hukum. Rinciannya, 8.587 koperasi kelurahan berbadan hukum, dan 73.477 koperasi desa berbadan hukum.
Prabowo mengibaratkan koperasi seperti sebuah lidi yang banyak. Bisa memperkuat ekonomi, utamanya bagi masyarakat desa. Konsep gotong royong menjadi kekuatannya.
Saeful bercerita, KKMP Sukawana Curug kini memiliki anggota 300 lebih. Latar belakangnya beragam. Ada petani, pelaku UMKM, pedagang kecil, peternak, hingga karyawan. Selain mengadakan bazar sembako murah, KKMP Sukawana Curug juga aktif memberikan pelatihan manajemen administrasi, pendampingan hingga pelatihan bagi pelaku UMKM agar lebih berkembang lagi.
"Kami juga mensuplai produk kemasan makanan UMKM, membina UMKM yang ingin tumbuh bersama koperasi, hingga memberikan pemahaman management administrasi usaha tingkat UMKM," jelasnya.
Sama dengan KKMP Sukawana, KKMP Tegal Maja di Banten juga belum menyediakan fasilitas peminjaman uang untuk anggotanya. Mereka memilih fokus menjual barang-barang kebutuhan dapur dengan harga murah. "Sudah ada simpanan tapi pinjam enggak dulu, simpan pinjam juga besar bunganya kan membebani masyarakat juga. Jadi itu kita hindari dulu," ujar Kepala Desa Tegal Maja, Muhamad Iksan, kepada Liputan6.com.
Simpanan yang dimaksud ada yang sifatnya wajib dan pokok. Simpanan pokok dan wajib bisa diambil ketika mereka keluar dari keanggotaan koperasi. Berapa besarannya, Iksan tak merinci. Namun menurut dia, Koperasi Tegal Maja sudah memiliki 300 anggota.
Sejak beberapa bulan beroperasi, KKMP Tegal Maja sudah mendapatkan keuntungan. Tidak terlalu besar, tetapi buat mereka itu pencapaian yang baik di awal.
Upaya Terbebas Jerat Pinjol
Seorang warga Bandung, Teguh Cahya Gumilang punya mimpi sederhana. Dia berharap tidak ada lagi cerita masyarakat kecil terjerat pinjaman online hingga rentenir karena kesulitan ekonomi. Alasan itulah yang membuat warga Kelurahan Maleber, Kota Bandung, ini berminat terjun sebagai anggota Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Maleber, Kota Bandung. Meski niatnya mulia, Teguh meyakini proses melapaskan kehidupan dari urusan utang tak bisa buru-buru diwujudkan.
"Mungkin butuh waktu tapi saya yakin dengan adanya Koperasi Merah Putih di wilayah Maleber ini dalam kurun waktu dua tahun mendatang hal tersebut dapat diberantas. Karena usia koperasi di kami ini masih dua bulan operasionalnya," ucap Teguh kepada Liputan6, Bandung, Jumat (17/10/2025). Di Koperasi Kelurahan Merah Putih wilayah Maleber, memang belum banyak item sembako dijual. Baru ada minyak goreng kemasan. Tetapi antusias warga, cukup tinggi. Sebab harga ditawarkan jauh lebih murah.
Sebenarnya, Teguh ingin mengembangkan usaha koperasinya lebih besar. Apa daya, modal yang masih terbatas. Tetapi semangat anggota koperasi membuat dirinya makin percaya diri. Membiarkan koperasi ini tumbuh meski perlahan.
Debut Koperasi Kelurahan Merah Putih Maleber dimulai pada Juli 2025. Berjalan merayap tapi pasti. Hasil itu terlihat jauh dengan keberadaan koperasi serupa yang berjalan tersendat. Kekompakan anggota jadi kekuatan tersendiri. Mereka berani mempromosikan keberadaan koperasi yang dirintis dari mulut ke mulut. Tak hanya itu, warga juga diedukasi soal latar belakang pendiriannya.
Antusiasme warga setempat juga sangat membantu operasional koperasi meski hanya sebagai pembeli. Dia mendengar, warga merasa terbantu dengan kehadiran Koperasi Kelurahan Merah Putih Maleber, Kota Bandung. Teguh berharap warga Maleber Kota Bandung tidak dan tak akan ada lagi yang terjerat utang akibat mencari desakan ekonomi dengan cara yang salah.
Inovasi Dipertajam
Ketua Forum Lurah Kota Bandung Maulana berharap, ke depan terus ada inovasi untuk menyokong keberlangsungan Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) di Kota Bandung. Tanpa inovasi, kata dia, KKMP bisa bernasib serupa dengan koperasi yang sebelumnya mandeg. Maulana menyebut, di Kota Bandung ada 151 KKMP yang sudah berbadan hukum dan semua sudah berjalan. Namun yang operasionalnya sudah berkembang di sekitaran 50 persen.
Sama halnya dengan KKMP Cibaduyut Wetan, tempat Maulana bertugas sebagai lurah. Jenis usaha yang kini dikembangkan adalah penyediaan sembilan bahan pokok (sembako). Anggotanya 75 orang dengan modal Rp 4 juta an..
Maulana menyebut sembako yang disediakan KKMP Cibaduyut Wetan setidaknya menjadi solusi kecil menjawab kebutuhan pokok warga sekitar. Untuk kisaran harga jual, dipastikannya lebih murah dibandingkan dengan toko sejenis yang non koperasi.
"Untuk harga penjualan selisihnya kecil pokoknya di bawah harga warung dan servicenya diantar ke rumah. Khusus pembayaran bagi anggota dan pekerja di kelurahan bisa satu bulan dengan sistem potong gaji," ungkap Maulana.
Maulana berharap KKMP Cibaduyut Wetan yang dikelolanya dapat berkembang pesat, seiring bertambahnya jumlah anggota di koperasi tersebut. Tak hanya itu, dia juga berharap program yang disambut baik masyarakat ini, terus melahirkan inovasi agar terus bertumbuh dan menjadi jawaban atas tujuan pemerintah menopang perekonomian rakyat kecil.
Salah satu inovasi pemerintah untuk mengakselerasi koperasi desa Merah Putih adalah dengan sistem digitalisasi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ambil bagian dalam modernisasi koperasi desa dan kelurahan melalui pemanfaatan teknologi digital.
Komdigi berperan menghubungkan koperasi desa dengan sistem digital nasional melalui berbagai program yang berfokus pada ketersediaan infrastruktur, pelatihan literasi digital dan pengembangan ekosistem digital.
Dengan modernisasi dan digitalisasi, sistem koperasi Merah Putih akan terintegrasi sehingga bisa meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing ekonomi desa. Program ini bertujuan mengelola operasional koperasi secara digital untuk layanan yang lebih baik dan pengawasan yang transparan dan mencegah penyalahgunaan serta kejahatan daring lainnya.
“Koperasi Desa Merah Putih adalah jantung ekonomi kerakyatan. Melalui digitalisasi, kami memastikan koperasi desa terkoneksi, terlindungi, dan mampu membuka pasar baru bagi hasil bumi,” jelas Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid.
Kembalinya Rakyat Sebagai Pelaku
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menginginkan masyarakat desa menjadi subjek utama yang menggerakkan ekonomi lokal dan nasional melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes/kel MP).
“Ini adalah sejarah kembalinya rakyat sebagai pelaku, menjadi subjek dari ekonomi Indonesia,” kata Menkop Ferry di Bekasi, Jawa Barat, Jumat.
Lebih lanjut, Ferry mengatakan, dengan berjalannya kegiatan operasional Kopdes Merah Putih nanti, diharapkan dapat berfungsi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.
“Harapannya nanti Koperasi Desa/Kelurahan (Merah Putih) akan memicu dan memajukan pertumbuhan, mempercepat pertumbuhan ekonomi di desa-desa,” kata Menkop Ferry.
“Lalu, secara umum, cita-cita Presiden (Prabowo Subianto), cita-cita pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, insya Allah akan tercapai berkat dukungan pertumbuhan ekonomi yang ada di desa-desa,” ujar dia menambahkan.