Emiten MDKA Kantongi Pendapatan USD 854,59 Juta hingga Semester I 2025

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) catat pendapatan turun 21,87% dan laba susut 59,59% hingga semester I 2025.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 27 September 2025, 06:00 WIB
Tambang PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (Foto: Merdeka Copper Gold)

Liputan6.com, Jakarta - PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) alami penurunan pendapatan dan laba periode berjalan hingga Juni 2025.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (27/9/2025), PT Merdeka Copper Gold Tbk mencatat pendapatan USD 854,59 juta hingga Juni 2025, turun 21,87%. Pada periode sama tahun sebelumnya, Perseroan mencatat pendapatan USD 1,09 miliar.

Perseroan menyebutkan kinerja pendapatan didukung kinerja emas yang solid dengan kenaikan penjualan sebesar 15% menjadi 59.535 ounce. Selain itu, kenaikan produksi bijih nikel sebesar 78% menjadi 6,9 juta ton yang menghasilkan peningkatan penjualan 32%, walaupun produksi Nickel Pig Iron (NPI) menurun akibat pemeliharaan smelter terjadwal dan pengurangan strategis produksi High Grade Nickel Matte (HGNM).

Perseroan juga mencatat earning before interest, tax, depreciation and amortization (Ebitda) sebesar USD 176 juta, naik 18% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu didukung oleh penjualan emas dan bijih nikel tertinggi. Demikian seperti dikutip dari keterangan resmi Perseroan.

Adapun beban pokok pendapatan turun 25,51% menjadi USD 748,64 juta dari periode sama tahun sebelumnya USD 1 miliar. Seiring kinerja itu,  Perseroan membukukan laba kotor sebesar USD 105,95 juta hingga 30 Juni 2025, naik 19,4% dari periode sama tahun sebelumnya USD 880,70 juta.

Laba usaha menguat 26,88% menjadi USD 78,88 juta hingga semester I 2025. Pada periode sama tahun lalu, Perseroan membukukan laba usaha USD 62,17 juta.

Namun, Perseroan mencatat laba periode berjalan USD 8,29 juta hingga semester I 2025, turun 59,59% dari periode sama tahun sebelumnya USD 20,53 juta.

 

Biaya Keuangan Lebih Tinggi

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). (Foto: Merdeka Copper Gold)

Perseroan menyebutkan, hal itu terbebani oleh biaya keuangan yang lebih tinggi akibat kenaikan utang, kenaikan pajak, serta kontribusi yang lebih rendah dari HGNM dan NPI. Namun, secara keseluruhan kinerja operasional tetap kuat berkat kontribusi emas dan bijih nikel.

Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk  Albert Saputro menuturkan, operasi emas Perseroan menjadi pendorong utama kinerja Merdeka yang kuat, gabungan dari produksi yang sesuai target dan harga emas yang tinggi.

Kinerja ini, yang ditambah pengelolaan biaya yang disiplin, memungkinkan pertumbuhan EBITDA meskipun operasi nikel mengalami penyesuaian sementara.”

Merdeka juga mencatat kemajuan signifikan pada proyek-proyek strategis. Proyek Emas Pani tetap sesuai jadwal dengan kemajuan mencapai 67% pada akhir Kuartal II 2025.

 

Proyek Utama

Rekayasa detail dan pengadaan telah selesai, dengan kontraktor di lokasi mulai memasang infrastruktur pengolahan dan kelistrikan. Fasilitas pelabuhan sudah beroperasi dan pembangunan tangki penyimpanan bahan bakar telah selesai.

 Proses komisioning untuk heap leach ditargetkan dimulai akhir 2025 dengan rencana produksi emas pertama pada kuartal I 2026.

Proyek-proyek utama operasi nikel juga berjalan sesuai rencana, dengan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) mengoperasikan fasilitas Acid Iron Metal (AIM), yang terdiri dari pabrik pirit, asam, logam klorida, dan katoda tembaga. Pabrik pirit dan asam telah beroperasi pada kapasitas penuh, sedangkan dua pabrik lainnya ditargetkan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2025.

Proyek Berjalan Sesuai Rencana

 Pada pengembangan HPAL, PT ESG New Energy Material (PT ESG), pabrik pengolahan HPAL dengan kapasitas 30.000 ton per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP”)— menjual 9.465 ton nikel dalam MHP selama paruh pertama 2025 melalui operasi Train A, sementara Train B mulai berproduksi pada akhir Kuartal II 2025.

Pabrik HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (“SLNC”), dengan kapasitas 90.000 ton per tahun nikel dalam MHP ditargetkan komisioning pada train pertama pada pertengahan 2026.

Albert Saputro menuturkan, kinerja  ini menunjukkan kekuatan portofolio yang terdiversifikasi. Proyek Emas Pani diproyeksikan untuk mulai berproduksi pada awal 2026 dan akan menambah basis produksi jangka panjang, sementara bisnis nikel kami berada dalam posisi untuk pemulihan yang kuat setelah pemeliharaan terjadwal dan fasilitas HPAL mulai beroperasi.

“Yang terpenting, proyek-proyek pertumbuhan strategis kami berjalan sesuai rencana dan akan memperkuat peran Merdeka dalam mendukung transisi energi Indonesia,” kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya