OSL Group Akuisisi Exchange Kripto Indonesia Koinsayang

OSL yang berbasis di Hong Kong meraih persetujuan regulasi di Indonesia, memperkuat rencana tokenisasi aset dunia nyata dan ekspansi keuangan digital.

oleh Septian DenyDiperbarui 05 Oktober 2025, 11:00 WIB
Ilustrasi tambang Kripto. (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta OSL Group, platform aset digital yang berbasis di Hong Kong, telah menyelesaikan akuisisi secara tidak langsung melalui pemegang saham mayoritas Koinsayang, bursa aset digital berlisensi di Indonesia, melalui penerbitan sekitar 9,266 juta saham sebagai bentuk pertimbangan transaksi.

Akuisisi ini memberikan OSL Group lisensi untuk perdagangan mata uang kripto dan derivatif, mendukung ekspansi strategisnya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Indonesia menawarkan skala dan struktur, serta memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan TradFi dan Web3 serta mengakses pembayaran kripto teregulasi, sejalan dengan strategi ekspansi global berbasis kepatuhan yang dijalankan OSL Group," kata Chief Financial Officer OSL Group Ivan Wong, Minggu (5/10/2025).

Transaksi ini memberikan OSL Group persetujuan regulasi penuh untuk beroperasi di Indonesia, sekaligus membangun fondasi bagi pengembangan bidang seperti tokenisasi aset dunia nyata (Real-World Asset/RWA) dan PayFi.

Menurut Asosiasi Blockchain Indonesia, Indonesia menyumbang 10,1% dari minat global terhadap RWA, menempati peringkat ketiga di dunia.

Dengan menggabungkan kehadiran pasar lokal Koinsayang dengan kapabilitas teknologi serta pengalaman regulasi OSL, perusahaan bermaksud menghadirkan produk keuangan teregulasi yang ditujukan untuk memperluas cakupan klien serta memperkuat adopsi blockchain dan standar kepatuhan di kawasan.

Akuisisi ini juga mendiversifikasi aliran pendapatan, memperluas basis pengguna, dan memperkuat daya saing internasional OSL Group.

"Basis pengguna keuangan digital yang besar, penetrasi Internet yang kuat, serta kerangka regulasi yang relatif jelas menjadikan Indonesia sebagai pasar ideal, sekaligus salah satu pusat regional utama di Asia Tenggara untuk layanan aset digital," tutup dia.

Standard Chartered Prediksi Bitcoin Segera Tembus USD 135.000

Ilustrasi berbagai macam aset kripto. (Foto By AI)

Sebelumnya, seorang pakar dari bank investasi besar, Standard Chartered, memprediksi bahwa harga Bitcoin (BTC) bisa segera mencapai rekor tertinggi baru dalam waktu dekat, dan kemudian terus melesat hingga USD 135.000.

Kepala Riset Aset Digital Global Standard Chartered, Geoff Kendrick, mengatakan bahwa Bitcoin saat ini sedang dalam fase "Uptober", istilah yang mengacu pada pola kenaikan harga BTC di kuartal keempat, khususnya bulan Oktober.

Dikutip dari Yahoo Finance, Minggu (5/10/2025), Bitcoin diperdagangkan di sekitar USD 120.420 pada Jumat lalu, naik 1,3% dari hari sebelumnya. Kendrick percaya kenaikan ini bukan hanya tren musiman, tetapi juga didukung oleh beberapa faktor kunci:

Mengabaikan Pola Lama:

Standard Chartered yakin Bitcoin telah keluar dari pola harga yang biasanya melemah setelah peristiwa halving (pemotongan hadiah penambang) tahun 2024. Jika pola lama itu masih berlaku, harga seharusnya turun, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

 

Sensitivitas terhadap Pemerintah AS

Ilustrasi harga kripto (Foto By AI)

Menurut Kendrick, pergerakan harga Bitcoin saat ini erat kaitannya dengan "risiko pemerintah AS," terutama terkait dengan penutupan pemerintahan (government shutdown) dan obligasi pemerintah AS. Artinya, Bitcoin kini bereaksi terhadap sentimen ekonomi dan politik AS.

Permintaan Institusional yang Kuat:

Kendrick memperkirakan permintaan dari investor besar (institusional) akan meningkat tajam hingga akhir tahun. Ia mencatat bahwa Dana yang Diperdagangkan di Bursa (ETF) Bitcoin telah menarik aliran dana bersih sebesar $58 miliar, dan $23 miliar di antaranya masuk pada tahun 2025 saja.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya