4 Alasan yang Membuat Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026: Lini Depan Tumpul hingga Taktik yang Dipertanyakan

Kekalahan 0-1 dari Irak pada laga kedua Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia menjadi pukulan telak bagi skuad Garuda.

oleh Asad ArifinDiterbitkan 13 Oktober 2025, 17:23 WIB
Ekspresi pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, saat melawan Timnas China dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Kamis (5/6/2025). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Liputan6.com, Jakarta Harapan Timnas Indonesia untuk menembus putaran final Piala Dunia 2026 resmi sirna. Kekalahan 0-1 dari Irak pada laga kedua Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia menjadi pukulan telak bagi skuad Garuda.

Gol tunggal Zidane Iqbal di babak kedua di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Minggu (12/10/2025) dini hari WIB, memastikan langkah Indonesia terhenti.

Hasil tersebut menempatkan Timnas di posisi juru kunci klasemen, setelah sebelumnya juga takluk 2-3 dari Arab Saudi pada laga perdana, Kamis (9/10/2025) dini hari WIB.

Kegagalan ini pun memunculkan berbagai analisis dan perdebatan soal faktor-faktor yang membuat Garuda tersingkir.

Setidaknya, ada empat hal utama yang menjadi penyebab utama tersingkirnya Indonesia dari persaingan menuju Piala Dunia 2026. Berikut ulasan lengkapnya:


1. Lini Depan yang Tumpul

Zaid Tahseen dari Timnas IRaq, kanan, ditantang oleh Mauro Zijlstra dari Timnas Indonesia dalam pertandingan babak keempat Grup B kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Irak dan Indonesia di Stadion Alinma Bank, King Abdullah Sports City, Jeddah, Arab Saudi, Minggu (12-10-2025) dini hari WIB. (Foto AP/Ali Issa)

Salah satu problem paling mencolok dari Timnas Indonesia adalah kurang tajamnya lini depan. Ketika menghadapi Arab Saudi, Indonesia memang mampu mencetak dua gol.

Namun, perlu diingat, kedua gol tersebut datang dari titik putih melalui eksekusi bek Kevin Diks, bukan hasil kreasi serangan terbuka.

Pada laga kontra Irak, pasukan Patrick Kluivert sejatinya tampil cukup agresif, terutama di babak pertama.

Beberapa peluang tercipta, termasuk dari aksi Mauro Zijlstra, namun tak satu pun mampu dikonversi menjadi gol. Kegagalan memanfaatkan peluang ini menjadi salah satu faktor kunci yang membuat Indonesia gagal meraih hasil positif.


2. Taktik Patrick Kluivert Dipertanyakan

Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, memimpin latihan resmi menjelang FIFA Matchday melawan Chinese Taipei di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Kamis (04/09/2025). (Bola.com/Abdul Aziz)

Pelatih Patrick Kluivert juga menjadi sorotan utama pasca-gagalnya Indonesia menembus Piala Dunia 2026. Banyak pihak menilai keputusan taktisnya tidak tepat dalam dua laga terakhir.

Kluivert memilih menggunakan formasi empat bek dalam dua pertandingan melawan Arab Saudi dan Irak. Namun, sistem ini justru membuat pertahanan Indonesia mudah ditembus, terutama saat kalah 2-3 dari Arab Saudi.

Selain itu, Kluivert juga dinilai terlalu berani melakukan rotasi yang mengubah komposisi pemain utama. Beberapa pemain kunci seperti Thom Haye dan Ole Romeny, yang biasanya menjadi tumpuan, justru baru dimainkan di babak kedua saat menghadapi Arab Saudi.


3. Kebugaran Pemain Menurun

Mauro Zijlstra telah bergabung dengan Timnas Indonesia, mengikuti latihan perdana skuad Garuda di bawah arahan Patrick Kluivert di lapangan ABC Surabaya, Selasa (2/9/2025). (Bola.com/Wahyu Pratama)

Faktor kebugaran juga turut berperan besar dalam menurunnya performa Timnas Indonesia. Dua laga krusial melawan Arab Saudi dan Irak berlangsung dalam jarak waktu yang singkat, hanya tiga hari.

Lanjut Baca:

Para pemain yang mayoritas berkarier di Eropa, seperti Kevin Diks, Jay Idzes, Calvin Verdonk, Dean James, dan Joey Pelupessy, harus menghadapi kelelahan akibat perjalanan panjang, jet lag, dan waktu pemulihan yang sangat terbatas selama di Jeddah. Jadwal yang padat dan kondisi fisik yang tidak ideal membuat performa para pemain jauh dari maksimal. Hal ini terlihat jelas pada laga kedua, di mana intensitas permainan Indonesia menurun drastis di babak kedua.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya