Polisi Jawab Kecurigaan Keluarga Arya Daru soal Makam Dirusak: Amblas Karena Faktor Alam

Keluarga menilai ada kejanggalan di balik kematian Arya Daru yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di indekosnya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

oleh Tim NewsDiterbitkan 02 Oktober 2025, 16:55 WIB
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira dan Istri Arya Daru. ANTARA/Aria Ananda

Liputan6.com, Jakarta Keluarga Arya Daru Pangayunan tak percaya diplomat muda Kemlu itu meninggal bunuh diri. Keluarga merasa ada kejanggalan di balik kematian Arya Daru yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di indekosnya di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat.

Salah satu kejanggalan yang ditemukan keluarga adalah makam Arya Daru dalam kondisi acak-acakan. Kejadian aneh lainnya yang dianggap keluarga sebagai teror yakni ada amplop misterius yang diterima keluarga hingga taburan bunga di pusara Arya Daru.

Kasubbid Penmas Polda Metro Jaya, AKBP Reonald Simanjuntak, mengatakan sejumlah kejanggalan yang dialami keluarga Arya sudah dilaporkan ke polisi pada 22 Juli 2025. Laporan disampaikan istri dan sepupu korban.

Reaksi Polisi

istri arya daru diplomat kemlu muncul ke publik (Liputan6.com/kukuh)

Terkait makam yang rusak, Reonald menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Polsek Banguntapan. Pihak polsek juga sudah berkoordinasi juru makam.

"Kami sampaikan pada forum ini ya dari keterangan juru makam tidak ada perusakan makam tersebut, juga dari awal pembuatan tidak ada batu bata dan tidak mengetahui siapa yang memberikan batu bata," kata Reonald kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Kamis (2/10).

Pertanyaan serupa juga ditanyakan pada juru makam lainnya. Dipastikan, tidak ada yang merusak makam Arya Daru.

"Terus kemudian dari juru makam kedua menjelaskan bahwa makam tersebut bukan dirusak, tapi amblas karena memang sudah satu bulan sehingga faktor alam," ujarnya.

Setelah mendapat cerita itu, katanya, pembersih makam langsung merapikan dan kebetulan bertemu dengan keluarga yang datang untuk nyekar.

"Jadi itu yang bisa kami sampaikan karena dari tim sudah turun ke sana meminta keterangan dari penjaga makam, sekali lagi makam korban itu amblas karena kondisi alam dan pada saat keluarga nyekar di situlah langsung dirapikan lagi oleh pihak pembersih makam, penjaga makam," ujarnya.

Sementara terkait surat kaleng yang diterima keluarga, Reonald mengaku terus diselidiki.

"Itu masih didalami, mohon waktu," ujarnya.

Periksa 24 Saksi Termasuk Dua Orang Terakhir Bersama Daru

Sepanjang penyelidikan kasus kematian Arya Daru, polisi sudah memeriksa 24 saksi. Termasuk dua orang yang terakhir bersama Daru, yakni Verra alias V dan D. Selain itu, sopir taksi yang mengantarkan Daru ke gedung Kemlu

"Ya 24 saksi tersebut sudah masuk dengan inisial V dan dengan inisial D, kemudian dari 24 saksi tersebut juga sudah termasuk Pak Bapak Direktur Reserse kriminal Umum juga sudah menyampaikan termasuk supir taksi salah satu taksi yang ada di Jakarta dengan salah satu brand ya," kata Reonald.

Polisi Selalu Respons Keluhan Arya Daru

Polisi memastikan selalu menindaklanjuti semua laporan dan curhatan keluarga.

"Kami tidak akan pernah menolak segala sesuatu pasti akan kami dalami dan kami akan cari tau tentang apa pengaduan tersebut," pungkasnya.

Teror Dialami Pihak Keluarga

Diplomat Kemlu RI Arya Daru Pangayunan ditemukan meninggal di kamar kosnya di kawasan Gondangdia Kecil, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025). (Foto: Instagram/@peduliwni)

Sebelumnya, pihak keluarga berpendapat kematian diplomat muda Arya Daru Pangayunan masih menyimpan banyak pertanyaan. Setelah kepergian Arya, keluarga terus dihantui teror.

Kuasa hukum keluarga almarhum, Nicholay Aprilindo, telah melaporkan berbagai ancaman yang diterima keluarga kepada Komisi XII DPR. Teror tersebut mulai terjadi setelah kematian diplomat kemlu itu, termasuk amplop misterius, kerusakan pada makam, serta taburan bunga di pusara.

Teror pertama kali muncul pada 9 Juli 2025, sehari setelah pemakaman almarhum.

"Ada seorang pria misterius datang membawa amplop coklat untuk almarhum. Saat dibuka, isinya gabus berbentuk bunga kamboja, hati, dan bintang," ungkap Nicholay dalam rapat dengar pendapat umum di Komisi XIII DPR RI di Kawasan Parlemen, Jakarta, pada Selasa (30/9/2025).

Amplop tersebut telah diserahkan kepada pihak kepolisian dan Kompolnas, tetapi hingga saat ini belum ada penyelidikan lebih lanjut mengenai asal-usul atau makna dari benda tersebut.

Teror selanjutnya terjadi pada tanggal 27 Juli ketika makam almarhum dirusak. "Kemudian pada 16 September, kuburan kembali ditaburi bunga mawar merah berbentuk garis dari kepala sampai kaki. Ini membuat keluarga kaget," ujarnya.

Kuasa hukum menilai serangkaian teror yang dialami oleh keluarga menambah banyak pertanyaan mengenai kematian almarhum.

"Mengapa keluarga harus mengalami teror seperti ini, sementara kasus ini sejak awal dianggap sebagai bunuh diri?" kata Nikolai.

Ayah almarhum, Subaryono, juga menyampaikan kegelisahannya di depan anggota dewan.

"Sebagai orang tua, kami tidak tahu harus ke mana mencari kejelasan. Penjelasan yang ada sejauh ini belum menenangkan kami," katanya dengan suara bergetar.

Subaryono menjelaskan bahwa keluarga berusaha mencari bantuan melalui penasihat hukum agar peristiwa yang menimpa putranya dapat diungkap dengan jelas.

Dia menekankan bahwa keluarga menghargai upaya pihak-pihak yang menyelidiki kasus ini, namun ia merasa kecewa karena belum ada kejelasan yang pasti mengenai kematian anaknya. "Harapan kami adalah agar kasus ini dapat dijelaskan sejelas-jelasnya," ucapnya kepada Pimpinan Rapat Komisi XIII.

Dalam rapat tersebut, hadir istri almarhum, Meta Ayu Puspitantri, bersama kuasa hukum, ayah, dan anggota keluarga lainnya. DPR juga mengundang Wakil Kepala LPSK Susilaningtias, Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor, serta pejabat dari Kementerian HAM untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut mengenai kasus ini.

Reporter: Nur Habibie/merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya