Liputan6.com, Jakarta Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih berstatus Level IV (Awas) setelah erupsi eksplosif pada 14–15 Oktober 2025. Meski belum ada letusan baru, aktivitas vulkanik terpantau tetap tinggi.
Demikian hasil pemantauan visual dan instrumental yang dilakukan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Advertisement
Dalam laporan resminya, Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid A.N. menyampaikan bahwa gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut dengan asap kawah putih berintensitas tipis hingga tebal setinggi 100–300 meter dari puncak. Cuaca di sekitar gunung bervariasi dari cerah hingga hujan dengan suhu udara 21,8–30,2°C.
“Belum teramati erupsi baru, namun aktivitas kegempaan menunjukkan suplai magma dari kedalaman menuju permukaan masih berlangsung. Potensi erupsi susulan masih dapat terjadi,” tulis laporan tersebut.
2 Kali Gempa Susulan
Berdasarkan data kegempaan hingga Kamis (16/10) pukul 12.00 WITA, terekam 2 kali gempa erupsi, 7 kali gempa guguran, 3 kali gempa hembusan, 26 kali tremor non-harmonik, 6 kali gempa low frequency, 159 kali gempa vulkanik dalam, 4 kali gempa tektonik lokal, dan 16 kali gempa tektonik jauh.
Badan Geologi juga melaporkan adanya indikasi inflasi tubuh gunungapi, menandakan penggembungan akibat tekanan dari dalam bumi.
“Data GNSS menunjukkan kenaikan pada komponen vertikal, yang mengindikasikan adanya migrasi magma ke kedalaman dangkal,” lanjut laporan tersebut.
Dilarang Beraktivitas Radius 6 km
Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak beraktivitas dalam radius 6 km dari puncak, serta 7 km ke arah barat laut–timur laut dari pusat erupsi. Warga diminta tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Selain ancaman erupsi, warga di sekitar Nawakote, Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen diminta mewaspadai potensi banjir lahar bila terjadi hujan lebat. Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu operasional bandara dan jalur penerbangan di kawasan sekitar.
Badan Geologi mengingatkan masyarakat yang terdampak hujan abu untuk menggunakan masker atau pelindung hidung dan mulut demi mencegah gangguan pernapasan. Pemerintah daerah diimbau untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Informasi resmi dan pembaruan terkini mengenai aktivitas gunungapi dapat diakses melalui situs Magma Indonesia dan kanal resmi Badan Geologi Kementerian ESDM.