Enzo Maresca dan Dilema di Sayap Kiri Chelsea: Antara Neto, Garnacho, dan Gittens

Chelsea punya tiga opsi di sayap kiri: Neto, Garnacho, dan Gittens. Tapi hanya Neto yang sejauh ini konsisten di sistem Enzo Maresca.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 29 September 2025, 14:03 WIB
Chelsea berhasil meraih kemenangan 1-0 atas FC Copenhagen pada laga leg kedua 16 besar UEFA Conference League musim ini di Stamford Bridge, Jumat (14/3/2025) dini hari WIB. Hasil itu membuat The Blues lolos ke perempat final dengan keunggulan agregat 3-1. (AFP/HENRY NICHOLLS)

Liputan6.com, Jakarta Chelsea mengawali musim ini dengan ambisi besar untuk memperkuat sisi kiri serangan mereka. Mykhailo Mudryk yang terkena sanksi doping membuat klub harus bergerak cepat mencari pengganti.

Pilihan jatuh kepada dua nama muda berbakat: Alejandro Garnacho dan Jamie Gittens. Namun, meski dibeli dengan biaya besar, keduanya belum menunjukkan performa yang diharapkan.

Dalam enam pekan pertama, baik Garnacho maupun Gittens belum mencatatkan kontribusi gol atau assist. Sementara itu, Enzo Maresca justru mempercayakan posisi sayap kiri kepada Pedro Neto, winger berpengalaman yang kini jadi andalan dalam formasi barunya.

Meski persaingan di sektor kiri terlihat sehat, Maresca masih mencari kombinasi terbaik untuk menyiasati absennya beberapa pemain kunci seperti Cole Palmer dan Liam Delap.

Situasi ini membuat sayap kiri menjadi satu-satunya area dengan pilihan melimpah di tengah badai cedera.


Filosofi Maresca dan Peran Winger

Gelandang Chelsea, Cole Palmer, hanya bermain selama 21 menit saat timnya keok 1-2 dari Manchester United pada laga pekan kelima Premier League di Old Trafford, Sabtu (20/9/2025) malam WIB. (AFP/Oli Scarff)

Dalam sistem Maresca, winger bukan hanya pemanis di sisi lapangan. Mereka menjadi poros penting untuk membuka ruang dan mempercepat transisi serangan.

“Kami menyukai winger yang kuat dalam duel satu lawan satu, agresif, dan vertikal,” ujar Maresca beberapa waktu lalu.

Ia menuntut pemain sayap untuk menjaga lebar permainan, menarik garis pertahanan lawan, dan membuka ruang bagi gelandang kreatif. Sinergi dengan full-back juga menjadi kunci, terutama di sisi kiri bersama Marc Cucurella.

Dalam konteks ini, Neto tampil paling siap. Statistiknya di Premier League mencatat rata-rata jarak carry sejauh 8 meter per aksi, salah satu yang tertinggi di liga.

Kecepatan dan kepercayaan dirinya dalam membawa bola menjadi senjata penting saat Chelsea harus membangun serangan dari bawah.


Neto: Stabilitas dan Efisiensi

Pedro Neto (Chelsea) dan Ryan Hollingshead (Los Angeles FC) berebut bola dalam laga Club World Cup Grup D di Atlanta (AP Photo/Brynn Anderson)

Neto menawarkan kestabilan. Sebagai winger kaki kiri di sisi kiri, ia lebih suka menembus hingga garis akhir dan mengirim umpan silang ketimbang memaksakan tembakan.

Gaya ini sangat membantu ketika striker utama, seperti Joao Pedro, bukanlah tipikal finisher murni.

Kehadirannya juga membantu menyeimbangkan lini depan yang kehilangan kreativitas dari Palmer. Neto mampu menjadi penggerak serangan sekaligus penyedia bola bagi pemain depan yang lebih mobile. Dalam skema serangan balik cepat, Neto menjadi motor utama.

Lanjut Baca:

Namun, tantangan bagi Maresca adalah menyiapkan opsi rotasi yang setara, karena beban Neto bisa meningkat seiring padatnya jadwal kompetisi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya