Liputan6.com, Jakarta - Transformasi digital menjadi salah satu faktor penting bagi Indonesia untuk mewujudkan visi menuju negara maju pada 2045. Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tidak hanya dipandang sebagai tren teknologi, melainkan juga mesin pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan daya saing nasional.
Untuk itu, pemerintah bersama perguruan tinggi, pelaku usaha, dan komunitas profesional terus memperkuat kolaborasi membangun ekosistem digital nasional.
Advertisement
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan AI adalah sebuah keniscayaan dan AI itu akan menjadi game changer.
“AI yang akan membawa Indonesia dari sekarang negara 16 terbesar di G20, menuju negara yang 4 besar di G20 pada tahun 2045,” ujar Airlangga saat memberikan keynote speech pada KAGAMA Leaders Forum: Indonesia Merdeka AI di Jakarta, dikutip Minggu (28/9/2025).
Dalam kesempatan tersebut, Menko Airlangga memaparkan sejumlah langkah strategis pemerintah, antara lain melalui paket kebijakan ekonomi terbaru (8+4+5) yang mencakup pengembangan digitalisasi dan program pemagangan untuk lulusan perguruan tinggi.
Program ini dirancang agar lulusan dapat segera masuk dunia kerja, dengan skema pemagangan enam bulan yang mendapat dukungan honor dari pemerintah. Pada tahap awal, program menargetkan 20 ribu peserta dan dilaksanakan dalam tiga bulan pertama, lalu dapat diperpanjang tiga bulan berikutnya.
Percepat Pembangunan AI Data Center
Selain itu, pemerintah juga mempercepat pembangunan AI Data Center di Kawasan Ekonomi Khusus Nongsa, mendorong pengembangan paket gig economy di 15 kota, serta memperluas akses digital melalui Low Earth Orbit (LEO) Satellite. Dengan satelit tersebut, sekitar 100 ribu masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau fiber optic dapat menikmati akses internet berkecepatan tinggi.
Dalam kerja sama internasional, Indonesia memimpin penyusunan ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA). Indonesia juga baru menandatangani Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang untuk pertama kalinya mencakup digital cluster. Langkah ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam ekonomi digital regional maupun global.
Indonesia pun menjadi negara pertama di ASEAN yang dinilai menggunakan UNESCO Readiness Assessment Methodology untuk mengukur kesiapan digital. Hasil penilaian tersebut menunjukkan Indonesia berada lebih maju dibandingkan banyak negara lain di kawasan, memperlihatkan keseriusan pemerintah menyiapkan infrastruktur dan ekosistem digital dalam menghadapi era AI.
Pentingnya Pembangunan SDM Digital
Menko Airlangga juga menyoroti pentingnya pembangunan SDM digital. Melalui berbagai program, termasuk kerja sama dengan negara mitra, Indonesia menargetkan mencetak 10,7 juta talenta digital hingga 2030. Kehadiran pusat pengembangan teknologi serta akses pendidikan vokasi di bidang digital diharapkan memperkuat kesiapan generasi muda menghadapi era kecerdasan buatan.
“Next engine of growth itu harus sumber daya manusia dan digitalisasi, baru kita bisa menyusul kemajuan yang ada di Jepang, yang ada di Korea, yang ada di Cina. Itulah yang membuat kita nanti menjadi lima besar ekonomi di 2045,” tutur Menko Airlangga.
Agenda tersebut juga dihadiri Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nesar Patria, Rektor Universitas Gajah Mada Ova Emilia, Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Ketua Harian PP Kagama Budi Karya Sumadi, Direktur Utama LPP RRI I Hendrasmo, Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyastika Ananta, serta sejumlah pimpinan perusahaan.