Industri Pengolahan Sumbang 72,55% Ekspor Indonesia, Ini Komoditas Andalan

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) September 2025 tetap di zona ekspansi 53,02 poin, menegaskan daya saing manufaktur Indonesia di pasar global.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 Oktober 2025, 13:00 WIB
Secara tahunan (yoy), ekspor industri pengolahan nonmigas Agustus 2025 tumbuh 7,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Industri pengolahan nonmigas kembali menegaskan posisinya sebagai motor utama ekspor Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2025, kontribusi sektor ini mencapai 72,55% dari total ekspor nasional, dengan nilai ekspor sebesar USD 13,22 miliar atau sekitar Rp 216,8 triliun (estimasi kurs Rp 16.400 per USD).

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, capaian tersebut menjadi bukti daya tahan manufaktur nasional di tengah ketidakpastian global.

“Kontribusi lebih dari 70 persen membuktikan bahwa industri pengolahan nonmigas adalah mesin utama ekspor nasional dan penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian kita,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/10/2025).

Secara tahunan (yoy), ekspor industri pengolahan nonmigas Agustus 2025 tumbuh 7,91% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif Januari–Agustus 2025, nilai ekspornya menembus USD 104,43 miliar, berkontribusi 71,32% dari total ekspor nasional.

Komoditas andalan antara lain besi dan baja senilai USD 2,79 miliar (naik 18,74% yoy), mesin dan perlengkapan elektrik senilai USD 1,42 miliar (tumbuh 12,45% yoy), serta produk kimia dan farmasi senilai USD 940 juta (naik 9,3% yoy).

Sementara makanan dan minuman olahan mencatat ekspor USD 1,1 miliar dengan kenaikan 6,7% yoy.

 

Impor Bahan Baku

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS (month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, impor bahan baku dan penolong bagi industri pengolahan nonmigas pada Agustus 2025 mencapai USD 11,35 miliar, atau sekitar 74,5% dari total impor nasional.

Menurut Agus, tingginya komposisi impor bahan baku justru memberi sinyal positif.

“Sebagian besar impor kita bukan untuk konsumsi akhir, melainkan untuk mendukung keberlangsungan produksi dan ekspor industri dalam negeri,” jelasnya.

Pemerintah, lanjutnya, terus berkomitmen meningkatkan nilai tambah industri dengan memperkuat kebijakan hilirisasi dan program substitusi impor. Upaya ini dinilai dapat memperluas basis ekspor sekaligus memperkuat kemandirian bahan baku domestik.

Kementerian Perindustrian juga aktif memperkuat kerja sama internasional guna memperluas akses pasar ekspor, sembari menjaga iklim usaha yang ramah investasi. Agus menegaskan, industri pengolahan nonmigas adalah tulang punggung ekonomi Indonesia yang ke depan ditargetkan mampu menjadi pemain utama dalam rantai pasok global.

 

Tren Indeks Kepercayaan Industri

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan kuartal IV menjdi pijakan untuk perbaikan ditahun 2021. (merdeka.com/Imam Buhori)

Capaian ekspor tersebut sejalan dengan tren Indeks Kepercayaan Industri (IKI). Pada September 2025, IKI tercatat di angka 53,02 poin, masih dalam zona ekspansi meskipun sedikit melemah dari Agustus (53,55 poin). Angka ini lebih baik dibanding September 2024 yang berada di 52,48 poin.

Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 21 subsektor masih ekspansif, hanya dua yang berada di zona kontraksi. IKI berorientasi ekspor tercatat 53,99 poin, sementara IKI domestik sebesar 51,92 poin.

Dari sisi pasar, permintaan luar negeri masih terjaga, terlihat dari IKI ekspor yang tetap berada di fase ekspansi. Hal ini juga didukung data Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang berada di level 50,4 pada September 2025, sedikit melemah dari Agustus (51,5), namun tetap di atas ambang batas ekspansi (50,0).

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya