Cerita Karier Gemilang Gerard Pique: Dibentuk di Manchester, Bersinar di Barcelona

Gerard Pique bercerita bagaimana pengalaman di Manchester United, terutama belajar dari Rio Ferdinand, membentuk dirinya jadi bek top dunia di Barcelona.

oleh Dimas Ardi PrasetyaDiterbitkan 13 Oktober 2025, 11:03 WIB
3. Gerard Pique - Sejak bergabung dengan Barcelona, Gerard Pique menjelma menjadi bek papan atas dunia. Pique hijrah ke Barcelona pada 2008. Ini mungkin jadi salah satu kesalahan terbesar Alex Ferguson. (AFP/Filippo Monteforte)

Liputan6.com, Jakarta Gerard Pique dikenal sebagai salah satu bek tengah terbaik dalam sejarah sepak bola modern. Namun, perjalanan menuju status itu tidak terjadi dalam semalam. Sebelum meraih segalanya bersama Barcelona, Pique sempat menimba ilmu di Manchester United di bawah asuhan Sir Alex Ferguson.

Bek asal Spanyol itu bergabung dengan Setan Merah pada 2004 saat masih berusia 17 tahun. Ia datang dari akademi Barcelona dengan harapan besar, namun harus menghadapi kenyataan keras: sulit menembus tim utama yang saat itu diperkuat duet tangguh Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic.

Meski begitu, periode empat tahun di Old Trafford bukan masa yang sia-sia bagi Pique. Ia mencatatkan lebih dari 20 penampilan untuk United dan belajar banyak tentang kedisiplinan, etos kerja, serta cara berpikir sebagai pemain profesional di level tertinggi.

Pique mengakui bahwa pengalamannya di Manchester menjadi pondasi penting yang membentuk kariernya. Ketika kembali ke Barcelona pada 2008, ia bukan lagi pemain muda mentah, melainkan bek matang dengan pemahaman taktik dan mental juara khas Liga Inggris.


Dibimbing Para Senior, Belajar Langsung dari Rio Ferdinand

Rio Ferdinand. Bek tengah ini didatangkan dari Leeds United dengan nilai 30 juta pound pada musim 2002/2003. Total 12 musim bersama Manchester United, ia tampil dalam 455 laga dengan mencetak 8 gol. Ia dilepas gratis ke QPR pada 2014 karena tidak ditawarkan kontrak baru. (Foto: AFP/Andrew Yates)

Gerard Pique mengungkapkan bahwa masa-masanya di Manchester United sangat membantunya tumbuh sebagai pemain. Ia merasa beruntung karena dikelilingi para pemain top dunia yang mau berbagi pengalaman, terutama Rio Ferdinand.

Dalam sebuah wawancara di siniar Podpah, Pique bercerita bagaimana Ferdinand menjadi panutan utamanya. Ia belajar banyak dari gaya bermain dan sikap profesional sang bek Inggris yang kala itu dianggap salah satu yang terbaik di dunia.

“Ferdinand banyak membantu saya, dan karena gayanya mirip dengan saya, ia bermain dengan bola, bertubuh tinggi, memiliki permainan bola yang bagus, dan banyak orang yang membantu saya,” ujar Pique.

Ia menambahkan bahwa meskipun jarang mendapat menit bermain, ia menggunakan waktu di United untuk mengamati dan mempelajari cara Ferdinand membaca permainan, menjaga posisi, serta membangun serangan dari belakang. Semua hal itu, menurutnya, menjadi bekal berharga ketika ia kembali ke Barcelona dan berkembang menjadi pilar utama tim.


Akrab dengan Ronaldo dan Rekan United Lainnya

Duet Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney merupakan salah satu pasangan tersukses yang dimiliki oleh Manchester United. Pencapaian terbaik mereka ketika musim 2007/2008 karena berhasil menyabet gelar Liga Inggris sekaligus Liga Champions. (Foto: AFP/Yoshikazu Tsuno)

Selain belajar dari Ferdinand, Pique juga mengaku punya hubungan baik dengan banyak pemain Manchester United lainnya. Saat itu, skuad Ferguson dipenuhi bintang dari berbagai negara, dan Pique merasa diterima dengan hangat meski masih muda.

Lanjut Baca:

“Hubungan kami dengan Cristiano sangat baik karena ia juga tidak banyak berbicara bahasa Inggris, dan kami sedikit berbicara bahasa Portugis. Dengan Tevez, kami berbicara bahasa Spanyol. Patrice, seingat saya, juga banyak membantu. Ada banyak pemain yang sangat bagus. Lalu ada tim Inggris, ada Paul Scholes, Ryan Giggs, dan Neville bersaudara,” ungkapnya. Kedekatan dengan para pemain itu membuat Pique cepat beradaptasi dengan kehidupan di Inggris. Ia belajar cara kerja tim besar, disiplin dalam latihan, dan bagaimana menjaga fokus di tengah tekanan tinggi. Pengalaman itu pula yang membentuk mentalitasnya. Saat kembali ke Camp Nou, ia membawa karakter kuat khas Premier League yang kemudian berpadu dengan filosofi permainan Barcelona. Hasilnya adalah kombinasi ideal antara kekuatan fisik dan kecerdasan taktik.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya