Teror WhatsApp Jose Mourinho: Cara Brutal The Special One Mengusir Henrikh Mkhitaryan dari Manchester United

Henrikh Mkhitaryan menceritakan bagaimana Jose Mourinho secara brutal mengusirnya dari Machester United

oleh Asad ArifinDiterbitkan 10 Oktober 2025, 23:35 WIB
Pelatih MU, Jose Mourinho berbincang dengan striker Romelu Lukaku saat sesi latihan di dekat Carrington, Inggris (12/3). MU akan melawan wakil Spanyol Sevilla di leg kedua 16 besar Liga Champions di Old Trafford. (AFP Photo/Oli Scarff)

Liputan6.com, Jakarta Sebuah kisah mengejutkan kembali muncul dari masa kepelatihan Jose Mourinho di Manchester United. Mantan pemain Setan Merah, Henrikh Mkhitaryan, membongkar pengalaman pahitnya bersama pelatih asal Portugal.

Mkhitaryan menceritakan bagaimana Mourinho secara brutal mengusirnya dari klub dengan cara yang tak biasa: lewat pesan WhatsApp setiap malam.

Mkhitaryan bergabung dengan Manchester United pada 2016 setelah tampil gemilang di Borussia Dortmund.

Pemain asal Armenia itu datang dengan reputasi tinggi, terlebih karena gaya mainnya yang kreatif dianggap bisa memperkaya lini serang United. Namun, perjalanan kariernya di Old Trafford jauh dari kata mulus.

Dalam dua tahun masa baktinya, Mkhitaryan tampil dalam 63 pertandingan dengan torehan 13 gol dan 11 assist. Ia turut berperan dalam dua keberhasilan United di bawah Mourinho, yakni Carabao Cup dan Liga Europa pada 2017.

Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Mkhitaryan mengungkap sisi kelam di balik konflik tersebut melalui buku autobiografinya berjudul My Life Always at the Centre.


Mourinho dan Pesan WhatsApp Setiap Malam

Henrikh Mkhitaryan meninggalkan Manchester United pada 22 Januari 2018. Ia ditaksir memiliki banderol sebesar 35 juta euro. Kala itu, Pemain Armenia tersebut dilepas menuju Arsenal dengan mahar 34 juta euro. Mkhitaryan sendiri sempat menjadi andalan di lini tengah Setan Merah dengan mengoleksi 13 gol dan 11 assist dalam 63 kali penampilannya saat berseragam Setan Merah. (AFP/Ben Stansall)

Dalam pengakuannya, Mkhitaryan menulis bahwa Mourinho kerap menunjukkan sikap dingin bahkan di sesi latihan. Hubungan keduanya memburuk ketika pelatih asal Portugal itu mulai mengirimkan pesan pribadi setiap malam, mendesaknya untuk meninggalkan Manchester United.

"Selama sesi latihan, pelatih tidak mengatakan apa-apa kepada saya; ia tetap diam seperti orang religius, tetapi setiap malam ia mengirimi saya pesan melalui WhatsApp. 'Miki, pergilah, kumohon'," ungkap Mkhitaryan.

Mkhitaryan menambahkan bahwa situasi tersebut sangat menekan hingga membuatnya hanya bisa membalas dengan pesan seragam setiap kali: “Saya akan pergi jika menemukan tim yang tepat; jika tidak, saya akan menunggu hingga musim panas.”


Dari Perseteruan ke Pertukaran Transfer

Gelandang Manchester United Henrikh Mkhitaryan mencetak gol scorpion kick saat menghadapi Sunderland pada laga Premier League di Old Trafford, Manchester, Senin (26/12/2016). (AFP/Oli Scarff)

Ketegangan itu akhirnya mencapai puncaknya pada bursa transfer Januari 2018. Mourinho, yang saat itu tengah berupaya mendatangkan Alexis Sanchez dari Arsenal, memanfaatkan situasi Mkhitaryan sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran pemain.

"Mou menjawab: 'Keluar dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi,’” tulis Mkhitaryan, menggambarkan perpisahan mereka yang penuh ketegangan.

"Saya pergi bukan hanya untuk membantu Anda, dan tolong berhenti menulis pesan teks kepada saya. Kalau Anda mau, bicaralah dengan Mino [Raiola]," kata Mkhitaryan.

Kesepakatan pun terjadi, Alexis bergabung ke United, sementara Mkhitaryan pindah ke Arsenal. Di kemudian hari, Alexis Sanchez jadi salah satu transfer tidak berhasil dalam sejarah Manchester United.

Sumber: SportBible


Klasemen Premier League 2025/2026

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya