Buntut Insiden Pilot Mabuk Sampai Delay Berjam-jam, Japan Airlines Cek Kondisi Hati Para Pilot

Japan Airlines ditegur oleh setidaknya dua kementerian gara-gara kasus pilotnya yang mabuk karena minum alkohol dan mengganggu jadwal penerbangan.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 01 Oktober 2025, 17:30 WIB
Ilustrasi minuman beralkohol. (dok. Nathan Powers/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Insiden pilot mabuk hingga memicu penundaan penerbangan (delay) hingga berjam-jam memaksa Japan Airlines (JAL) bertindak tegas. Langkah terbaru, mereka menyatakan akan menangguhkan para pilot berisiko tinggi dari tugasnya jika fungsi hati mereka terbukti buruk melebihi batas tertentu.

Kebijakan itu berlaku mulai Selasa, 30 September 2025. Itu bagian dari serangkaian langkah untuk mencegah terulangnya insiden terakhir pada Agustus 2025. Saat itu, seorang pilot mengaku sakit di jam-jam terakhir jelang waktu tugasnya hingga tidak dapat mengoperasikan penerbangan dari Hawaii ke Jepang.

Belakangan, pilot itu mengaku mengonsumsi alkohol pada malam sebelum ia bertugas. Insiden itu menyebabkan maskapai ditegur keran Kementerian Perhubungan Jepang. Perusahaan juga diwajibkan untuk melaporkan langkah-langkah keselamatan untuk menghindari terulangnya insiden tersebut.

Dengan serangkaian insiden serupa berulang, kredibilitas maskapai besar Jepang itu dipertaruhkan. Sejak itu, mengutip Kyodo News, Rabu (1/10/2025), enam pilot telah diskors dari penerbangan, menurut Japan Airlines (JAL). 

 

 

Perubahan Kebijakan Tak Diterima Baik Karyawan

Pesawat Japan Airlines terlihat pada landasan di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang, Senin (29/11/2021). Jepang melarang masuk semua warga asing terkait penyebaran varian baru virus corona COVID-19, Omicron. (AP Photo/Koji Sasahara)

Dalam laporannya yang dirilis pada 30 September 2025, JAL mengatakan akan membentuk kerangka kerja konsultatif dengan pihak buruh untuk membahas cara terbaik menerapkan langkah-langkah efektif. Pasalnya, kebijakan mereka sebelumnya belum efektif mengatasi masalah yang sama.

Tim manajemen awalnya berupaya mewajibkan pilot untuk berjanji secara tertulis bahwa mereka akan menghindari masalah yang berkaitan dengan alkohol. Namun, rencana tersebut mendapat tentangan internal, menurut sumber yang mengetahui situasi tersebut.

Beberapa pilot mengatakan bahwa minum alkohol dalam batas yang diizinkan dapat membantu mereka rileks setelah penerbangan internasional yang panjang. Sementara yang lain, menganggap kebiasaan minum alkohol sebagai bagian dari cara mereka untuk mengatasi jadwal kerja yang padat ketika jumlah pilot tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan perjalanan udara yang terus meningkat.

 

Insiden Penundaan Penerbangan hingga 18 Jam

Sebuah pesawat Japan Airlines (JAL) bergerak melewati pekerjaan pemindahan, di bagian belakang, yang sedang berlangsung di lokasi tabrakan pesawat di Bandara Haneda, Tokyo, Jepang, Jumat (5/1/2024). Derek sedang membongkar pesawat Japan Airlines Penerbangan 516 Airbus A350 yang terbakar setelah menabrak pesawat penjaga pantai saat mendarat di bandara. (Kyodo News via AP)

Sebelumnya, seorang pilot JAL mengonsumsi tiga pint bir – masing-masing berukuran 568 ml – sehari sebelum penerbangannya pada 28 Agustus 2025 dari Honolulu ke Bandara Chubu di dekat Nagoya. Pada hari penerbangannya, alat tes yang digunakannya menunjukkan kandungan alkohol pada tubuhnya.

Ia mengujinya 60 kali berturut-turut dengan hasil yang sama. Ia memberi tahu perusahaan bahwa ia merasa tidak enak badan, dan mengakui bahwa ia telah minum alkohol sehari sebelumnya. 

Penerbangan yang seharusnya dioperasikan terpaksa ditunda sekitar dua jam, sementara dua penerbangan lain menuju Bandara Haneda Tokyo dari Honolulu juga ditunda selama lebih dari 18 jam. Pilot yang bermasalah itu kemudian dipecat.

Ia ditandai maskapai sebagai seseorang yang perlu diawasi ketat tujuh tahun lalu karena konsumsi alkohol. Ia berhasil lolos setelah berjanji saat itu untuk berhenti, menurut JAL. JAL juga menerima peringatan dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata, setelah beberapa pilot berusaha menyembunyikan konsumsi alkohol berlebihan sebelum penerbangan.

Terkena Serangan Siber

Pesawat Japan Airlines terlihat pada landasan di Bandara Internasional Haneda, Tokyo, Jepang, Senin (29/11/2021). Jepang mengumumkan akan menutup kembali pintunya untuk warga negara asing yang berlaku pada 30 November 2021. (AP Photo/Koji Sasahara)

Tak hanya soal pilot bermasalah, maskapai penerbangan terbesar kedua di Jepang setelah All Nippon Airways (ANA), juga sempat menghadapi serangan siber besar-besaran pada Kamis pagi, 26 Desember 2024. Serangan ini mengganggu sistem internal dan eksternal JAL, hingga menyebabkan kekacauan operasional yang memengaruhi penerbangan domestik dan internasional.

Mengutip MSN, serangan tersebut dimulai pukul 7.24 pagi waktu Tokyo. Di unggahan X, dulunya Twitter, maskapai tersebut menyatakan, "Hari ini, sejak pukul 7.24 pagi, kami telah mengalami serangan siber pada perangkat jaringan internal dan eksternal kami, yang menyebabkan masalah pada sistem yang berkomunikasi dengan sistem eksternal. Kami perkirakan hal ini akan memengaruhi penerbangan domestik dan internasional."

Meski mengakui adanya serangan, seorang juru bicara dari maskapai mengatakan pada AFP bahwa tidak ada pembaruan langsung mengenai potensi penundaan atau pembatalan penerbangan. Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber yang menargetkan perusahaan-perusahaan besar di Jepang.

Infografis Pilot Batik Air Pingsan Saat Bertugas. (Liputan6.com/Triyasni)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya