Hamas Setuju Bekukan Penggunaan Senjata, tapi Tolak Serahkan ke Israel

Pejabat senior Hamas Osama Hamdan menegaska bahwa rakyat Palestina tidak akan pernah menerima pelucutan senjata.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 10 Oktober 2025, 13:05 WIB
Sebuah foto yang diambil di Israel selatan dekat perbatasan dengan Jalur Gaza pada 11 Desember 2023, menunjukkan tentara Israel berjaga di sebuah bukit yang menghadap ke Gaza utara, di tengah pertempuran yang terus berlanjut antara Israel dan kelompok militan Hamas. (Menahem KAHANA/AFP)

Liputan6.com, Gaza - Hamas menyatakan kesediaannya untuk membekukan penggunaan senjata, namun menolak menyerahkannya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata terbaru di Gaza yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Hal ini disampaikan oleh Kepala Layanan Informasi Negara Mesir, Diaa Rashwan.

Pejabat senior Hamas, Osama Hamdan, menegaskan pada Kamis bahwa rakyat Palestina tidak akan pernah menerima pelucutan senjata

“Warga Palestina membutuhkan senjata untuk mempertahankan diri dan melanjutkan perlawanan,” ujarnya dikutip dari Al Arabiya, Jumat (10/10/2025).

Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS ini disambut luas oleh komunitas internasional. Perjanjian tersebut menandai fase awal dari rencana penghentian perang di Gaza serta pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas, dan mulai resmi berlaku pada Kamis.

Dalam wawancara dengan Al Arabiya, Rashwan menjelaskan bahwa pembekuan senjata merupakan bagian dari proposal Hamas sebelumnya kepada Israel. Usulan itu mencakup masa gencatan antara lima hingga sepuluh tahun.

Rashwan menegaskan bahwa senjata Hamas tidak akan diserahkan kepada Israel maupun pihak non-Arab. Meskipun perjanjian tidak menjelaskan pihak pengawas, disebutkan kemungkinan pembentukan komite independen yang bisa terdiri dari unsur Mesir, Arab, atau gabungan Mesir-Arab-Palestina.

 

Proses Demiliterisasi

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan kota Gaza dianggap sebagai basis utama kelompok milisi Hamas. (Eyad BABA/AFP)

Mengacu pada dokumen 20 poin dari Presiden AS Donald Trump mengenai Gaza, disebutkan bahwa proses demiliterisasi akan diawasi oleh pemantau independen.

Langkah itu termasuk penempatan senjata di luar jangkauan melalui mekanisme dekomisioning, dengan dukungan program pembelian kembali dan reintegrasi yang didanai secara internasional.

Rashwan juga menyoroti bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu gagal mencapai tujuannya untuk menghancurkan kemampuan militer Hamas selama perang di Gaza. Ia menilai Netanyahu kini berupaya mencari “panggung teatrikal” untuk menampilkan proses pelucutan senjata lewat perjanjian yang sedang berlangsung setelah dua tahun perang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya