Harga Emas Dunia Nyaris Sentuh USD 4.000, Logam Mulia Bisa Tembus Rp 2,3 Juta

Salah satu faktor utama yang mendorong reli emas dunia adalah krisis politik di Amerika Serikat. Selain itu, ketegangan di berbagai kawasan dunia turut memperkuat posisi emas sebagai aset aman (safe haven).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 07 Oktober 2025, 09:40 WIB
Di Indonesia, harga logam mulia sudah menembus Rp 2,25 juta per gram, dan berpotensi naik hingga Rp 2,3 juta jika harga global mencapai USD 3.950. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut harga emas dunia pada awal pekan ini sempat menyentuh USD 3.900 per troy ounce, dan berpotensi mencapai USD 3.950 dalam Oktober ini.

Jika tren ini berlanjut, Ibrahim memperkirakan harga emas dapat menembus USD 4.000 di awal November mendatang.

"Harga emas dunia tadi menjelang siang menyentuh level USD 3.900. Ada kemungkinan besar dalam bulan Oktober ini USD 3.950 akan tercapai. Kalau untuk USD 4.000 kemungkinan terjadi di awal-awal bulan November, itu kemungkinan akan terjadi," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (7/10/2025).

Menurutnya, momentum kenaikan emas saat ini tidak semata karena faktor teknikal, tetapi juga dorongan kuat dari situasi politik dan ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Dengan prospek suku bunga yang cenderung turun dan geopolitik yang semakin panas, emas kembali menjadi aset favorit bagi investor institusional maupun individu.

Tren ini juga berimbas langsung ke pasar domestik. Di Indonesia, harga logam mulia sudah menembus Rp 2,25 juta per gram, dan berpotensi naik hingga Rp 2,3 juta jika harga global mencapai USD 3.950.

"Kemudian untuk logam mulia sendiri, karena Rupiahnya melemah, sudah tembus di level Rp 2.250.000. Ada kemungkinan besar di bulan Oktober ini, kalau seandainya di USD 3.950, kemungkinan akan terkena di level Rp 2.300.000," ujarnya.

 

Gejolak Politik AS Jadi Pemicu Utama

Wujud emas batangan yang dijual di gerai PT Aneka Tambang TBK (Antam), Jakarta, Senin (24/6/2019). Harga buyback emas Antam juga naik Rp 3.000 menjadi Rp 631 ribu per gram. (merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Salah satu faktor utama yang mendorong reli emas dunia adalah krisis politik di Amerika Serikat. Ibrahim menjelaskan, hingga kini pemerintahan federal masih lumpuh akibat kebuntuan di Kongres antara Partai Republik dan Partai Demokrat.

Ketegangan politik itu semakin tajam karena belum ada kesepakatan soal anggaran, sementara Presiden Donald Trump terus menekan lawan politiknya dengan kebijakan kontroversial.

Kondisi ini diperburuk oleh meningkatnya aksi protes di Oregon, yang membuat Trump sampai mengerahkan 200 Garda Nasional dari California, meski langkah itu ditolak oleh Jaksa Agung.Konflik politik internal ini menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan ekonomi AS.

 

The Fed

Pekerja menunjukkan emas di Cikini Gold Center, Jakarta, Selasa (28/7/2020). Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) pada 28 Juli 2020 menembus Rp1 juta/gram yang merupakan posisi tertinggi sepanjang masa emas Antam diperjualbelikan. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Lebih lanjut, kata Ibrahim pasar menilai, semakin lama kebuntuan terjadi, semakin besar peluang Bank Sentral AS (The Fed) menurunkan suku bunga untuk menjaga momentum ekonomi.

Ekspektasi itu diperkuat dengan data bahwa 99 persen ekonom memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober, langkah yang secara historis hampir selalu memperkuat harga emas di pasar global.

"99 persen para ekonom berespetasi bahwa Bank Central Amerika akan menurunkan suku bunga 25 basis point dalam pertemuan di bulan Oktober. Nah itu dari segi perpolitikan di Amerika, ujarnya.

Selain Amerika, ketegangan di berbagai kawasan dunia turut memperkuat posisi emas sebagai aset aman (safe haven). Di Eropa Timur, Ukraina meningkatkan serangan terhadap kilang minyak Rusia, termasuk Kilang Kirisi yang merupakan salah satu fasilitas energi terbesar di Rusia. Serangan tersebut dipandang sebagai bentuk tekanan baru dari negara-negara G7 terhadap Moskow.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya