Liputan6.com, Jakarta Vitamin D berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh anak. Selain mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, vitamin ini juga terbukti berhubungan dengan sistem imun. Anak yang kekurangan vitamin D cenderung lebih rentan mengalami gangguan pernapasan.
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani, SpA, Subspesialis Respirologi (K), mengingatkan bahwa defisiensi vitamin D masih menjadi masalah tersembunyi pada anak-anak di Indonesia. Kekurangan ini kerap tidak disadari karena gejalanya tidak selalu terlihat.
Advertisement
“Anak-anak kita, ketika dicek itu banyak yang mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D di dalam tubuhnya. Yang tidak terlihat secara kasat mata. Keliatannya normal-normal aja tapi begitu dicek, oh vitamin D-nya rendah,” kata Nastiti.
Menurut Nastiti, defisiensi vitamin D tidak bisa dianggap sepele. Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa kondisi ini meningkatkan risiko anak terkena penyakit pernapasan, termasuk pneumonia dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bahkan, penelitian saat pandemi COVID-19 menemukan kaitan antara rendahnya kadar vitamin D dengan tingginya risiko terpapar virus.
“Banyak studi, banyak penelitian yang mengkaitkan defisiensi vitamin D atau kekurangan vitamin D akan meningkatkan risiko penyakit, termasuk penyakit di saluran napas seperti pneumonia atau penyakit infeksi saluran pernapasan akut lainnya. Termasuk juga pada saat COVID itu ada studi yang mengatakan bahwa mereka yang defisiensi vitamin D itu lebih tinggi risiko terkena COVID dibandingkan dengan mereka yang level atau kadar vitamin D-nya normal,” tambahnya.
Sinar Matahari Sumber Utama, Tapi Tidak Selalu Cukup
Sinar matahari merupakan sumber alami vitamin D yang paling utama. Namun, paparan sinar matahari saja seringkali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian anak. Apalagi, aktivitas anak modern cenderung lebih banyak di dalam ruangan, sehingga paparan matahari semakin berkurang.
“Betul dari sinar matahari. Jadi jangan seharian di ruangan tanpa kena sinar matahari. Namun demikian memang agak sulit untuk mencukupkan atau menormalkan kadar vitamin D itu hanya berdasarkan paparan sinar matahari,” jelas Nastiti.
Oleh sebab itu, dokter biasanya menyarankan tambahan vitamin D dalam bentuk suplemen, terutama bagi anak-anak yang hasil pemeriksaannya menunjukkan kekurangan. Dengan kombinasi sinar matahari, makanan bergizi, dan suplementasi, kadar vitamin D anak bisa tetap dalam batas normal.
Suplementasi untuk Menekan Risiko Penyakit Pernapasan
Pemberian suplemen vitamin D bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi harian, tetapi juga terbukti membantu menekan risiko infeksi saluran pernapasan. Hal ini penting karena ISPA masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan pada anak-anak di Indonesia.
“Jadi dokter atau dokter anak nanti akan memberikan suplementasi vitamin D untuk mencukupkan kekurangan itu sehingga risiko peningkatan kasus saluran napas atau keparahan saluran napas juga bisa diminimalisir kalau kadar vitamin D-nya normal,” kata Nastiti.