Liputan6.com, London - Polisi di Manchester, Inggris, menembak mati seorang teroris yang menewaskan dua orang dan melukai parah tiga lainnya dalam serangan di sebuah sinagoge pada Kamis (2/10/2025). Serangan ini bertepatan dengan Yom Kippur, hari paling suci dalam kalender Yahudi.
Pelaku awalnya menabrakkan mobilnya ke halaman Sinagoge Heaton Park Hebrew Congregation di Crumpsall. Setelah itu, dia keluar dari kendaraan dan menikam para jemaat dalam serangan membabi buta selama enam menit. Aksi tersebut berakhir ketika petugas bersenjata menembaknya dua kali karena khawatir dia mengenakan alat peledak di tubuhnya.
Advertisement
Pada Kamis malam, polisi mengidentifikasi pelaku bernama Jihad Al-Shamie, 35 tahun, seorang warga negara Inggris keturunan Suriah. Kepolisian Greater Manchester (GMP) mengonfirmasi pula telah menangkap tiga orang lain—dua pria berusia 30-an dan seorang wanita berusia 60-an—atas dugaan keterlibatan dalam tindak terorisme, termasuk perencanaan dan penghasutan.
Melansir The Guardian, Al-Shamie datang ke Inggris saat masih anak-anak dan memperoleh kewarganegaraan Inggris pada tahun 2006.
Motif Masih Misteri
Polisi menyebutkan tiga korban masih dirawat di rumah sakit dengan luka serius. Seorang korban mengalami luka tikaman, seorang lainnya ditabrak mobil, sementara seorang pria ketiga datang sendiri ke rumah sakit dengan luka yang diduga dialami ketika petugas berusaha menghentikan pelaku.
The Guardian melaporkan bahwa alamat terakhir pelaku diketahui berada di Manchester. Kepolisian menegaskan penyelidikan masih berlangsung, termasuk di wilayah Crumpsall dan daerah sekitarnya, seperti Prestwich.
Dalam pernyataannya, Kepolisian Greater Manchester menyampaikan, "Kami sekarang dapat mengonfirmasi bahwa, meskipun identifikasi formal belum dilakukan, kami yakin orang yang bertanggung jawab atas serangan hari ini adalah Jihad Al-Shamie, 35 tahun, warga negara Inggris keturunan Suriah."
Mereka juga menjelaskan bahwa perangkat mencurigakan yang dikenakan pelaku saat insiden berlangsung telah diperiksa dan dipastikan tidak berfungsi. Polisi menambahkan, berdasarkan catatan yang ada, pelaku tidak pernah tercatat dalam program Prevent—sebuah skema pemerintah Inggris untuk mencegah radikalisasi dan terorisme.
"Kami sedang berupaya memahami motif di balik serangan ini seiring dengan penyelidikan yang terus berjalan," demikian lanjutan pernyataan polisi.
Investigasi kasus ini saat ini ditangani langsung oleh unit kontra-terorisme.
Kronologi Penyerangan
Dalam konferensi pers, Kepala Kepolisian Greater Manchester (GMP) Sir Stephen Watson menyampaikan bahwa keberanian para jemaat, staf keamanan, dan respons cepat polisi berhasil mencegah pelaku masuk ke dalam sinagoge.
"Ada banyak jemaat yang hadir di sinagoge saat serangan ini terjadi," ujar Watson.
Menurut saksi mata, sebuah mobil terlihat melaju tak terkendali sebelum seorang pria keluar dan mulai menyerang orang-orang dengan pisau. Menyadari apa yang terjadi, para jemaat segera memblokade pintu sinagoge agar pelaku tidak bisa masuk.
Salah satu jemaat, Rob Kanter (45), seorang dosen universitas dengan gelar PhD di bidang hubungan Yahudi–Muslim, berada di dalam sinagoge saat serangan berlangsung. Menurutnya, suasana di dalam sinagoge relatif tenang.
"Suasana di antara para jemaat cukup tenang. Setiap orang menghadapi hal ini dengan caranya sendiri: ada yang diam, ada yang lebih suka berbicara, bahkan ada yang mencoba menggunakan humor untuk tetap bertahan," jelas Kanter.
Dia menambahkan, setelah dievakuasi oleh polisi, rabi berusaha melanjutkan ibadah Yom Kippur.
GMP kemudian menjabarkan kronologi kejadian.
- Pukul 9.31 waktu setempat, polisi menerima laporan pertama mengenai sebuah mobil yang diarahkan ke orang-orang dan adanya seorang pria ditikam.
- Pukul 9.34 waktu setempat, petugas bersenjata dikerahkan setelah polisi menerima laporan tambahan bahwa seorang petugas keamanan diserang dengan pisau.
- Pukul 9.37 waktu setempat, polisi mendeklarasikan Plato—kode nasional untuk merespons serangan teror bergerilya—dan menyatakan situasi sebagai insiden besar.
- Pukul 9.38 waktu setempat, petugas bersenjata melepaskan tembakan untuk menghentikan pelaku.
- Pukul 9.41 waktu setempat, paramedis tiba di lokasi.
Menanggapi insiden ini, Kepala Rabi Inggris Ephraim Mirvis pada Kamis malam mengatakan, "Ini adalah hari yang kami harap tidak akan pernah kami lihat, namun jauh di lubuk hati, kami tahu akan datang."
Dia menegaskan bahwa serangan ini bukan hanya ditujukan kepada komunitas Yahudi, melainkan juga merupakan serangan terhadap fondasi kemanusiaan itu sendiri.
"Ini adalah serangan terhadap nilai-nilai kasih sayang, martabat, dan rasa hormat yang kita semua junjung bersama," kata Mirvis.
Yahudi di Inggris Merasa Tidak Aman
Serangan ini memicu kecaman luas dari berbagai kalangan politik.
Perdana Menteri Keir Starmer menyebut pelaku penyerangan bersenjata pisau itu sebagai "individu keji" yang menargetkan orang Yahudi karena identitas mereka, sekaligus menyerang Inggris karena nilai-nilai yang dijunjungnya. Rival politiknya, Kemi Badenoch dan Nigel Farage, turut menyatakan dukungan bagi komunitas Yahudi.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari sebelum peringatan dua tahun serangan 7 Oktober oleh Hamas di Israel. Pihak kepolisian mengumumkan akan meningkatkan pengamanan di sinagoge dan pusat komunitas Yahudi dalam beberapa hari ke depan.
Sebuah riset yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga atau sekitar 35 persen orang Yahudi di Inggris kini merasa tidak aman, dibandingkan hanya 9 persen sebelum serangan 7 Oktober.
Dalam pernyataan resmi pada Kamis malam, Dewan Deputi dan Dewan Kepemimpinan Yahudi menegaskan bahwa serangan ini, sayangnya, merupakan sesuatu yang sudah lama mereka khawatirkan akan terjadi.
"Kami menyerukan kepada semua pihak yang memiliki kekuasaan dan pengaruh untuk mengambil tindakan nyata guna memerangi kebencian terhadap orang Yahudi. Kami juga akan bekerja sama dengan pihak berwenang dalam menyusun serangkaian langkah tambahan demi melindungi komunitas kami dalam beberapa hari mendatang," ungkap mereka.