Bangun Sistem Kesehatan Inklusif dengan AI, Wamenkes Dante: Pasti Mudahkan Penyandang Disabilitas

Membangun sistem kesehatan yang inklusif adalah salah satu tujuan digelarnya ajang Indonesia Healthcare AI Hackathon 2025 ini.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 13 Oktober 2025, 13:28 WIB
Bangun Sistem Kesehatan Inklusif dengan AI, Wamenkes Dante: Pasti Mudahkan Penyandang Disabilitas, Jakarta (13/10/2025). Foto: Ade Nasihudin/Liputan6.com.

Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono memastikan bahwa pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di bidang kesehatan bisa berdampak baik bagi penyandang disabilitas.

“Bukan mungkin lagi, pasti akan (memudahkan) penyandang disabilitas untuk mengakses layanan kesehatan,” kata Dante kepada Disabilitas Liputan6.com dalam acara Indonesia Healthcare AI Hackathon di Gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Senin (13/10/2025).

Membangun sistem kesehatan yang inklusif adalah salah satu tujuan digelarnya ajang Indonesia Healthcare AI Hackathon 2025 ini.

“Ini adalah salah satu forum untuk melihat dan melakukan terobosan secara teknologi AI untuk beberapa penyakit yang penting di Indonesia,” ucap Dante.

Dia menjelaskan, Indonesia adalah negara dengan 17.000 pulau lebih. Luasnya wilayah Tanah Air, membuat pengembangan sebuah sistem fasilitas kesehatan konvensional menjadi tantangan tersendiri.

“Sehingga, dibuatlah beberapa modalitas yang dapat mendukung supaya akselerasi antar rujukan ini bisa berjalan dengan baik. Salah satunya adalah dengan menciptakan model AI untuk layanan kesehatan,” jelas Dante.

Tahun ini, sambungnya, Kemenkes fokus pada lima bidang kesehatan dan penyakit. Yakni stroke, stunting, diabetes, penyakit jantung vaskuler, dan tuberculosis.

“Dengan menggunakan teknologi AI, kita harapkan penanganan kasusnya lebih mudah, diagnosisnya lebih intensif lagi, sehingga kita bisa mendaftarkan data real di seluruh Indonesia,” katanya.

 

Himpun Berbagai Terobosan Inovasi

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono, Jakarta, Rabu (17/9/2025). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Ajang ini, sambung Dante, digelar untuk mempertemukan berbagai terobosan inovasi. Tujuannya, menjadikan AI sebagai salah satu sumber untuk melakukan diagnosis dan tata laksananya yang komprensif bagi kelima penyakit yang disebutkan di atas.

Dari target 10 peserta yang mendaftar, tanpa disangka ajang ini diminati oleh 278 pendaftar dengan inovasi AI masing-masing.

Lantas, untuk peserta dengan inovasi yang terpilih, apakah hasilnya akan dikolaborasikan dengan SatuSehat?

“Jadi begini, hasilnya ini harus dilakukan evaluasi dulu dengan menggunakan telaah evidence-based medicine. Kalau hasil AI-nya itu sudah masuk ke evidence-based medicine, baru nanti akan disinergikan.”

“Untuk kemudian transformasi ke SatuSehat, tentu kita terus melakukan simplifikasi platform yang ada di Indonesia untuk satu bergabung di dalam platform SatuSehat,” ujarnya.

 

Sudah Gunakan AI untuk Deteksi Tuberkulosis

Wamenkes Dante Saksono Harbuwono soal obesitas anak dalam ASEAN Car Free Day (ACFD 2025) di Jakarta, Minggu (14/9/2025). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Dante menambahkan, sejauh ini pemerintah sudah menggunakan AI dalam deteksi dini tuberkulosis.

“AI kita gunakan untuk deteksi tuberkulosis. Kita punya alat portable tuberculosis yang kita kirim ke puskesmas dengan menggunakan portable X-ray tersebut langsung terhubung dengan AI. Jadi yang baca rontgen-nya tidak perlu dokter radiologis, tapi dokter umum karena sudah dibekali dengan AI bisa mendiagnosis tuberkulosis secara dini di daerah-daerah perifer.”

Para peserta ajang ini umumnya adalah generasi muda alias Gen Z. Menurut Dante, pelibatan Gen Z menjadi penting untuk menghimpun dukungan dari berbagai pihak di luar Kemenkes.

“Program ini tidak eksklusif Kementerian Kesehatan, butuh dukungan dari daerah-daerah, pihak swasta, dari pihak internasional, supaya hasilnya bisa terealisasi lebih cepat lagi,” tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya