Dolar AS Stabil terhadap Euro hingga Poundsterling Jelang Akhir Pekan

Berikut pergerakan dolar Amerika Serikat (USD) terhadap mata uang utama lainnya. Investor menanti data ekonomi AS.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 26 September 2025, 19:31 WIB
Teller menunjukkan mata uang dolar di Bank Mandiri, Jakarta. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) stabil terhadap euro dan poundsterling pada Jumat, (26/9/2025). Hal ini di tengah investor menanti data belanja konsumen AS setelah angka pertumbuhan lebih baik dari perkiraan meredam ekspektasi pelonggaran lebih lanjut oleh bank sentral AS atau the Federal Reserve pada 2025.

Mengutip CNBC, euro bertahan di dekat level terendah dalam tiga minggu di USD 1,1669. Sedangkan poundsterling stagnan di USD 1,3347 setelah menyentuh level terendah hampir dua bulan pada perdagangan Kamis pekan ini.

Di sisi lain, yen diperdagangkan pada level terendah dalam delapan minggu menyusul serangkaian tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif 100% untuk obat-obatan bermerek, 25% untuk truk dan 50% untuk lemari dapur.

Di sisi lain, saham-saham perusahaan farmasi terbesar di Eropa stabil setelah turun pada awal sesi perdagangan. Analis menunjukkan pengecualiaan bagi perusahaan yang mendirikan fasilitas manufaktur di AS seperti Roche dan Novo Nordisk yang tidak akan terlalu terdampak tarif.

"Tidak mengherankan melihat reaksi teredam dalam mata uang karena pasar telah melalui beberapa putaran ini dan cenderung melihat pengumuman tersebut lebih sebagai posisi negosiasi yang sedang dibentuk oleh Gedung Putih,” ujar Head of Macro Research Monex Europe, Nick Rees.

 

Indeks Dolar AS Menguat

Petugas menghitung pecahan 100 dolar AS di jasa penukaran uang, Melawai, Jakarta, Rabu (28/9/2022). Nilai tukar rupiah tembus Rp15.236 per dolar AS pukul 10.41 WIB pada perdagangan Rabu (28/9/2022). (Liputan6.com/Johan Tallo)

Selain itu, kesepakatan perdagangan bilateral yang dicapai berbagai negara dengan pemerintahan Trump tidak se-disruptif yang dikhawatirkan sebelumnya. "Hal ini semakin meredakan sensitivitas pasar,” kata dia.

Indeks dolar AS yang mengukur dolar AS terhadap mata uang utama siap untuk kenaikan mingguan terbesarnya dalam dua bulan setelah angka-angka pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, klaim pengangguran, barang tahan lama dan inventaris grosir melampaui harapan pada perdagangan Kamis pekan ini.

Perhatian kini tertuju pada rilis data belanja konsumen AS pada Jumat malam untuk sinyal lebih lanjut tentang betapa mendesaknya perekonomian membutuhkan stimulus tambahan dari The Fed.

 

 

Sentimen Suku Bunga The Fed

Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell berbicara dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu, 17 September 2025, di Gedung Dewan Federal Reserve di Washington. (Foto AP/Jacquelyn Martin)

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 12% The Fed mempertahankan suku bunga bulan depan, sedikit naik dari 8,1% sehari sebelumnya, menurut CME FedWatch Tool. Pelonggaran kebijakan kumulatif yang diperkirakan pada akhir tahun juga telah turun di bawah 40 basis poin.

Departemen Perdagangan melaporkan pada Kamis produk domestik bruto AS naik dengan tingkat revisi naik sebesar 3,8% dari April hingga Juni, lebih tinggi dari 3,3% yang dilaporkan sebelumnya. Ekonom yang disurvei oleh Reuters tidak memperkirakan tingkat tersebut akan direvisi.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Jumat, ukuran inflasi yang disukai The Fed akan menunjukkan peningkatan 0,3% secara bulanan untuk bulan Agustus dan kenaikan 2,7% secara tahunan, menurut jajak pendapat Reuters.

 

Data Inflasi AS

Seorang wanita bergegas ke terminal setelah diturunkan di Bandara Internasional Los Angeles, Los Angeles, Amerika Serikat, 19 Desember 2022. Liburan Natal dan Tahun Baru bagi sebagian warga Amerika Serikat dan Eropa tahun ini menghadirkan kekhawatiran karena tekanan ekonomi. (AP Photo/Jae C. Hong)

"Di saat anggota The Fed khawatir tentang inflasi yang tinggi, kami pikir laporan seperti itu akan menggembirakan," kata Ekonom senior di ANZ, Bansi Madhavani.

"Asalkan data inflasi bulanan menunjukkan tren inflasi tetap terjaga,” ia menambahkan.

"Kami berharap The Fed dapat terus melonggarkan kebijakan moneternya secara bertahap sebesar 25 basis poin,”

Di Jepang, di mana bank sentral sedang berada dalam siklus pengetatan, data menunjukkan inflasi inti pada September untuk Tokyo tetap jauh di atas target bank sentral sebesar 2%, sehingga menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat tetap hidup.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya