Sering Tertukar, Ini Perbedaan Ular Piton dan Ular Sanca yang Perlu Anda Tahu

Banyak yang sering tertukar, padahal ini perbedaan ular piton dan ular sanca yang mendasar. Kenali ciri khas, klasifikasi taksonomi, hingga pola makan mereka agar tidak salah lagi.

oleh Muhammad Farih FananiDiterbitkan 09 Oktober 2025, 07:00 WIB
Ular piton burma (Phyton bivatattus) (Arfandi Ibrahim/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Banyak masyarakat Indonesia yang masih sering tertukar atau menganggap ular piton dan ular sanca sebagai dua jenis ular yang berbeda secara taksonomi. Padahal, kedua istilah ini sebenarnya merujuk pada satu famili ular yang sama, yaitu Pythonidae. Kesalahpahaman ini seringkali muncul karena penggunaan nama lokal yang beragam untuk spesies-spesies dalam famili tersebut.

Secara ilmiah, tidak ada pemisahan fundamental antara "piton" dan "sanca" sebagai kategori yang terpisah. Keduanya adalah sebutan umum untuk kelompok ular pembelit non-berbisa yang diklasifikasikan dalam famili Pythonidae. Istilah "sanca" sendiri seringkali lebih spesifik merujuk pada spesies seperti sanca kembang atau sanca batik (Malayopython reticulatus), yang merupakan salah satu ular terbesar di dunia.

Untuk mengklarifikasi perbedaan yang sering membingungkan ini, artikel ini akan mengupas lima aspek kunci yang membedakan beberapa spesies ular dalam famili Pythonidae yang populer. Kita akan membandingkan karakteristik umum dari sanca kembang dan piton Burma (Python bivittatus) yang sering menjadi fokus perbincangan, meliputi ukuran, pola kulit, habitat, pola makan, hingga klasifikasi genus. Berikut Liputan6 memberikan ulasan lengkapnya untuk Anda, Rabu (8/10/2025).

Klarifikasi Taksonomi

Ilustrasi ular piton. (Unsplash)

Dalam konteks taksonomi, istilah "ular piton" dan "ular sanca" di Indonesia pada dasarnya mengacu pada famili ular yang sama, yakni Pythonidae. Tidak ada perbedaan taksonomi mendasar yang memisahkan "piton" dan "sanca" sebagai dua kategori yang berbeda. Keduanya merupakan sebutan umum untuk ular pembelit non-berbisa yang diklasifikasikan dalam famili ini.

Faktanya, sanca, sawa, atau piton adalah istilah umum yang digunakan untuk semua jenis ular pembelit yang termasuk dalam familia Pythonidae. Ini berarti bahwa setiap ular yang disebut "piton" atau "sanca" secara ilmiah termasuk dalam kelompok yang sama. Sumber seperti Quora dan Wikipedia bahasa Indonesia mengkonfirmasi bahwa piton dan sanca adalah sebutan dalam bahasa Indonesia untuk famili ular yang sama.

Meskipun demikian, istilah "sanca" seringkali digunakan secara lebih spesifik untuk merujuk pada spesies tertentu, terutama "sanca kembang" atau "sanca batik" (Malayopython reticulatus). Ular sanca kembang ini terkenal sebagai salah satu jenis ular piton terbesar di dunia. Oleh karena itu, perbedaan yang akan dibahas selanjutnya adalah perbedaan antar spesies dalam famili Pythonidae, bukan antara dua kelompok ular yang berbeda secara fundamental.

Ukuran Tubuh dan Pola Kulit yang Khas

Ular dalam famili Pythonidae menunjukkan variasi ukuran yang signifikan, dari yang relatif kecil hingga berukuran raksasa. Perbedaan ini menjadi salah satu ciri paling mencolok antar spesies.

  • Sanca Kembang (Malayopython reticulatus): Dikenal sebagai ular terpanjang di dunia, sanca kembang dapat mencapai panjang lebih dari 8,5 meter, bahkan ada laporan tidak terkonfirmasi hingga 10 meter. Spesimen terpanjang yang terkonfirmasi secara ilmiah adalah 6,95 meter dengan berat maksimal 158 kg.
  • Piton Burma (Python bivittatus): Meskipun termasuk ular terbesar, piton Burma umumnya lebih pendek dan lebih berat dibandingkan sanca kembang. Panjangnya dapat mencapai 5 meter di alam liar, dengan spesimen terbesar yang terkonfirmasi mencapai 5,8 meter dan berat 97,5 kg.

Selain ukuran, pola dan warna kulit juga menjadi identitas unik bagi setiap spesies piton, membantu membedakan mereka satu sama lain.

  • Sanca Kembang (Malayopython reticulatus): Memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticula) yang tersusun dari warna hitam, kecoklatan, kuning, dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. Pola ini menyerupai jaringan berlian, dilengkapi garis hitam tipis yang membentang di atas kepala dari moncong hingga tengkuk.
  • Piton Burma (Python bivittatus): Ditandai dengan bercak-bercak besar berwarna coklat kemerahan yang dibatasi oleh warna krem atau emas, di atas warna dasar coklat muda, kekuningan-coklat, atau abu-abu. Mereka juga memiliki tanda berbentuk panah di atas kepala yang mengarah ke hidung.

Habitat dan Distribusi Geografis yang Beragam

Piton tersebar luas di daerah beriklim panas dan tropis di Afrika, Asia, dan Australia. Namun, setiap spesies memiliki preferensi habitat dan jangkauan geografis yang spesifik.

  • Sanca Kembang (Malayopython reticulatus): Hidup di daerah hutan tropis yang lembab, hutan hujan dataran rendah, hutan muson, dan lahan pertanian. Ular ini sangat bergantung pada ketersediaan air, sering ditemukan di dekat sungai, kolam, dan rawa. Sanca kembang juga perenang handal dan dapat mengkolonisasi banyak pulau kecil di Asia Tenggara, dari Kepulauan Nikobar hingga Filipina.
  • Piton Burma (Python bivittatus): Berasal dari wilayah luas di Asia Tenggara, termasuk India timur laut, Tiongkok selatan, Semenanjung Malaya, dan beberapa pulau di Indonesia seperti Jawa, Bali, Sumbawa, dan Sulawesi. Habitatnya bervariasi, mencakup hutan bakau, hutan hujan, rawa-rawa, padang rumput, sungai, dan daerah berbatu. Mereka juga dikenal sebagai perenang yang baik dan dapat bertahan di bawah air hingga setengah jam.

Pola Makan dan Perilaku Berburu Predator

Ilustrasi ular sanca/credit: pexels.com/Diego

Semua piton adalah predator karnivora non-berbisa yang membunuh mangsanya dengan melilit (konstriksi). Mereka umumnya merupakan predator penyergap (ambush predator), menunggu mangsa mendekat sebelum menyerang.

  • Sanca Kembang (Malayopython reticulatus): Makanan utamanya adalah mamalia kecil, burung, dan reptil lain seperti biawak. Ular yang lebih kecil memangsa kodok, kadal, dan ikan. Individu yang lebih besar dapat memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, dan bahkan manusia yang "tersesat" ke tempatnya menunggu mangsa. Sanca kembang cenderung lebih suka menunggu daripada aktif berburu, mungkin karena ukuran tubuhnya yang besar membutuhkan banyak energi.
  • Piton Burma (Python bivittatus): Dietnya terdiri dari berbagai burung dan mamalia. Mereka adalah predator generalis yang memangsa apa pun yang bisa masuk ke mulut mereka, mulai dari mamalia kecil hingga sedang, dan terkadang mamalia besar, burung, serta reptil dengan ukuran yang sesuai. Piton Burma juga dikenal memangsa hewan-hewan besar seperti rusa dan babi hutan.

Klasifikasi Genus dan Ciri Khas Lainnya

Meskipun keduanya termasuk dalam famili Pythonidae, penelitian taksonomi modern telah memisahkan beberapa spesies ke dalam genus yang berbeda, menunjukkan evolusi yang unik.

  • Sanca Kembang (Malayopython reticulatus): Awalnya diklasifikasikan dalam genus Python (Python reticulatus), namun penelitian filogenetik terbaru pada tahun 2013-2014 menempatkannya dalam genus baru, Malayopython. Nama ilmiahnya saat ini adalah Malayopython reticulatus. Perubahan ini didasarkan pada bukti genetik yang menunjukkan bahwa sanca kembang lebih dekat dengan piton Australasia daripada genus Python sejati.
  • Piton Burma (Python bivittatus): Tetap berada dalam genus Python. Hingga tahun 2009, piton Burma dianggap sebagai subspesies dari piton India (Python molurus), tetapi sekarang diakui sebagai spesies yang berbeda. Piton Burma memiliki dua garis yang jelas membentang secara horizontal di kepala, melintasi setiap mata, menjadi ciri khas yang membedakannya.

Selain itu, semua piton adalah ovipar (bertelur) dan betina biasanya mengerami telurnya hingga menetas dengan cara "menggigil" untuk meningkatkan suhu tubuh. Ini membedakan mereka dari famili Boidae (boa) yang sebagian besar melahirkan anak hidup (ovovivipar). Piton juga memiliki sisa-sisa tungkai belakang berupa taji kloaka yang digunakan dalam ritual kawin, menunjukkan jejak evolusi purba.

People Also Ask

1. Apa perbedaan mendasar antara ular piton dan ular sanca?

Jawaban: Tidak ada perbedaan taksonomi mendasar; keduanya adalah sebutan umum dalam famili Pythonidae. Perbedaan terletak pada spesies di dalamnya.

2. Mengapa sanca kembang disebut ular terpanjang di dunia?

Jawaban: Sanca kembang (Malayopython reticulatus) dikenal sebagai ular terpanjang di dunia, dengan spesimen terkonfirmasi mencapai 6,95 meter dan laporan hingga 10 meter.

3. Bagaimana pola kulit sanca kembang berbeda dengan piton Burma?

Jawaban: Sanca kembang memiliki pola jala (reticula) dengan warna hitam, kecoklatan, kuning, dan putih. Piton Burma memiliki bercak coklat kemerahan dengan batas krem atau emas, dan tanda panah di kepala.

4. Apakah semua ular piton dan sanca melahirkan atau bertelur?

Jawaban: Semua ular piton dan sanca (famili Pythonidae) adalah ovipar, artinya mereka bertelur dan betina mengerami telurnya hingga menetas.

5. Di mana habitat alami ular sanca kembang dan piton Burma?

Jawaban: Sanca kembang hidup di hutan tropis lembab dan dekat air di Asia Tenggara. Piton Burma tersebar di hutan bakau, hujan, rawa, dan sungai di Asia Tenggara, termasuk beberapa pulau di Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya