Iran Disebut Bangun Kembali Situs Rudal Pasca Serangan Israel

Misi Iran untuk PBB belum mengonfirmasi upaya membangun kembali program rudal ini.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 25 September 2025, 09:12 WIB
Gambar satelit yang disediakan Planet Labs PBC menunjukkan fasilitas pembuatan bahan bakar rudal padat di sekitar Shahroud, Iran, usai serangan Israel pada 25 Juni 2025. (Dok. Planet Labs PBC via AP) 

Liputan6.com, Teheran - Iran telah mulai membangun kembali lokasi produksi rudal yang menjadi sasaran Israel selama serangan 12 hari pada bulan Juni. Demikian menurut citra satelit yang dianalisis Associated Press. Namun, satu komponen kunci kemungkinan masih belum tersedia, yaitu mesin pencampur besar yang dibutuhkan untuk memproduksi bahan bakar padat rudal.

Para pakar rudal mengatakan kepada Associated Press bahwa Teheran menargetkan untuk mendapatkan kembali mesin pencampur tersebut, terutama karena negara itu tengah bersiap menghadapi kemungkinan diberlakukannya kembali sanksi PBB akhir bulan ini. Sanksi itu akan menghukum setiap upaya pengembangan program rudal, selain juga mencakup langkah-langkah lain.

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada hari Rabu (24/9/2025), Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding serangan Israel dan pengeboman terpisah oleh Amerika Serikat (AS) terhadap lokasi nuklir Iran, memberikan pukulan berat terhadap proses negosiasi perdamaian.

Mesin ini dikenal sebagai planetary mixer. Bilahnya berputar mengelilingi titik pusat layaknya planet mengorbit, sehingga mampu mencampur bahan dengan lebih merata dibandingkan jenis mesin pencampur lain. Menurut para pakar dan pejabat AS, Iran bisa mendapatkannya dari China — negara tempat mereka sebelumnya pernah membeli bahan bakar rudal dan komponen lain.

"Kalau mereka mampu mendapatkan kembali beberapa hal penting seperti planetary mixer maka infrastruktur itu masih ada dan siap dijalankan lagi," kata Sam Lair, peneliti di James Martin Center for Nonproliferation Studies yang mempelajari lokasi rudal Iran.

 

Pakar: Produksi Massal Rudal Tergantung Proses Pencampuran

Rudal berbahan bakar padat dapat diluncurkan lebih cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair, karena rudal berbahan bakar cair harus diisi bahan bakarnya tepat sebelum ditembakkan. Perbedaan kecepatan ini bisa menjadi faktor penentu: apakah rudal sempat diluncurkan, atau justru hancur terlebih dahulu di peluncurnya.

Iran memiliki fasilitas produksi rudal berbahan bakar padat di Khojir dan Parchin, yang terletak di pinggiran Teheran, serta di Shahroud, sekitar 350 kilometer timur laut dari ibu kota. Bahkan sebelum eskalasi terbaru pecah, ketiga lokasi itu sudah menjadi sasaran Israel pada Oktober 2024.

Serangan pada Juni diyakini ditujukan untuk menghancurkan bangunan yang menampung mesin pencampur, yang dibutuhkan untuk memastikan bahan bakar rudal tercampur rata. Lokasi lain yang diserang Israel termasuk fasilitas manufaktur yang kemungkinan bisa digunakan untuk membuat mesin pencampur.

Citra satelit dari Planet Labs PBC yang diambil bulan ini dan dianalisis Associated Press menunjukkan adanya konstruksi di fasilitas Parchin dan Shahroud.

Di Parchin, bangunan pencampur tampak sedang diperbaiki, kata Lair, dan pembangunan serupa berlangsung pula di Shahroud pada bangunan pencampur serta struktur lain.

Kecepatan Iran dalam membangun kembali menunjukkan betapa pentingnya program rudal. Lokasi nuklir yang dibom sejauh ini belum menunjukkan aktivitas serupa.

Menurut Jewish Institute for National Security of America, lembaga think tank berbasis di Washington yang dekat dengan militer Israel, Iran menembakkan 574 rudal balistik ke Israel pada bulan Juni. Lembaga itu turut mencatat bahwa dalam dua kali baku tembak sebelum serangan pada Juni, Iran meluncurkan 330 rudal lainnya.

Militer Israel memperkirakan total persenjataan rudal Iran sekitar 2.500 unit, artinya lebih dari sepertiganya sudah ditembakkan.

Carl Parkin, peneliti tamu di James Martin Center, memperkirakan bahwa sebelum perang Iran mampu memproduksi lebih dari 200 rudal berbahan bakar padat setiap bulan.

Menurutnya, serangan yang dilakukan Israel menunjukkan bahwa mereka menganggap tahap pencampuran merupakan titik lemah dalam produksi rudal Iran. Jika Iran berhasil mengatasi kendala pada tahap pencampuran maka mereka bisa memanfaatkan sepenuhnya kapasitas pengisian bahan bakar padat ke roket yang sudah tersedia untuk kembali memproduksi rudal dalam jumlah besar.

Militer Israel menolak menjawab pertanyaan mengenai strateginya. Menteri Pertahanan Iran Jenderal Aziz Nasirzadeh baru-baru ini mengklaim bahwa Iran kini memiliki rudal baru dengan hulu ledak lebih canggih.

"Perang 12 hari dengan Israel telah mengubah sebagian prioritas kami," terang Nasirzadeh pada 22 Agustus. "Sekarang kami fokus pada produksi perlengkapan militer dengan presisi lebih tinggi dan kemampuan operasional yang lebih besar."

Analis: Hubungan dengan China Bisa Perkuat Iran

Kementerian Luar Negeri China ketika ditanya mengenai kemungkinan memasok mesin pencampur dan bahan kimia guna membuat bahan bakar padat ke Iran, mengatakan kepada Associated Press bahwa pihaknya bersedia terus memanfaatkan pengaruhnya untuk berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah.

"China mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan nasional, keamanan, dan martabat nasionalnya," kata kementerian itu. "Pada saat yang sama, China sangat prihatin dengan meningkatnya eskalasi ketegangan di Timur Tengah."

Can Kasapoglu, peneliti senior di Hudson Institute yang berbasis di Washington, mengatakan China juga bisa memasok sistem pemandu dan mikroprosesor untuk rudal balistik Iran.

"Jika Iran memanfaatkan hubungannya dengan China untuk memperkuat kemampuan militernya yang mengganggu, perang 12 hari itu bisa jadi hanya hambatan kecil bagi rezim Iran, bukannya kekalahan telak," tulisnya.

Lair menambahkan, jika Iran mampu kembali memproduksi rudal sebanyak sebelum perang maka jumlah rudal yang dihasilkan akan begitu besar sehingga Israel akan semakin kesulitan untuk menghancurkannya lebih dulu melalui serangan pre-emptive ataupun untuk menembaknya jatuh setelah diluncurkan.

"Iran begitu serius dengan program rudalnya, dan menurut saya, mereka tidak akan pernah mau menjadikannya bahan negosiasi," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya