Senyawa Kimia Ini Disebut Jadi Pemicu Keracunan MBG di Bandung Barat

Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN), Karimah Muhammad, mengatakan, senyawa kimia nitrit disebut menjadi pemicu keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

oleh Putu Merta Surya PutraDiperbarui 03 Oktober 2025, 18:50 WIB
Murid-murid sekolah dasar mendapatkan perawatan di klinik darurat setelah mengalami keracunan usai menyantap makanan yang dibagikan lewat program Makan Bergizi Gratis di Bandung, Jawa Barat, pada 23 September 2025. (Timur Matahari/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN), Karimah Muhammad, mengatakan, senyawa kimia nitrit disebut menjadi pemicu keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, di mana 1.315 orang menjadi korban.

Seperti dilansir dari Antara, nitrit merupakan zat alami yang ada di tanah atau makanan, yang memang bisa bermanfaat untuk membantu melancarkan aliran darah dalam tubuh, tetapi apabila jumlahnya terlalu banyak, dapat berubah menjadi zat berbahaya, salah satunya memicu kanker.

"Kami berkesimpulan, senyawa nitrit menjadi penyebabnya. Ditemukan kadar nitrit yang sangat tinggi di buah melon dan lotek (menu sayuran bumbu kacang) dari sampel sisa sekolah," kata dia di Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Karimah menjelaskan, sudah bertemu dengan korban, dokter yang menangani korban di Puskesmas Cipongkor dan RSUD Cililin, dengan mempelajari pola gejala utama korban.

Selain itu, tim investigasi juga memeriksa obat-obatan yang diberikan di Puskesmas dan RSUD kepada para korban, serta mempelajari hasil uji mikrobiologi dan toksikologi dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat yang menguji sampel dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun dari sisa makanan di sekolah.

Dari sanalah, lanjut Karimah, masing-masing jenis sampel yang diuji terdapat 3,91 dan 3,54 mg/l nitrit. 

Padahal jika merujuk EPA (US Environmental Protection Agency), kadar maksimum nitrit yang boleh dikonsumsi dalam minuman adalah 1 mg/l, sementara otoritas kesehatan di Kanada menetapkan 3 mg/l.

"Jadi kalau merujuk standar EPA, maka kadar nitrit dalam sampel sisa makanan di sekolah hampir empat kali lipat dari batas maksimum," jelas dia.

 

Gejala Pusing

Adapun gejala pusing atau kepala terasa ringan, kata dia, muncul karena terjadi pelebaran pembuluh darah, yang juga merupakan ciri keracunan nitrat.

Gejala ini menunjukkan presentase cukup besar, sebanyak 29 persen dan berada di peringkat kedua setelah gejala di saluran pencernaan bagian atas.

"Gejala lemas dan sesak nafas yang dikeluhkan sebagian korban juga menunjukkan keracunan nitrit. Sebab nitrit bisa menyebabkan methemoglobinemia, dimana kemampuan hemoglobin di dalam darah untuk membawa oksigen menjadi berkurang, sehingga sel-sel tubuh merasa lemas, dan di paru-paru terasa sesak," jelas Karimah.

 

 

 

Tak Menemukan Bakteri Jahat

Meski begitu, Karimah dalam tim investigasinya tak menemukan bakteri jahat penyebab keracunan makanan, seperti Eschericia coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus cereus. Selain itu tim investigasi juga tidak menemukan racun sianida, arsen, logam berat atau pestisida, kecuali nitrit dalam uji toksikologi.

Ia menegaskan dampak nitrit bisa berbeda-beda pada setiap individu, tergantung kondisi kesehatan masing-masing anak.

"Mereka yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang kuat atau detoksifikasi yang prima bisa dengan cepat atau lebih mudah mengeluarkan nitrit dari dalam tubuh, setelah mengalami metabolisme," ujar Karimah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya