Liputan6.com, Jakarta Muhammad Zahrawi (17) santri Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, asal Bangkalan, Madura, lolos dari maut saat bangunan pondok pesantren ambruk. Dia selamat setelah sebelumnya meninggalkan shaf salat Ashar untuk ke kamar mandi.
Saat itu santri kelas 10 tersebut sudah bersiap mengikuti salat berjemaah di musala. Beberapa detik sebelum salat dimulai, dia keluar dari barisan jamaah karena ingin buang air kecil.
Advertisement
“Saya keluar shaf untuk pipis. Saat saya sampai di kamar mandi pipis, tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras dari arah musala," kata Zahrawi, Selasa (30/29).
Kesaksian Santri
Ketika dia kembali, kondisi musala sangat memilukan. Musala sudah rata dengan reruntuhan bangunan. Dia melihat jamaah yang tertimbun beton.
“Saya sempat melihat tiga orang santri MTs tertimbun reruntuhan,” kata Zahrawi.
Tragedi ini meninggalkan duka mendalam. Zahrawi, yang selamat karena alasan sederhana, mengaku tak pernah menyangka hidupnya masih diselamatkan.
“Saya masih diberi umur panjang, terima kasih Ya Allah,” ujarnya.
Menurut Zahrawi, sebelum kejadian, seorang santri yang membantu pembangunan sempat mengingatkan bahwa bangunan mulai bergerak tidak stabil. Namun informasi tersebut tak sempat sampai ke pengurus, lantaran sebagian besar tengah melaksanakan salat Ashar.
Bangunan musala yang ambruk berada di lantai satu. Musibah ini dipicu ketidakmampuan struktur menahan beban bangunan baru yang tengah dibangun hingga lantai tiga. Diduga, beban cor dan material terlalu berat sehingga lantai dasar tidak kuat menopang.
Sejumlah korban berhasil dievakuasi, sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian. Proses evakuasi diperkirakan membutuhkan waktu panjang, mengingat bangunan yang ambruk cukup besar, material berat, dan lokasi musala berada di bagian tengah kompleks pondok.
PBNU Langsung Bergerak
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan duka mendalam atas musibah runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, yang menimpa para santri.
“Kepada para wali santri kita memohon diberikan ketabahan, kita berikan penghiburan dan kita yakinkan kepada semua untuk menerima musibah ini,” ujar Gus Yahya, Selasa (30/9/2025).
NU langsung bergerak cepat begitu kabar musibah sampai. Koordinasi dilakukan bersama PCNU, lembaga layanan kesehatan seperti RS Siti Hajar, hingga pesantren sekitar.
“Di elemen NU sudah organik ya, semua elemen langsung bergerak mengambil langkah-langkah koordinasi. Dari sejumlah pesantren terdekat juga langsung datang membawa bantuan,” ujarnya.
PBNU juga terus melakukan koordinasi terkait penanganan lanjutan, mulai dari proses pencarian korban, perawatan santri di rumah sakit, hingga kebutuhan wali santri yang saat ini menunggu di lokasi.
Satu Orang Meninggal
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 100 orang santri menjadi korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Dari jumlah tersebut, 99 orang berhasil diselamatkan. Delapan orang dievakuasi tim SAR gabungan dan 91 orang melakukan evakuasi mandiri setelah kejadian. Sementara itu, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
BACA JUGA:BPBD Kerahkan Ekskavator Bantu Evakuasi Santri Korban Ponpes Al-Khoziny di Sidoarjo Ambruk "Hingga Selasa dini hari tadi, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi delapan orang korban dalam kondisi selamat dari reruntuhan," ujar Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya, Nanang Sigit, selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Selasa (30/9).
Nanang menjelaskan bahwa tujuh korban pertama ditemukan dan dievakuasi pada Senin 29 September kemarin malam. Korban pertama berhasil diselamatkan, pada Senin (29/9/2025) pukul 18.01 WIB, disusul korban kedua pada pukul 18.16 WIB. Selanjutnya, korban ketiga dievakuasi pukul 19.00 WIB, korban keempat pukul 19.16 WIB, korban kelima pukul 19.38 WIB.
"Korban keenam pukul 20.55 WIB, korban ketujuh pada pukul 22.01 WIB, dan korban kedelapan ditemukan pada pukul 01.58 WIB, dini hari tadi," ucap Nanang. “Meski menghadapi kondisi reruntuhan bangunan yang tidak stabil dan banyaknya material di lokasi, tim SAR tetap berupaya mengevakuasi korban dengan mengutamakan keselamatan,” imbuh Nanang.