Waspada Perut Buncit, Obesitas Sentral Lebih Berbahaya daripada Gemuk di Paha

Obesitas sentral, kala lemak perut menumpuk, merupakan kondisi yang rentan mengundang penyakit lain.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 30 September 2025, 08:00 WIB
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan Vito A Damay mengungkapkan bahwa obesitas sentral merupakan kondisi yang rentan mengundang penyakit lain. Seperti penyakit jantung, sindrom metabolik, hingga diabetes.

Liputan6.com, Tangerang Selatan Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan Vito A Damay mengungkapkan bahwa obesitas sentral merupakan kondisi yang rentan mengundang penyakit lain. Seperti penyakit jantung, sindrom metabolik, hingga diabetes. 

 
 
"Sebab, penumpukan lemak di perut lebih aktif bermetabolisme, aktif mengeluarkan sel-sel peradangan, sehingga rentan mengundang penyakit lain," kata pria yang menjabat sebagai InfoComm Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu.
 
Obesitas sentral adalah kondisi kala lingkar pinggang pria di atas 90 cm dan pada wanita di atas 80 cm. Vito mengatakan bahwa lebih aman bila distribusi lemak berada di paha dibandingkan perut. 
 
"Sebenarnya pada orang yang distribusi lemaknya di paha itu jauh lebih aman dibandingkan dengan orang yang gemuknya atau distribusi lemaknya berada di perut atau disebut obesitas sentral," ungkap Vito, pada diskusi media di Hari Jantung Sedunia yang diselenggarakan Novo Nordisk Indonesia bersama PERKI dan Yayasan Jantung Indonesia (YJI), di Eastvara BSD, Kabupaten Tangerang, Minggu (28/9/2025).
 
Pada orang yang ingin mencegah obesitas sentral bisa saja mudah dilakukan dengan mengubah pola hidup. Seperti makan cukup bergizi, tidak porsi berlebih, dan rajin berolahraga.
 
"Kalau kita cukup puasa saja, diet saja begitu, bisa kurus, tapi komposisi ototnya kecil. Makanya ada yang dikenal skinny fat, badan kurus tapi punya banyak lemak, itu karena dia hanya sekedar diet tanpa latihan fisik," kata Vito.
 
 

Latihan Fisik

Latihan fisik atau olahraga secara teratur, bisa menaikan masa otot, menurunkan lemak basah menjadi kering, dan terbebas dari diabetes.

Namun, bila mau terbebas dari obesitas pada orang yang sudah terlanjur memiliki komorbid atau penyakit penyerta, maka disarankan pasien untuk lebih dulu konsultasi kepada dokter. Misalnya saja pada pasien jantung yang berjalan saja napas sudah sesak, atau pasien obesitas yang sudah lebih dari 150Kg, tidak bisa disamakan cara menurunkan berat badannya dengan orang biasa.

"Enggak bisa semua orang disamakan untuk memulai sesuatu, mungkin harus dengan pendampingan medis tertentu. Jadi, perlu terapi obat-obatan atau mungkin sampai harus operasi tertentu,"katanya.

Perubahan Gaya Hidup

Vito juga mengatakan, perubahan gaya hidup teratur, mempertahankannya dalam waktu yang lama, bisa melindungi tubuh dari berbagai serangan penyakit. Seperti obesitas, hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes dan penyakit kronis lainnya.

"Rajin berolahraga, makan tidak berlebih, batasi gula, dan berkolesterol baik, lakukan setiap hari," katanya.

Dengan begitu, ikut membantu pemerintah untuk mengurangi angka obesitas di Indonesia dan risiko penyakit jantung yang masih menjadi angka kematian nomor satu di dunia.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya