Jaga Lingkungan, Masyarakat Tuban Jatim Mulai Lakukan Gerakan Pemilahan Sampah dari Rumah

Warga masyarakat di RT 8 RW 4, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, Jawa Timur mulai melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.

oleh Tim NewsDiperbarui 24 September 2025, 23:47 WIB
Warga masyarakat di RT 8 RW 4, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, Jawa Timur mulai melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini masyarakat di Indonesia mulai memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Salah satu yang mulai melakukan perubahan adalah warga masyarakat di RT 8 RW 4, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, Jawa Timur, di mana, mereka bersama-sama memulai langkah kecil yang berdampak besar dengan melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga.

Kawasan ini dipilih lokasi percontohan (pilot project) dari Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) melalui tim Penguatan Peran Aktif Masyarakat (PPAM), yang bertugas mengkampanyekan agar masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

Langkah ini sejalan dengan arahan sistem pengelolaan sampah nasional, yang menekankan pentingnya perubahan perilaku sejak dari tingkat rumah tangga.

Hal tersebut seperti disampaikan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (Sekretaris DLHP) Tuban Edi Sunarto.

"Warga RT 8 RW 4 Latsari termasuk lingkungan yang berhasil membuktikan bahwa membangun budaya dalam pengelolaan sampah bukanlah sesuatu yang mustahil," ujar Edi, melalui keterangan tertulis, Rabu (24/9/2025).

Di sini, lanjut dia, warga mampu menerapkan pemilahan sampah dengan disiplin, menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari.

"Program ISWMP hadir di Kabupaten Tuban, tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membenahi sistem layanan dari hulu hingga hilir," ucap Edi.

Dia menjelaskan, implementasi ISWMP fokus pada lima pilar utama yakni pertama penyusunan dan penetapan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Sampah (RISPS) serta penguatan regulasi lewat Peraturan Daerah dan Peraturan Kepala Daerah.

"Kedua, peningkatan peran aktif masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Ketiga, penguatan kelembagaan pengelolaan sampah agar lebih efektif," terang Edi.

"Keempat, pengembangan mekanisme pendanaan dan sistem penarikan retribusi pengelolaan sampah. Serta kelima, dukungan pendanaan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berteknologi tinggi," sambung dia.

 

Dari Sosialisasi ke Aksi

Warga masyarakat di RT 8 RW 4, Kelurahan Latsari, Kecamatan Tuban, Jawa Timur mulai melakukan pemilahan sampah dari rumah tangga. (Ist)

Menurut Edi, keberhasilan pengelolaan sampah sangat bergantung pada perubahan perilaku dan keterlibatan aktif masyarakat.

Karena itu, kata dia, ISWMP tidak hanya menekankan aspek teknis dan kelembagaan, tetapi juga mendorong transformasi sosial melalui edukasi dan aksi nyata di tingkat akar rumput.

Dia menyebut, program ini diawali dengan serangkaian sosialisasi sejak bulan Desember 2024, yang melibatkan berbagai instansi terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Perhubungan Kabupaten Tuban, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan.

Serta, kata Edi, mendapat dukungan penuh dari Kelurahan Latsari dan Kecamatan Tuban. Edukasi dilakukan secara langsung kepada warga, dengan fokus pada pentingnya memilah sampah dari sumber serta cara praktis penerapannya di rumah.

"Melalui kerjasama kolaboratif antar stakeholder, warga di RT 08 RW 04 Kelurahan Latsari menerima fasilitas pendukung berupa tempat sampah terpilah, komposter, timbangan, hingga leaflet edukasi," terang dia.

Edi mengatakan, petugas dan kader lingkungan juga turut mendampingi warga dalam proses pemilahan, penimbangan, hingga pencatatan sampah setiap hari, untuk memastikan kebiasaan baru ini berjalan secara konsisten.

"Metode pemilahan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sampah organik (sisa makanan, daun, ranting), sampah anorganik (plastik, kertas, logam), dan sampah B3 (baterai, lampu, botol spray). Pemilahan yang telah dilakukan di rumah, selanjutnya diambil oleh petugas sesuai jadwal yang telah disepakati," ucap dia.

"Kami berharap kegiatan serupa dapat terus berkembang, melibatkan lebih banyak komunitas guna menumbuhkan kepedulian masalah sampah," sambung Edi.

Kemudian, Asisten Pemerintah dan Kesra Sekda Tuban Masyuhudi menyampaikan apresiasi kepada BPBPJ Jawa Timur atas sinergi yang terjalin.

"Dukungan ini semakin memperkuat langkah Tuban menuju pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan. Gerakan ini bukan sekedar seremonial, tetapi ajakan nyata agar masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari rumah," tegasnya.

Kisah di Balik Gerakan

Sementara itu, Ketua RT 8 Hery Kurniawan menjadi motor penggerak perubahan perilaku warganya. Hery memiliki latar belakang dibidang manajemen lingkungan dan pengalaman panjang bekerja di PT Semen Indonesia dan memahami tantangan sekaligus peluang dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas.

Ia pun menerapkan pendekatan ekopedagogi, metode pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan lingkungan dengan praktik nyata, untuk memberdayakan warga di lingkungannya.

Dibawah kepemimpinannya, rapat bulanan RT bukan lagi sekadar forum administrasi, melainkan ruang belajar dan diskusi bersama. Hery rutin melakukan edukasi dari rumah ke rumah, membimbing warga memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi kompos, dan memanfaatkan lahan sempit untuk menanam sayuran.

Ia juga menggagas pembangunan fasilitas komunal seperti kolam ikan yang memanfaatkan air sisa rumah tangga, serta komposter skala RT untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk bagi kebun warga.

"Keberhasilan ini tak lepas dari dukungan penuh masyarakat. Warga mau membuka diri, belajar, dan ikut terlibat dalam setiap kegiatan, mulai dari pemilahan sampah, menjaga kebersihan lingkungan, hingga berbagi ide untuk pengembangan program," kata Hery.

Dia menyebut, sinergi antara pemimpin yang sadar akan pentingnya lingkungan dan masyarakat yang mau berkolaborasi menjadi bukti bahwa sistem pengelolaan sampah yang baik dan benar bisa diwujudkan tanpa harus menunggu program besar dari luar

"Harapannya, model seperti ini tidak berhenti di satu RT atau satu kelurahan saja. Jika diterapkan di tingkat yang lebih luas, bahkan hingga skala kota, dengan dukungan kebijakan dan fasilitas yang memadai, pola pengelolaan berbasis kolaborasi ini berpotensi menciptakan sistem persampahan yang lebih baik, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi lingkungan maupun kesejahteraan warga," ucap Hery.

Infografis  Siklus Hidup Sampah Botol Plastik    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya