Liputan6.com, Jakarta Upaya menekan penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus digalakkan. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Cabang Kutai Kartanegara bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar melaksanakan kegiatan Active Case Finding (ACF) dengan memanfaatkan layanan Mobile X-Ray, salah satunya di UPTD Puskesmas Senoni, Kecamatan Sebulu.
Kegiatan ini bertujuan mempercepat penemuan kasus TBC secara aktif di tengah masyarakat, terutama bagi kelompok yang berisiko tinggi. Melalui pendekatan jemput bola, tenaga kesehatan turun langsung ke lapangan untuk melakukan skrining dan pemeriksaan paru-paru menggunakan alat X-ray bergerak.
Advertisement
Epidemiolog Kesehatan Ahli Pertama sekaligus Pengelola Program TBC Dinkes Kukar, Rahmatsyah, menjelaskan bahwa ACF merupakan bagian penting dalam strategi deteksi dini penyakit menular tersebut.
“Kegiatan ini merupakan langkah nyata dalam deteksi dini kasus TBC agar masyarakat yang berisiko dapat segera mendapatkan pemeriksaan, penanganan, dan pengobatan secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Mobile X-Ray Mudahkan Masyarakat Lakukan Pemeriksaan
Menurut Rahmatsyah, penggunaan Mobile X-Ray memudahkan masyarakat memeriksakan diri tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan yang jauh. Teknologi ini juga mempercepat proses diagnosis dan memungkinkan pasien segera mendapatkan pengobatan jika terkonfirmasi positif TBC.
Ia menambahkan, keberhasilan eliminasi TBC di Kukar membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Program ACF menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap semakin banyak kasus TBC terdeteksi lebih awal sehingga rantai penularannya dapat diputus, dan masyarakat Kutai Kartanegara dapat hidup lebih sehat serta bebas dari TBC,” tuturnya.
Selain pemeriksaan X-ray gratis, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi kesehatan mengenai cara penularan TBC, pentingnya menjaga daya tahan tubuh, serta pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas bagi pasien yang telah terdiagnosis.
TBC Bukan Penyakit Memalukan
Petugas kesehatan juga mengingatkan bahwa TBC bukan penyakit memalukan, melainkan infeksi yang bisa disembuhkan dengan pengobatan teratur dan dukungan lingkungan sekitar. Diharapkan, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini, stigma terhadap penderita TBC dapat perlahan dihapus.
Program deteksi dini TBC melalui Mobile X-Ray ini menjadi bagian dari target eliminasi TBC nasional tahun 2030 sebagaimana ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI. Kutai Kartanegara termasuk salah satu daerah dengan komitmen kuat mendukung pencapaian target tersebut.
Ketua PPTI Kukar, Fetty Puja Amelia Rendi Solihin, menegaskan pihaknya akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perkembangan kasus TBC di setiap desa dan kelurahan.
“Untuk mengendalikan penyakit TBC tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tapi juga membutuhkan peran serta masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data Dinkes Kukar, terdapat 32 Puskesmas di wilayah tersebut, namun baru 13 Puskesmas yang mampu melakukan Tes Cepat Molekuler (TCM). Jumlah ini dinilai masih kurang untuk mendukung penemuan kasus secara optimal.
“Saya berharap kegiatan seperti hari ini dapat menunjang program pemberantasan TBC di seluruh wilayah Kukar,” ucap Fetty.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menekan angka penularan TBC. “Setiap masyarakat wajib menjaga pola hidup sehat dan tinggal di lingkungan yang bebas dari risiko TBC,” tutupnya.